MUSUH DALAM SELIMUT
Sejak kedatangan pacar Raka beberapa hari lalu, rumah keluarga Omen terasa sedikit berbeda.
Bukan karena rumah menjadi lebih rapi.
Bukan pula karena Bimo tiba-tiba berubah menjadi anak pendiam.
Justru sebaliknya.
Bimo semakin sering membicarakan satu hal:
“Raka sudah punya calon istri.”
Setiap kali Raka mendengar kalimat itu, ia langsung menjawab:
“Belum tentu!”
Namun Bimo selalu punya jawaban.
“Kalau belum tentu, kenapa kemarin sampai foto keluarga?”
Raka tidak bisa membalas.
Rino biasanya hanya tertawa melihat keduanya.
Bu Nina pun diam-diam merasa senang. Ia melihat hubungan Raka semakin serius.
Pak Omen juga mulai berpikir tentang masa depan anaknya.
Tetapi di balik suasana yang mulai hangat itu, ada satu masalah kecil yang tidak mereka sadari.
Masalah yang nantinya akan membuat rumah itu kembali menjadi arena perang.
Dan semuanya bermula dari sebuah amplop kecil.
AMPL0P YANG HILANG
Pagi itu Pak Omen menerima sebuah amplop dari teman lamanya.
Amplop itu berisi beberapa dokumen penting berkaitan dengan pekerjaan.
Pak Omen masuk ke rumah sambil membawa amplop tersebut.
“Bu, simpan sebentar.”
Bu Nina yang sedang memasak menjawab dari dapur.
“Simpan di mana?”
“Di meja saja.”
Pak Omen meletakkannya di meja ruang tengah.
Kemudian ia pergi mengambil minum.
Lima menit kemudian, Bimo datang.
Ia melihat amplop.
“Ini apa?”
Tidak ada yang menjawab.
Bimo mengambilnya.
Ia membolak-balik.
Tidak ada nama.
Tidak ada tulisan.
“Rahasia,” gumamnya.
Kemudian ia meletakkan amplop itu kembali.
Atau setidaknya...
begitulah yang ia kira.
Karena beberapa menit kemudian, ketika Pak Omen kembali ke ruang tengah, amplop itu sudah tidak ada.
Pak Omen mengerutkan kening.
“Bu?”
Bu Nina keluar dari dapur.
“Apa?”
“Amplop tadi mana?”
“Amplop apa?”
“Yang di meja.”
Bu Nina melihat meja.
Kosong.
“Bukannya Mas yang simpan?”
“Tidak. Tadi Mas taruh di sini.”
Bu Nina mengernyit.
“Anak-anak?”
Pak Omen memanggil:
“Raka!”
Tidak ada jawaban.
“Rino!”
Tidak ada jawaban.
“Bimo!”
Dari kamar terdengar suara:
“Iya!”
“Ke sini!”
Bimo muncul.
“Apa?”
Pak Omen bertanya:
“Kamu lihat amplop Ayah?”
Bimo berpikir.
“Amplop?”
“Iya.”
“Yang putih?”
Pak Omen langsung menunjuk.
“Nah! Kamu lihat?”
Bimo mengangguk.
“Tadi ada.”
“Sekarang mana?”
Bimo terdiam.
“Enggak tahu.”
Pak Omen mulai curiga.
“Kamu tidak ambil?”
“Tidak.”
Bu Nina menatap Bimo.
“Jujur.”
“Aku jujur.”
Raka keluar kamar.
“Ada apa?”
Pak Omen menjawab:
“Amplop Ayah hilang.”
Raka langsung melihat Bimo.
Bimo tersinggung.
“Kenapa lihat aku?”
“Karena tadi kamu bilang melihatnya.”
“Melihat bukan berarti mengambil.”
Rino ikut keluar.
“Ada apa?”
Pak Omen menjelaskan.
Rino melihat meja.
Kemudian melihat semua orang.
“Jangan-jangan ada yang memindahkan.”
Pak Omen menggeleng.
“Tidak ada yang masuk rumah.”
Bu Nina berkata:
“Berarti salah satu dari kita yang ambil.”
Suasana mendadak berubah.
Kecurigaan PERTAMA
Raka melihat Rino.
Rino melihat Raka.
Bimo melihat keduanya.
Pak Omen melihat semua anaknya.
Bu Nina menyilangkan tangan.
“Siapa yang terakhir berada di ruang tengah?”
Bimo menjawab cepat:
“Aku.”
Semua menoleh.
Bimo langsung panik.
“Tapi aku tidak mengambil!”
Raka bertanya:
“Kamu pegang?”
“Cuma lihat.”
“Terus?”
“Aku taruh lagi.”
“Di mana?”
Bimo menunjuk meja.
“Di situ.”
Pak Omen menggeleng.
“Tidak ada.”
Rino tiba-tiba berkata:
“Tunggu.”
Semua menoleh.
“Kalau Bimo melihat amplop, berarti setelah Bimo pergi, masih ada orang lain yang masuk.”
Bimo menunjuk Rino.
“Jangan-jangan kamu.”
Rino terkejut.
“Aku?”
“Iya.”
“Kenapa aku?”
“Karena kamu yang paling tenang.”
Rino tertawa.
“Justru karena aku tidak panik.”
Bimo menjawab:
“Orang yang tidak panik biasanya mencurigakan.”
Rino menatapnya.
“Logikamu dari mana?”
“Dari film.”
Pak Omen memijat kepala.
“Jangan gunakan film untuk menyelesaikan masalah keluarga.”
RAPAT BERUBAH MENJADI SIDANG
Bu Nina akhirnya berkata:
“Sudah. Kita cari bersama.”
Mereka mulai mencari.
Di bawah sofa.
Di atas lemari.
Di kamar.
Di dapur.
Bahkan Bimo memeriksa kulkas.
Raka melihatnya.
“Kenapa dicari di kulkas?”
“Siapa tahu.”
“Amplop bisa masuk kulkas?”
“Kalau orang yang menyimpannya lapar.”
Rino tertawa.
Pak Omen menggeleng.
“Ini keluarga macam apa?”
Bu Nina menjawab:
“Yang setiap masalah selalu menjadi lebih besar.”
Akhirnya mereka duduk kembali.