KERINGAT UNTUK MEMAAFKAN
Pagi itu rumah keluarga Omen terasa berbeda.
Bukan karena ada masalah.
Bukan pula karena ada yang kehilangan barang.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, tidak terdengar suara Bimo berteriak dari kamar.
Tidak terdengar Rino mengeluh.
Tidak terdengar Bu Nina memanggil anak-anak untuk sarapan.
Bahkan Pak Omen yang biasanya paling pagi membuat kopi hanya duduk diam di teras.
Sejak kejadian amplop yang hilang, suasana rumah memang sudah kembali normal.
Tetapi sebenarnya belum sepenuhnya.
Rino dan Bimo sudah berdamai.
Raka juga sudah tidak marah.
Namun masih ada sesuatu yang terasa menggantung.
Sesuatu yang tidak terlihat, tetapi terasa.
Perasaan tidak enak.
Masing-masing masih mengingat bagaimana mereka sempat saling mencurigai.
Bagaimana suara meninggi.
Bagaimana sebuah amplop yang akhirnya ditemukan di bawah sofa hampir membuat satu keluarga pecah menjadi beberapa kubu.
Pagi itu, Raka keluar membawa dua gelas air.
Ia melihat Bimo duduk di teras.
“Tumben diam.”
Bimo menoleh.
“Lagi mikir.”
“Berat?”
“Lumayan.”
Raka duduk di sebelahnya.
“Mikir apa?”
Bimo menghela napas.
“Kayaknya kita perlu melakukan sesuatu.”
“Contohnya?”
“Olahraga.”
Raka langsung tertawa.
“Olahraga?”
“Iya.”
“Kenapa olahraga?”
Bimo menjawab serius.
“Karena kalau kita capek, kita tidak punya tenaga untuk bertengkar.”
Raka terdiam.
Kemudian tertawa.
“Logikamu aneh.”
“Tapi masuk akal.”
Raka mengangguk.
“Lumayan.”
Dari dalam rumah, Rino mendengar percakapan mereka.
Ia keluar.
“Olahraga apa?”
Bimo langsung menjawab:
“Lari.”
Rino mengernyit.
“Lari ke mana?”
“Lapangan.”
“Kenapa harus lari?”
Bimo menunjuk Raka.
“Biar dia tidak terlalu banyak mikir.”
Raka menunjuk Bimo.
“Justru kamu yang perlu olahraga.”
Rino tertawa.
“Kalau begitu aku ikut.”
Tidak lama kemudian Pak Omen keluar.
“Ada apa?”
Rino menjawab:
“Kami mau olahraga.”
Pak Omen terdiam.
“Siapa yang menyuruh?”
“Tidak ada.”
Pak Omen mengangguk.
“Bagus.”
Bimo langsung berkata:
“Ayah ikut.”
Pak Omen menunjuk dirinya sendiri.
“Ayah?”
“Iya.”
Pak Omen melihat perutnya.
Kemudian melihat anak-anak.
“Kenapa Ayah?”
“Biar sehat.”
Pak Omen berpikir.
“Boleh.”
Bu Nina yang baru keluar membawa sapu langsung menyelak:
“Kalau olahraga, Ibu ikut.”
Semua menoleh.
Bimo tersenyum.
“Lengkap.”
Bu Nina curiga.
“Kenapa kamu tersenyum begitu?”
“Tidak apa-apa.”
“Jangan ada rencana aneh.”
Bimo menggeleng.
“Tidak ada.”
Rino berbisik kepada Raka:
“Kalau Bimo bilang tidak ada, biasanya ada.”
PASUKAN KELUARGA OMEN
Setengah jam kemudian, halaman rumah sudah berubah seperti tempat persiapan lomba tujuh belas Agustus.
Pak Omen memakai celana olahraga lama.
Rino memakai kaus.
Bimo memakai sepatu yang entah sudah berapa tahun tidak digunakan.
Bu Nina membawa handuk.
Raka berdiri di depan mereka.
“Sudah siap?”
“Siap!” jawab Bimo.
Rino mengangguk.
Pak Omen mengangkat tangan.
“Siap.”
Bu Nina berkata:
“Jangan terlalu jauh. Nanti ada yang pingsan.”
Bimo tertawa.
“Siapa?”
Bu Nina menunjuk Pak Omen.
Pak Omen langsung protes.
“Kenapa Ayah?”
“Karena Ayah paling tua.”
Pak Omen mengangguk.
“Kalau begitu Ibu juga.”
Bu Nina melotot.
“Mas!”
Pak Omen tertawa.
“Bercanda.”
Mereka akhirnya berangkat menuju lapangan.
TANTANGAN PERTAMA: PEMANASAN
Sesampainya di lapangan, Bimo langsung berlari.
Rino memanggil:
“Pemanasan dulu!”
Bimo berhenti.
“Oh iya.”
Raka menggeleng.
“Jangan langsung lari.”
Mereka mulai melakukan pemanasan.
Raka memimpin.
“Angkat tangan.”
Semua mengangkat tangan.
“Putar bahu.”
Semua mengikuti.
“Putar badan.”
Semua bergerak.
“Tekuk lutut.”
Pak Omen berhenti.
“Ayah tidak bisa.”
Bimo menoleh.
“Kenapa?”
“Lutut Ayah sedang rapat.”
Rino tertawa.
“Lutut bisa rapat?”
Pak Omen menjawab:
“Bisa. Lagi membahas masa depan.”
Bu Nina tertawa.
Raka menggeleng.
“Sudah, Yah. Pelan-pelan.”
Beberapa orang yang sedang berolahraga di sekitar lapangan ikut tersenyum melihat keluarga itu.
MUNCULNYA PACAR RAKA
Ketika mereka sedang melakukan pemanasan, tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
“Pagi.”
Raka menoleh.
Ia terkejut.
“Kamu?”
Pacarnya tersenyum.
“Iya.”
Bimo langsung menyenggol Rino.
“Calon kakak ipar datang.”
Raka melotot.
“Bimo.”
Pacarnya tertawa.
“Saya dengar kalian mau olahraga.”
Raka mengangguk.
“Iya.”
“Boleh ikut?”
Bu Nina langsung tersenyum.
“Tentu.”
Pak Omen mengangguk.