PERPISAHAN DENGAN AYAH
Pagi setelah olahraga keluarga, rumah Omen kembali seperti biasa.
Bimo mengeluh kakinya pegal.
Rino mengaku tidak pegal, tetapi berjalan seperti robot.
Raka masih merasakan nyeri di lututnya.
Bu Nina sibuk menyiapkan sarapan.
Sementara Pak Omen duduk di teras sambil menikmati kopi.
Namun pagi itu ada sesuatu yang berbeda.
Pak Omen tampak lebih banyak diam.
Biasanya ia orang pertama yang membuat lelucon.
Pagi itu, kopinya sudah hampir habis, tetapi ia masih memegang cangkir yang sama.
Ia memandang jalan di depan rumah.
Sesekali melihat ponselnya.
Kemudian memasukkannya kembali ke saku.
Lima menit kemudian ia mengambilnya lagi.
Bimo yang memperhatikan dari balik pintu akhirnya keluar.
“Ayah.”
Pak Omen menoleh.
“Apa?”
“Kenapa dari tadi lihat HP?”
“Tidak apa-apa.”
“Menunggu pesan?”
Pak Omen tersenyum.
“Bukan.”
“Menunggu transfer?”
“Bukan.”
“Menunggu utang dibayar?”
Pak Omen tertawa kecil.
“Bukan juga.”
Bimo duduk di sampingnya.
“Terus?”
Pak Omen menghela napas.
“Menunggu kabar.”
“Kabar apa?”
Pak Omen belum sempat menjawab ketika ponselnya berbunyi.
TING!
Pak Omen langsung melihat layar.
Kali ini wajahnya berubah.
Bimo ikut penasaran.
“Ayah dapat kabar?”
Pak Omen membaca pesan itu beberapa detik.
Kemudian ia berdiri.
“Bimo, panggil Ibu.”
“Kenapa?”
“Panggil saja.”
Bimo langsung berlari masuk.
“Ibu!”
Dari dapur terdengar suara Bu Nina.
“Apa?”
“Ayah manggil!”
“Kenapa?”
“Tidak tahu!”
“Terus kenapa teriak?”
“Biar Ibu cepat!”
Bu Nina keluar sambil membawa sendok sayur.
“Ada apa?”
Pak Omen memandang istrinya.
“Bu…”
“Apa?”
“Telepon dari Darto.”
Bu Nina mengerutkan kening.
“Darto?”
“Iya.”
“Temanmu yang dulu kerja bareng di proyek?”
Pak Omen mengangguk.
“Sekarang dia kepala mandor.”
Bu Nina mulai serius.
“Kenapa dia menelepon?”
Pak Omen menunjukkan layar ponselnya.
“Dia menawarkan pekerjaan.”
Bu Nina terdiam.
“Di mana?”
“Luar kota.”
Bimo yang sejak tadi mendengarkan langsung menyelak.
“Berapa lama?”
Pak Omen belum menjawab.
Dan pertanyaan sederhana itu tiba-tiba membuat suasana pagi berubah.
KESEMPATAN YANG DATANG LAGI
Darto adalah teman lama Pak Omen.
Mereka pernah bekerja bersama bertahun-tahun lalu.
Saat itu kehidupan mereka hampir sama.
Sama-sama bekerja keras.
Sama-sama pulang membawa lelah.
Sama-sama sering mengeluh tentang gaji yang cepat habis.
Tetapi kehidupan kemudian membawa mereka ke jalan masing-masing.
Darto terus berkembang.
Ia berpindah dari satu proyek ke proyek lain.
Belajar banyak hal.
Membangun jaringan.
Sampai akhirnya dipercaya menjadi kepala mandor.
Sementara Pak Omen tetap menjalani kehidupan yang sederhana.
Bukan berarti ia tidak bekerja keras.
Justru sebaliknya.
Ia hanya terlalu sering mendapatkan pekerjaan yang datang dan pergi.
Ada masa ia bekerja.
Ada masa ia menganggur.
Ada masa ia mendapatkan proyek kecil.
Ada masa ia harus menunggu berbulan-bulan.
Kini kesempatan itu datang.
Darto mengajaknya bergabung dalam proyek besar di luar kota.
Posisinya cukup bagus.
Gajinya juga jauh lebih baik.
Bahkan ada kemungkinan pekerjaan tersebut berlangsung beberapa bulan.
Tetapi ada satu persoalan.
Ia harus pergi meninggalkan keluarga.
RAPAT KELUARGA
Sore harinya, Pak Omen mengumpulkan semua anggota keluarga.
Raka duduk di sofa.
Rino di lantai.
Bimo membawa buku dan pulpen.
Bu Nina duduk di samping Pak Omen.
Pak Omen menatap Bimo.
“Kenapa bawa buku?”
Bimo menjawab:
“Rapat.”
Pak Omen menggeleng.
“Ini bukan RAPAT.”
Bimo langsung mencoret sesuatu.
“Baik. Saya hapus.”
Rino tertawa.
Pak Omen menarik napas.
“Ayah dapat tawaran kerja.”
Semua langsung memperhatikan.
“Dari teman lama Ayah.”
Raka bertanya:
“Di mana?”
“Luar kota.”
Bimo langsung bertanya:
“Berapa lama?”
“Belum pasti.”
“Seminggu?”
“Mungkin lebih.”
“Sebulan?”
“Mungkin.”
“Setahun?”
Pak Omen tertawa.
“Tidak sampai setahun.”
Bimo mengangguk lega.
Pak Omen melanjutkan:
“Proyeknya cukup besar.”
Raka tersenyum.
“Bagus dong, Yah.”
Pak Omen mengangguk.
“Gajinya juga lebih baik.”
Rino langsung berkata:
“Berarti Ayah harus ambil.”
Bu Nina menatap Rino.
Rino mengangkat tangan.
“Maksud saya... kalau memang bagus.”
Pak Omen diam.
Bu Nina tahu suaminya sedang bimbang.
“Mas mau ambil?”
Pak Omen menatap istrinya.
“Ayah ingin.”
“Kenapa masih ragu?”
Pak Omen tersenyum tipis.
“Karena harus meninggalkan kalian.”
Ruangan mendadak hening.
BIMO TIDAK SETUJU
Bimo langsung menggeleng.
“Tidak boleh.”
Pak Omen menatapnya.
“Kenapa?”
“Ayah tidak boleh pergi.”
“Kenapa?”
“Karena siapa yang nanti bikin kopi?”
Rino tertawa.
Bu Nina menahan senyum.
Pak Omen menggeleng.
“Bikin kopi sendiri.”
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Rasanya beda.”
Pak Omen tertawa.
“Kopi tetap kopi.”
“Tidak.”
Bimo menggeleng keras.
“Kopi Ayah ada rasa Ayah.”
Semua terdiam.
Pak Omen menatap anak bungsunya.
Bimo tiba-tiba merasa malu.
“Ya... pokoknya jangan pergi.”
Pak Omen tersenyum.
“Ayah pergi bekerja, bukan pergi meninggalkan kalian.”
Bimo menjawab pelan:
“Tetap saja rumah terasa beda.”
Kali ini tidak ada yang tertawa.
BU NINA MEMAHAMI
Malamnya, setelah anak-anak masuk kamar, Bu Nina dan Pak Omen duduk berdua di teras.
Lampu rumah menyinari halaman.
Suara kendaraan sesekali terdengar dari jalan.
Bu Nina membawa dua gelas teh.
“Mas.”
“Hm?”
“Ambil pekerjaan itu.”
Pak Omen menatap istrinya.
“Serius?”
Bu Nina mengangguk.
“Kita butuh.”
Pak Omen menunduk.
“Mas takut kalian kesepian.”
Bu Nina tersenyum.
“Kami bisa menjaga rumah.”
“Mas takut anak-anak…”
“Anak-anak sudah besar.”
Pak Omen tertawa kecil.
“Bimo belum.”
Bu Nina ikut tertawa.
“Bimo memang tidak akan pernah besar kalau terus dimanjakan.”
Pak Omen terdiam.
Bu Nina memandang suaminya.