RAPAT:Rasa Paling Tahu

Yusuf Pradika
Chapter #19

Chapter BAB #19 Ending Rasa Paling Tahu

RASA SALING TAHU


ENDING - Ketika Keluarga Tak Lagi Bertanya, Karena Sudah Mengerti


Sudah hampir dua bulan Pak Omen berada di luar kota.


Awalnya rumah terasa aneh.


Kursi di ruang tengah kosong.


Cangkir kopi yang biasanya selalu berada di meja tidak lagi tersentuh.


Pagi-pagi tidak ada suara Pak Omen berdehem sebelum membuat kopi.


Tidak ada suara sandal diseret dari kamar menuju dapur.


Dan yang paling terasa bagi Bimo adalah tidak ada lagi orang yang bisa ia ganggu sebelum sarapan.


Namun waktu berjalan.


Keluarga Omen mulai terbiasa.


Bukan berarti mereka tidak merindukan Pak Omen.


Mereka hanya belajar bahwa rindu tidak harus selalu membuat seseorang berhenti menjalani hidup.


Setiap malam Pak Omen menelepon.


Kadang hanya lima menit.


Kadang sampai satu jam.


Kadang pembicaraannya serius.


Kadang tidak masuk akal.


Seperti malam ketika Pak Omen menelepon dan Bimo langsung bertanya:


“Ayah sudah makan?”


“Sudah.”


“Makan apa?”


“Nasi.”


“Lauknya?”


“Ayam.”


“Sayurnya?”


“Ada.”


“Minumnya?”


“Air.”


Bimo diam.


Pak Omen bertanya:


“Kenapa?”


“Tidak ada sambal?”


Pak Omen tertawa.


“Ini telepon atau pemeriksaan restoran?”


Bimo menjawab serius:


“RAPAT keluarga.”


Pak Omen tertawa.


“Jangan mulai lagi.”


KABAR DARI LUAR KOTA


Suatu sore, Bu Nina menerima telepon dari Pak Omen.


“Bu.”


“Iya, Mas?”


“Proyeknya sudah hampir selesai.”


Bu Nina tersenyum.


“Alhamdulillah.”


“Kalau tidak ada perubahan, minggu depan Mas pulang.”


Bu Nina terdiam sebentar.


“Serius?”


“Iya.”


Seketika wajah Bu Nina berubah cerah.


“Kamu dengar!” teriaknya kepada anak-anak.


Raka keluar dari kamar.


“Ada apa?”


“Ayah pulang minggu depan!”


Rino yang sedang makan langsung berdiri.


“Serius?”


Bimo berlari dari belakang.


“AYAH PULANG?”


Bu Nina mengangguk.


Bimo langsung mengambil ponsel.


“Ayah!”


“Iya?”


“Pulang kapan?”


“Minggu depan.”


“Kenapa lama?”


Pak Omen tertawa.


“Baru juga bilang minggu depan.”


“Harusnya besok.”


“Tidak bisa.”


“Lusa?”


“Tidak.”


“Besok malam?”


“Bimo…”


“Iya?”


“Ayah pulang sesuai jadwal.”


Bimo menghela napas.


“Baik.”


Kemudian ia tersenyum.


“Jangan lupa oleh-oleh.”


Pak Omen tertawa.


“Nah, itu yang paling penting.”


RUMAH KEMBALI RAMAI


Seminggu kemudian, rumah keluarga Omen mulai sibuk.


Bu Nina membersihkan rumah.


Raka memperbaiki lampu teras.


Rino membeli beberapa kebutuhan dapur.


Bimo melakukan hal yang paling tidak penting:


Menulis daftar oleh-oleh.


Ia duduk di meja sambil memegang pulpen.


Raka melihatnya.


“Kamu tulis apa?”


“Daftar.”


“Daftar apa?”


“Oleh-oleh Ayah.”


Raka membaca.


“Keripik.”


Bimo mengangguk.


“Kopi.”


“Iya.”


“Baju.”


“Iya.”


“Sepatu.”


Raka menatapnya.


“Sepatu?”


“Buat aku.”


“Kenapa Ayah harus membelikan?”


“Karena aku anaknya.”


Raka tertawa.


“Logika macam apa itu?”


Bimo kembali menulis.


Rino datang.


“Apa lagi?”


“Jam tangan.”


Rino mengambil kertas itu.


“Bim, ini bukan daftar oleh-oleh.”


“Terus?”


“Ini daftar belanja satu keluarga.”


Bimo mengambil kembali.


“Kalau begitu Ayah harus kerja lebih lama.”


Rino langsung mengejar.


“Bimo!”


Bimo lari.


Bu Nina berteriak dari dapur:


“Jangan pecahkan rumah!”


Raka tertawa.


Rumah yang selama dua bulan terasa sedikit sepi, perlahan kembali seperti dulu.


Berisik.


Tidak teratur.


Penuh suara.


Tetapi justru itulah yang mereka rindukan.


KEPULANGAN PAK OMEN


Menjelang sore, kendaraan yang membawa Pak Omen akhirnya berhenti di depan rumah.


Bimo sudah berdiri di depan pagar sejak tiga puluh menit sebelumnya.


Begitu pintu kendaraan terbuka, Pak Omen turun.


“AYAH!”


Bimo berlari.


Pak Omen membuka kedua tangannya.


Bimo langsung memeluknya.


“Ayah!”


“Iya.”


“Kok kurusan?”


Pak Omen tertawa.


“Bukan kurus. Lebih sehat.”


“Bohong.”


“Kenapa?”


“Perut Ayah mengecil.”


Pak Omen menepuk perutnya.


“Wah, bagus dong.”


“Tidak.”


“Kenapa?”


“Perut Ayah adalah ciri khas.”


Semua tertawa.


Raka kemudian memeluk ayahnya.


“Selamat datang, Yah.”


“Terima kasih.”


Rino ikut memeluk.


“Capek?”


“Lumayan.”


Bu Nina berdiri di depan pintu.


Pak Omen memandangnya.


Tidak ada kata-kata selama beberapa detik.


Bu Nina tersenyum.


“Pulang juga akhirnya.”


Pak Omen mengangguk.


“Iya.”


“Capek?”


“Kalau lihat rumah, hilang.”


Bu Nina tersenyum.


“Gombal.”


Pak Omen tertawa.


Namun matanya terlihat sedikit berkaca-kaca.


CERITA DARI PROYEK


Malam itu mereka makan bersama.


Pak Omen bercerita tentang proyek.


Tentang pekerjaan yang berat.


Tentang orang-orang yang bekerja bersamanya.


Tentang Darto yang ternyata tetap seperti dulu meskipun sudah menjadi kepala mandor.


“Darto itu kalau marah masih sama,” kata Pak Omen.


Rino bertanya:


“Galak?”


“Bukan.”


“Terus?”


“Banyak bicara.”


Bimo langsung tertawa.


“Berarti cocok sama Ayah.”


Pak Omen menunjuk Bimo.


“Jangan mulai.”


Bimo tersenyum.


Pak Omen kemudian mengeluarkan beberapa oleh-oleh.


Keripik.


Kopi.


Baju.


Lihat selengkapnya