Rasa Masakan Ibu

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #1

Hari lni #1

Alarm di ponselnya berbunyi pukul lima, tetapi ia sudah membuka mata beberapa menit sebelumnya. Suara itu tetap dibiarkan sampai nada keduanya berbunyi sebelum akhirnya dimatikan. Kebiasaan itu sudah berlangsung lama. Ia tidak pernah benar-benar membutuhkan alarm untuk bangun, tetapi merasa ada yang kurang jika pagi dimulai tanpa mendengar bunyinya. Di langit-langit kamar, baling-baling kipas berputar pelan. Udara belum panas, meski hawa lembap mulai merayap masuk melalui jendela yang tidak pernah ditutup rapat. Dari luar terdengar suara gerobak didorong melewati gang, disusul bunyi knalpot motor yang dinyalakan berulang kali sebelum akhirnya hidup.

Kontrakan yang ditempatinya tidak besar. Satu kamar tidur, ruang tengah yang cukup untuk sebuah sofa dua dudukan dan meja lipat, dapur sempit di belakang, serta kamar mandi yang pintunya selalu sedikit macet ketika musim hujan datang. Sudah hampir dua tahun ia tinggal di sana. Tidak banyak barang yang bertambah. Rak buku masih berisi buku-buku yang sama. Magnet kecil berbentuk ikan di pintu kulkas masih menempel di tempatnya sejak pertama kali pindah. Bahkan jam dinding yang beberapa kali terlambat lima menit itu belum pernah diganti baterainya; ia hanya terbiasa menambahkan lima menit di kepalanya setiap kali melihat jarum jam.

Ia mandi cepat, mengenakan kemeja kerja yang disetrika akhir pekan lalu, lalu mengikat rambut di depan cermin kecil yang mulai berbintik pada bagian tepinya. Sebelum keluar kamar, ia memeriksa isi tas tanpa benar-benar menghitungnya: dompet, kartu akses kantor, ponsel, charger, buku kecil untuk mencatat hal-hal yang sering lupa diingatnya. Semuanya ada.

Di dapur, kulkas berdengung pelan. Ia membukanya hanya untuk mengambil sebotol air. Udara dingin menyentuh wajahnya sebentar sebelum hilang. Rak-raknya hampir kosong. Dua botol air mineral, sebotol saus sambal, margarin yang jarang dipakai, dan beberapa telur yang sudah cukup lama berada di tempat yang sama. Ia minum beberapa teguk, menutup pintu kulkas, lalu memandang meja dapur yang bersih karena memang jarang dipakai memasak. Kompor dua tungku itu lebih sering menjadi tempat meletakkan kantong belanja daripada menyalakan api.

Di luar, gang mulai ramai. Penjual bubur berhenti di mulut jalan sambil memukul pelan sisi panci dengan sendok logam. Aroma kuah ayam terbawa angin sampai ke depan kontrakan. Tidak jauh dari sana, seorang perempuan muda membungkus nasi uduk untuk pelanggan yang datang silih berganti. Beberapa anak sekolah berjalan tergesa sambil menggigit roti yang belum habis. Seorang bapak mengangkat gelas kopi ke bibirnya sebelum menyalakan motor.

Ia mengenakan helm, menyalakan Scoopy putih yang sudah menemaninya hampir tiga tahun, lalu keluar dari halaman kontrakan. Mesin motor itu masih terdengar halus. Cat di bagian depan mulai kusam karena matahari, tetapi tidak pernah membuatnya berpikir untuk mengganti kendaraan. Selama motor itu masih bisa membawanya pergi dan pulang setiap hari, rasanya sudah cukup.

Jalan menuju kantor hampir selalu sama. Tanjakan kecil setelah perempatan pasar, toko alat listrik yang papan namanya mulai pudar, bengkel las yang sejak pagi sudah memercikkan api, lalu lampu merah pertama yang hampir selalu dipenuhi orang-orang yang sedang berangkat bekerja. Ia berhenti di barisan ketiga. Di sebelah kirinya seorang pengemudi ojek memegang sebungkus nasi yang baru dibeli. Tutup bungkusnya dibuka sedikit, lalu ia menyuap cepat-cepat sebelum hitungan mundur di lampu lalu lintas habis. Di kanan jalan, seorang pegawai perempuan berdiri di depan warung sambil mengaduk kopi dalam gelas kertas. Asap dari wajan berisi mi goreng naik perlahan bersama aroma bawang putih yang baru ditumis.

Lampu berubah hijau.

Semua kendaraan bergerak hampir bersamaan.

Ia ikut melaju.

Setengah jam kemudian Scoopy memasuki area parkir kantor. Barisan motor sudah mulai penuh. Ia memarkir kendaraan di dekat tiang beton yang sama seperti hari-hari sebelumnya, melepas helm, lalu menepuk pelan jok motor sebelum menutupnya kembali. Ia sendiri tidak pernah sadar bahwa gerakan kecil itu selalu dilakukannya setiap pagi.

Lift membawanya ke lantai delapan bersama beberapa orang yang masih memegang gelas kopi. Seorang laki-laki yang sering ditemuinya di lift mengangguk singkat. Ia membalas dengan senyum kecil, lalu pintu terbuka.

Ruangan kerja masih lengang. Pendingin ruangan baru dinyalakan sehingga hawa dinginnya belum terasa. Ia menyalakan komputer, membuka daftar pekerjaan yang tertinggal kemarin, kemudian mulai membaca berkas pertama tanpa banyak menoleh ke sekitar. Pagi selalu menjadi waktu yang paling tenang. Belum banyak telepon berbunyi. Belum banyak orang datang meminta bantuan. Pikiran masih cukup rapi untuk mengurutkan angka-angka yang memenuhi layar.

Sekitar pukul delapan lewat, meja-meja mulai terisi. Ada yang datang sambil membawa kopi, ada yang masih mengunyah roti, ada pula yang langsung membuka kotak sarapan sebelum komputer selesai menyala.

"Lagi sarapan?" tanya seseorang kepada temannya.

"Nasi kuning depan gang. Cobain besok."

Percakapan itu menghilang begitu saja di antara bunyi papan ketik dan notifikasi surel yang mulai berdatangan.

Laki-laki yang duduk di meja sebelah membuka bungkus roti sobek, mematahkan satu bagian, lalu menoleh ke arahnya.

"Kamu enggak sarapan?"

Ia menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

"Lupa?"

"Bukan."

"Terus?"

"Nanti saja."

Laki-laki itu tertawa kecil.

"Aku enggak bisa kerja kalau belum makan."

Ia hanya tersenyum tipis. Pembicaraan berhenti di sana. Tidak ada yang merasa perlu memperpanjangnya.

Berkas demi berkas berganti di layar komputer. Sesekali ia menandai bagian yang harus diperiksa ulang, lalu berpindah ke dokumen lain. Ketika sekali waktu ia melihat jam di sudut monitor, jarumnya sudah mendekati pukul sebelas.

Di luar jendela, matahari semakin tinggi. Di dalam ruangan, aroma kopi mulai bercampur dengan bau makanan yang perlahan memenuhi setiap sudut kantor ketika satu per satu orang mulai memikirkan makan siang.

Ia baru menyadari waktu bergerak sejauh itu setelah perutnya berbunyi pelan, hampir tenggelam oleh suara pendingin ruangan yang terus berdengung.

***

Ia baru mengambil ponselnya ketika sebagian besar orang sudah keluar dari ruangan.

Layar aplikasi pesan-antar masih menampilkan halaman yang sama seperti semalam. Deretan restoran memenuhi layar, masing-masing dengan foto makanan yang dibuat lebih mengilap daripada aslinya. Ia menggulir pelan. Jempolnya berhenti pada satu rumah makan, membuka daftar menu, lalu kembali lagi. Restoran berikutnya. Halaman berikutnya. Menu berikutnya. Tidak ada yang benar-benar dipilih.

Suara kursi yang bergeser terdengar dari belakang.

"Mau nitip?"

Ia menoleh. Dua orang dari tim lain sudah berdiri di dekat pintu.

"Nggak."

"Oke."

Mereka keluar sambil masih memperdebatkan tempat makan yang ingin dituju. Pintu menutup pelan. Ruangan kembali lengang.

Ia meletakkan ponsel.

Monitor di depannya masih menampilkan lembar kerja yang belum selesai. Beberapa kolom harus diperiksa ulang sebelum dikirim ke bagian lain. Ia kembali menunduk. Angka-angka bergeser di layar, berpindah dari satu tabel ke tabel berikutnya.

Lima belas menit berlalu.

Saat kembali melihat jam, waktu makan siang hampir lewat.

Ponselnya diambil lagi.

Kali ini ia memilih sebuah warung yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor. Ia tidak terlalu memperhatikan menunya. Jari bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Beberapa kali menekan layar, pembayaran selesai.

Status berubah menjadi Diproses.

Ia membiarkan aplikasi tetap terbuka.

Beberapa menit kemudian sebuah notifikasi muncul.

Pesanan dibatalkan.

Restoran sedang tutup sementara.

Ia menekan tombol kembali tanpa menghela napas ataupun mengumpat. Hanya kembali ke daftar restoran seperti semula.

Di layar komputer, sebuah pesan dari aplikasi kerja muncul.

"Data halaman empat belum sesuai."

Ia membuka dokumen yang dimaksud. Angka pada salah satu kolom berbeda dengan berkas sebelumnya. Ia mencari sumbernya, memperbaiki satu per satu, lalu mengirim ulang.

Belum sempat selesai membaca balasan dari rekan kerjanya, ponsel kembali menyala.

Daftar restoran masih terbuka.

Ia memilih yang lain.

Kali ini proses pembayaran berlangsung lebih cepat.

Status berubah menjadi Mencari pengemudi.

Seseorang kembali ke ruangan sambil membawa kantong plastik berisi makan siang. Aroma ayam goreng memenuhi udara ketika kotaknya dibuka.

"Kamu belum makan?"

Ia menggeleng.

"Belum datang?"

"Bukan."

"Lupa?"

Ia tersenyum kecil.

Orang itu tertawa, lalu duduk di mejanya sendiri.

Ruangan perlahan terisi lagi. Suara sendok beradu dengan kotak makan, percakapan tentang rapat sore, bunyi dispenser yang dipakai mengisi botol minum. Semua berlangsung seperti siang-siang sebelumnya.

Ponselnya bergetar.

Ia segera melihat layar.

Pesanan dibatalkan.

Lihat selengkapnya