Rasa Masakan Ibu

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #2

Makan Siang #2

Hari Jumat selalu membuat kantor sedikit berbeda. Bukan lebih sepi, melainkan lebih longgar. Orang-orang tetap datang sebelum jam kerja dimulai, tetap menyalakan komputer dan membuka surel yang masuk sejak pagi, tetapi percakapan berlangsung lebih lama daripada hari-hari lain.

Ia memarkir Scoopy di tempat yang sama, melepas helm, lalu naik bersama beberapa orang yang baru datang. Di dalam lift, seseorang membawa dua gelas kopi kertas. Aroma kopi memenuhi ruang sempit itu hingga pintu kembali terbuka di lantai delapan.

"Titipan siapa saja?"

"Tiga."

"Yang satu tanpa gula, kan?"

"Iya."

Mereka tertawa ketika salah satu gelas hampir terjatuh saat pintu lift membuka.

Ruangan kerja sudah menyala seluruhnya. Pendingin ruangan membuat udara pagi terasa lebih dingin daripada di luar. Ia meletakkan tas di bawah meja, menyalakan komputer, lalu membuka berkas yang belum selesai kemarin. Deretan angka kembali memenuhi layar, seolah pekerjaan semalam hanya berhenti sebentar untuk memberi kesempatan semua orang tidur.

Menjelang pukul sembilan, seorang perempuan datang sedikit tergesa sambil membawa tas kain bermotif garis-garis. Dari dalam tas itu terlihat sudut kotak makan berwarna biru muda.

"Nit, buru-buru amat."

"Tadi lupa naruh nasi."

"Kirain lupa laptop."

"Laptop masih bisa pinjam."

Beberapa orang tertawa kecil. Perempuan itu ikut tersenyum sambil menarik kursinya.

Ia pernah beberapa kali berbicara dengan perempuan itu. Namanya Nita. Mereka tidak satu tim sehingga percakapan mereka tidak pernah lebih jauh daripada urusan pekerjaan atau sapaan singkat ketika bertemu di pantry.

Nita mengeluarkan laptop lebih dulu, baru kemudian memasukkan kembali kotak makan yang sempat terlihat tadi ke dalam tasnya. Ritsleting ditutup rapat sebelum ia mulai bekerja.

Pagi berjalan seperti biasa.

Telepon kantor berdering beberapa kali. Seseorang meminta revisi laporan. Seseorang lain berjalan mondar-mandir membawa map biru. Di dekat printer, dua orang berdebat tentang ukuran kertas yang salah cetak.

Sesekali terdengar tawa pendek yang segera tenggelam oleh bunyi papan ketik.

Menjelang pukul sebelas, pekerjaan mulai sedikit melambat. Orang-orang yang sejak pagi menatap monitor mulai meregangkan bahu atau berdiri mengambil minum.

"Siapa yang mau kopi?"

Beberapa tangan terangkat.

"Titip es kopi."

"Aku americano."

"Sama, tapi jangan manis."

Pesanan dicatat di secarik kertas.

Tidak lama kemudian pembicaraan bergeser ke makan siang.

"Aku pesan dari kemarin aja."

"Patungan ongkir, yuk."

"Ayamnya lagi diskon."

Grup percakapan kantor mulai dipenuhi tangkapan layar menu makanan. Nama restoran berganti-ganti setiap beberapa menit.

Ia hanya melihat sekilas sebelum kembali ke pekerjaannya.

Ponselnya tetap tergeletak di samping keyboard.

Belum ada aplikasi yang dibuka.

Tepat pukul dua belas, kursi-kursi mulai bergeser. Ada yang langsung menuju lift. Ada yang tetap duduk karena makanannya sudah datang lebih dulu. Seorang laki-laki membuka laci meja dan mengeluarkan sebungkus kerupuk yang langsung dibagikan ke kanan dan kiri.

"Siapa mau?"

Beberapa tangan menyambut.

Nita tidak ikut turun.

Ia membuka tas kainnya, mengeluarkan kotak makan biru, lalu berdiri.

"Bukan makan?" tanya seseorang.

"Nanti."

Nita berjalan ke pantry di ujung ruangan. Dari kejauhan terlihat ia mencuci tangan lebih dulu sebelum kembali ke mejanya membawa kotak makan yang sama.

Tidak ada yang memperhatikan lebih lama. Semua kembali sibuk dengan makanannya masing-masing.

Ia baru mengambil ponsel ketika ruangan mulai lengang.

Aplikasi pesan-antar terbuka.

Ia memilih satu rumah makan yang sudah beberapa kali dipesan sebelumnya.

Menu yang biasa.

Tidak perlu melihat daftar terlalu lama.

Pesanan dikirim.

Ponsel diletakkan kembali di samping keyboard.

Beberapa menit kemudian terdengar bunyi notifikasi.

Pesanan diterima.

Ia mematikan layar ponsel dan kembali membuka berkas yang belum selesai.

Di seberang ruangan, tutup kotak makan Nita terbuka pelan. Aroma sayur bening bercampur bawang putih sesaat memenuhi udara sebelum kembali kalah oleh aroma kopi dan makanan lain yang memenuhi kantor.

Ia tidak menoleh lagi.

Pekerjaan di layar kembali menarik perhatiannya.

Sekitar dua puluh menit kemudian ponselnya bergetar pelan.

Pengemudi sudah sampai di lobi.

Ia menekan tombol simpan pada dokumen yang sedang dikerjakan, mengambil kartu akses, lalu turun dengan lift yang kali ini hanya berisi dua orang. Seorang kurir berdiri di dekat pintu masuk sambil memegang beberapa kantong makanan dengan nama yang ditempel menggunakan stiker kecil.

Ia menyebutkan namanya.

Kurir menyerahkan satu kantong kertas berwarna cokelat, lalu segera memanggil nama lain.

Ketika kembali ke lantai delapan, sebagian besar orang sudah selesai makan. Beberapa kotak makan sudah tertutup. Gelas kopi berganti dengan botol air minum. Suara percakapan mulai berkurang, digantikan bunyi papan ketik yang kembali memenuhi ruangan.

Lihat selengkapnya