Hari Senin selalu dimulai lebih cepat daripada yang direncanakan.
Lift sudah penuh ketika ia tiba di lobi. Sebagian orang masih memegang gelas kopi kertas. Sebagian lagi membawa tas kerja di satu bahu dan ponsel di tangan lain, membaca pesan sebelum pintu lift terbuka.
Ia sampai di meja beberapa menit sebelum jam delapan.
Komputer dinyalakan.
Daftar pekerjaan pagi itu sudah menunggu di layar.
Belum setengah jam bekerja, seseorang melewati mejanya sambil membawa kantong plastik berisi beberapa kotak bening.
"Yang pesan wadah bekal, ambil ya."
Beberapa orang langsung berdiri.
"Akhirnya datang juga."
"Yang ukuran besar buat siapa?"
"Aku."
Kotak-kotak itu dibagikan sesuai nama yang tertempel pada kemasannya.
Seseorang membuka plastiknya saat itu juga.
"Tutupnya rapat, kan?"
"Coba isi air."
"Kalau bocor, aku komplain."
Beberapa orang tertawa.
Kotak-kotak itu kembali masuk ke dalam tas masing-masing.
Pekerjaan berlanjut.
Menjelang pukul sembilan, percakapan tentang laporan berganti menjadi percakapan tentang harga cabai.
"Aku kemarin ke pasar."
"Naik lagi?"
"Iya."
"Pantes sekarang bawa bekal terus."
"Bukan cuma cabai. Makan di luar juga makin mahal."
"Aku hitung-hitung, lumayan hemat."
"Hematnya kerasa."
Percakapan itu mengalir sambil jari-jari mereka tetap mengetik.
Tidak ada yang sedang berdebat.
Tidak ada yang sedang meyakinkan siapa pun.
Mereka hanya saling menimpali.
Sekitar pukul sebelas, seseorang membuka tas kain dan mengeluarkan kotak makan.
"Bukan sekarang makannya," kata temannya.
"Bukan. Mau pindah ke kulkas pantry."
"Oh."
Kotak itu dibawa pergi, lalu beberapa menit kemudian orang yang sama kembali dengan tangan kosong.
Tak lama setelah itu, orang lain melakukan hal yang sama.
Kotak makan lain.
Tas lain.
Orang lain.
Seolah ada urutan yang sudah dipahami tanpa perlu disepakati.
Ia baru menyadari bahwa pantry kantor memiliki satu rak kulkas yang hampir seluruhnya dipenuhi wadah makanan.
Saat makan siang tiba, beberapa orang berdiri di depan kulkas.
Ada yang mengambil kotak sendiri.
Ada yang memanaskan makanan di microwave.
Ada yang membuka tutup wadah sambil mengipasi wajah karena uap panas mengepul.
"Ayammu baunya enak."
"Bukan bikin sendiri."
"Beli?"
"Iya. Warung dekat rumah. Sekalian buat bekal."
"Oh, kirain masak."
"Nggak sempat."
Yang lain mengangguk begitu saja.
Tidak ada yang terlihat mempermasalahkan dari mana makanan itu berasal.
Yang penting makan siang sudah ada.
Ia ikut turun bersama beberapa rekan yang memilih makan di luar.
Di depan lift seseorang bertanya,
"Hari ini ke mana?"
"Terserah yang antreannya pendek."
"Setuju."
Mereka berjalan menuju deretan rumah makan di seberang gedung.
Sepanjang jalan, pembicaraan berpindah-pindah.
Harga parkir.
Cuaca.
Rencana lembur.
Lalu kembali lagi ke makanan.
"Kalau bawa bekal enaknya nggak perlu mikir."
"Iya."
"Tinggal makan."
"Yang capek itu mutusin mau makan apa."
Beberapa orang tertawa.
Ia ikut tersenyum kecil.
Pelayan datang membawa buku menu.
Semua orang mulai membuka halaman pertama.
Ia membuka halaman yang sama, membaca satu per satu, meskipun sebagian besar nama makanan sudah dikenalnya.
Di sebelahnya, seorang rekan sudah menutup menu.
"Seperti biasa."
Pelayan mengangguk dan langsung mencatat.
Di seberangnya, yang lain juga sudah selesai memilih.
Hanya ia yang masih membalik halaman berikutnya.
Pelayan berdiri menunggu.
"Tetap yang kemarin, Mas?" tanyanya.
Ia mengangkat kepala.