Rasa Masakan Ibu

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #4

Hitungan #4

Sabtu selalu datang dengan ritme yang berbeda. Tidak ada alarm yang memaksanya bangun lebih cepat, tetapi tubuhnya tetap terjaga hampir pada jam yang sama seperti hari kerja. Setelah beberapa saat berbaring menatap langit-langit kamar, ia meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal. Sebuah notifikasi dari aplikasi perbankan muncul di layar. Gaji bulan itu telah masuk sejak lewat tengah malam.

Ia membacanya sebentar, lalu mengunci kembali layar ponsel.

Nominal itu sudah mempunyai tujuan bahkan sebelum benar-benar menjadi miliknya. Sewa kontrakan, cicilan Honda Scoopy, tagihan listrik, air, internet, serta kebutuhan-kebutuhan lain yang datang hampir pada tanggal yang sama setiap bulan. Sisanya akan dipakai sedikit demi sedikit sampai bulan berikutnya datang.

Ia bangkit, merapikan tempat tidur, lalu membuka jendela depan. Udara pagi masih sejuk. Dari gang terdengar suara pedagang sayur menawarkan dagangan, disusul deru sepeda motor yang keluar masuk membawa orang-orang yang tetap bekerja di akhir pekan. Seorang ibu menyapu halaman rumah, sementara dua anak kecil berlari mengejar bola plastik yang beberapa kali masuk ke selokan.

Di dapur kecil kontrakannya hanya ada dispenser, rak piring, dan kompor yang jarang digunakan. Ia menyeduh kopi instan, lalu meminumnya sambil berdiri di depan pintu. Sarapan bukan kebiasaan yang selalu ia lakukan. Kalau lapar datang lebih cepat, ia akan membeli makanan di luar. Kalau tidak, ia baru makan menjelang siang.

Hari itu ia sudah mempunyai satu rencana. Scoopy putihnya perlu diservis. Beberapa hari terakhir laju motor itu terasa sedikit berbeda. Saat berhenti di lampu merah minggu lalu, ia sempat memperhatikan alur ban depannya mulai menipis. Belum mengkhawatirkan, tetapi cukup untuk membuatnya mengingat agar tidak terus ditunda.

Bengkel resmi belum terlalu ramai. Seorang mekanik menghampirinya sambil mencatat nomor polisi motor.

"Servis berkala, Mbak?"

"Iya."

Ia duduk di ruang tunggu sementara Scoopy putihnya didorong ke area servis. Televisi di sudut ruangan menayangkan acara musik pagi. Tidak banyak yang benar-benar memperhatikannya. Beberapa orang sibuk dengan ponsel masing-masing, sementara yang lain sesekali melihat ke arah motor mereka.

Sekitar dua puluh menit kemudian seorang mekanik menghampirinya.

"Ban depannya mulai aus."

Ia ikut melihat.

"Masih aman?"

"Mungkin satu atau dua bulan lagi. Tapi kalau sering dipakai jauh, sebaiknya mulai disiapkan."

Ia memperhatikan permukaan ban itu beberapa detik.

"Kalau sekarang belum perlu?"

"Belum juga tidak apa-apa."

Ia mengangguk.

"Nanti saja."

Keputusan itu terasa sederhana. Ban itu memang belum harus diganti hari itu. Selama masih bisa dipakai, ia lebih memilih menundanya.

Ponselnya bergetar.

Jadi ganti ban?

Ia tersenyum kecil melihat nama pengirimnya.

Belum.

Masih aman?

Kata mekaniknya masih bisa satu dua bulan lagi.

Syukurlah.

Percakapan berhenti di situ.

Tidak lama kemudian motornya selesai diservis. Kasir menyebut jumlah yang harus dibayar. Ia menempelkan kartu debit, menerima struk pembayaran, lalu melipatnya tanpa membaca rinciannya. Kertas kecil itu masuk ke dalam dompet bersama kartu-kartu lain.

Matahari mulai meninggi ketika ia keluar dari bengkel. Dalam perjalanan pulang ia berhenti di minimarket. Persediaan air minum di kontrakan hampir habis. Sabun cuci piring tinggal sedikit. Tisu dapur juga perlu diganti.

Lorong minimarket cukup ramai. Seorang perempuan membandingkan harga dua merek deterjen sambil membuka aplikasi di ponselnya. Di rak mi instan, dua mahasiswa memperdebatkan mana yang lebih murah jika membeli satuan atau satu dus. Di dekat lemari pendingin, seorang bapak mengembalikan minuman yang semula sudah diambil, lalu memilih merek lain dengan ukuran lebih kecil.

Ia mengambil air minum, sabun cuci piring, tisu dapur, pasta gigi, dan kopi instan. Tangannya sempat berhenti di depan rak camilan. Sebungkus biskuit yang biasa dibelinya ketika lembur masih berada di tempat yang sama. Ia melihat label harganya sebentar, lalu melanjutkan langkah tanpa mengambilnya.

Di kasir, barang-barangnya dipindai satu per satu.

Kasir menyebut jumlah yang harus dibayar.

Ia mengangguk, lalu kembali menggunakan kartu debit yang sama.

Mesin kasir mengeluarkan selembar struk.

Ia menerimanya, melipatnya seperti struk dari bengkel, lalu memasukkannya ke dalam dompet.

Tanpa ia sadari, dua lembar struk itu tetap berada di sana.

Biasanya, salah satunya sudah lebih dulu berakhir di tempat sampah.

Keluar dari minimarket, ia meletakkan kantong belanja di gantungan depan motor Scoopy putihnya. Matahari sudah lebih tinggi dibanding ketika ia berangkat dari rumah. Udara mulai hangat, membuat beberapa pengendara memilih berhenti sebentar di bawah rindangnya pohon yang tumbuh di tepi jalan.

Lampu lalu lintas di persimpangan memaksanya berhenti. Di sebelah kirinya, seorang perempuan membawa dua rak telur yang diikat di atas jok motor. Di sebelah kanan, seorang pengemudi ojek daring menggantung beberapa kantong makanan di setang. Ketika lampu berubah hijau, mereka bergerak ke arah yang berbeda.

Sesampainya di kontrakan, ia meletakkan kantong belanja di atas meja. Air minum dimasukkan ke dispenser, sabun cuci piring ke bawah bak cuci, tisu dapur ke rak kecil di dekatnya. Semua kembali ke tempatnya masing-masing.

Dompet dikeluarkan dari tas.

Saat hendak menyimpannya ke laci, dua lembar struk yang terlipat tipis terlihat menyembul dari sela-sela kartu.

Ia mendorongnya masuk kembali tanpa membukanya.

Perutnya mulai terasa lapar.

Ponselnya berbunyi.

Sudah selesai servis?

Sudah.

Sekarang di mana?

Di rumah.

Balasan datang beberapa saat kemudian.

Sudah makan?

Ia melihat jam.

Baru lewat pukul dua belas.

Belum.

Masak atau beli?

Jarinya berhenti di atas layar beberapa detik.

Beli.

Ia memasukkan ponsel ke saku celana, mengenakan kembali helm, lalu keluar.

Warung makan yang dipilih berada dua gang dari kontrakannya. Tempatnya tidak besar. Meja-meja plastik memenuhi ruangan, menghadap etalase kaca yang berisi berbagai lauk. Asap tipis masih mengepul dari beberapa panci di belakangnya.

Ia mengambil piring.

"Nasi?"

"Iya."

"Sayurnya?"

"Jangan."

"Ayam?"

"Yang goreng."

"Lagi?"

"Tahu."

"Minumnya?"

"Es teh."

Ia membawa piring ke meja dekat jendela.

Belum banyak pengunjung. Seorang kurir masuk mengambil dua bungkus makanan yang sudah disiapkan. Tidak lama kemudian dua laki-laki duduk di meja sebelah.

"Harga makan sekarang naik lagi."

"Iya. Kemarin beli yang sama masih lebih murah."

"Ya mau bagaimana."

Percakapan mereka berhenti ketika pesanan datang.

Ia makan perlahan.

Ayam goreng masih hangat. Tahu baru saja diangkat dari penggorengan. Es teh datang belakangan, meninggalkan embun di sisi gelas.

Tidak ada yang istimewa dari makan siang itu.

Sama seperti puluhan makan siang lain yang pernah ia beli sendiri.

Ketika selesai, ia menuju kasir.

"Dua puluh tujuh ribu."

Ia menyerahkan kartu debit.

Mesin pembayaran berbunyi pelan.

Kasir kemudian menyodorkan struk kecil bersama kartu miliknya.

"Terima kasih."

Lihat selengkapnya