Rasa Masakan Ibu

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #5

Rumah Orang Lain #5

Undangan itu datang pada Jumat sore.

Pesannya singkat.

Besok sore ikut ke rumah temanku, ya. Sekalian makan malam.

Ia membacanya ketika baru saja memarkir Scoopy di depan kontrakan. Mesin motor masih hangat. Helm belum dilepas.

Ia membalas beberapa menit kemudian.

Iya.

Keesokan harinya ia berangkat menjelang magrib.

Calon pasangan sudah menunggu di ujung gang. Mereka menggunakan motor calon pasangan. Scoopy tetap diparkir di kontrakan.

Perjalanan tidak terlalu jauh.

Sepanjang jalan calon pasangan bercerita tentang temannya. Mereka pernah bekerja di kantor yang sama beberapa tahun lalu. Sekarang temannya sudah pindah ke perusahaan lain.

"Dulu sering lembur bareng," katanya.

Ia hanya mengangguk.

Motor memasuki kawasan perumahan yang lebih tenang.

Rumah-rumah berdiri rapat, tetapi masing-masing memiliki halaman kecil di depannya. Pohon peneduh tumbuh di beberapa sudut jalan. Lampu teras mulai menyala ketika matahari benar-benar turun.

Mereka berhenti di depan sebuah rumah berpagar putih.

Pagar sudah terbuka.

Seorang anak kecil sedang bermain sepeda di halaman.

Melihat motor berhenti, anak itu segera berlari masuk sambil berteriak,

"Bu, sudah datang."

Pintu depan terbuka.

Seorang perempuan keluar sambil tersenyum.

"Masuk."

Mereka melepas alas kaki di teras.

Ruang tamunya tidak besar.

Sofa tiga dudukan menghadap televisi yang sedang menyala tanpa suara. Di sudut ruangan terdapat rak buku rendah. Beberapa buku anak tersusun miring. Sebuah mobil-mobilan berada di bawah meja, seolah lupa dibereskan.

Tidak ada yang tampak dipersiapkan secara khusus.

Rumah itu terlihat seperti rumah yang memang sedang dihuni.

Tak lama kemudian seorang laki-laki keluar dari dapur.

"Macet?"

"Sedikit."

Mereka berjabat tangan.

Ia memperkenalkan diri, lalu duduk.

Percakapan segera mengalir.

Pekerjaan.

Kantor lama.

Teman-teman yang sudah pindah.

Anak kecil tadi muncul lagi sambil membawa gambar yang belum selesai diwarnai.

"Lihat."

Ibunya memperhatikan sebentar.

"Bagus."

Anak itu tersenyum lalu kembali ke kamarnya.

Tidak lama kemudian perempuan itu berdiri.

"Sebentar, ya."

Ia masuk ke dapur.

Beberapa menit kemudian terdengar suara tutup panci bergeser.

Tidak lama.

Lalu hening lagi.

Ia memandang sekeliling.

Di dekat televisi tergantung kalender.

Beberapa tanggal diberi lingkaran dengan pulpen biru.

Di meja terdapat tempat tisu, botol minum, dan kotak kecil berisi obat merah serta plester.

Tidak ada satu pun benda yang tampak diletakkan untuk tamu.

Semuanya seperti memang berada di sana setiap hari.

Calon pasangan masih berbincang dengan temannya.

Ia lebih banyak mendengarkan.

Sesekali ikut tersenyum ketika mereka mengenang orang-orang yang pernah bekerja bersama.

Menjelang azan magrib, aroma masakan mulai memenuhi ruang tamu.

Perempuan tadi keluar dari dapur.

"Mari makan sekalian."

Mereka berpindah ke meja makan. Mejanya sederhana. Empat kursi kayu. Beberapa mangkuk sudah tersusun. Nasi masih berada di dalam penanak nasi.

"Ambil sendiri saja."

Ia mengambil piring.

Nasi.

Sedikit sayur.

Satu potong ayam.

Lihat selengkapnya