Rasa Masakan Ibu

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #6

Obrolan #6

Hari Senin berjalan seperti biasanya.

Scoopy memasuki halaman kantor beberapa menit sebelum pukul delapan. Barisan motor sudah mulai memenuhi tempat parkir. Ia memarkir motornya di baris yang sama seperti minggu-minggu sebelumnya, lalu berjalan menuju gedung kantor sambil membawa tas kerja.

Di dalam lift beberapa orang masih membicarakan kemacetan pagi. Ada yang terlambat karena lampu lalu lintas mati. Ada yang mengeluhkan hujan semalam.

Pintu lift terbuka. Masing-masing kembali ke meja kerjanya. Pekerjaan datang bergantian.

Surel.

Lembar revisi.

Rapat singkat.

Telepon.

Menjelang pukul sepuluh, seseorang berdiri dari meja sebelah.

"Aku ke pantry."

"Mau nitip kopi?"

"Nggak."

Ia tetap melanjutkan pekerjaannya.

Baru menjelang istirahat siang ia ikut berjalan ke pantry.

Ruangan itu tidak besar. Sebuah dispenser berada di sudut. Microwave di atas meja kecil. Lemari penyimpanan. Kulkas dua pintu.

Beberapa orang sudah berada di sana. Sebagian membuka kotak bekal. Sebagian sedang menyeduh kopi. Percakapan dimulai dari hal yang sederhana.

"Gas di rumah habis."

"Semalam juga."

"Akhirnya pesan."

"Untung cepat datang."

Yang lain ikut menimpali.

"Aku malah habis minyak goreng."

"Belinya kapan?"

"Nanti pulang."

Seseorang tertawa.

"Kalau nggak ditulis, pasti lupa."

"Iya."

"Aku selalu bikin daftar."

"Aku juga."

Percakapan berpindah lagi.

"Kemarin cuci sprei."

"Aku belum."

"Harusnya minggu kemarin."

"Sudah numpuk."

Semua mengangguk seolah memahami. Tidak ada yang menjelaskan mengapa sprei perlu dicuci. Tidak ada yang menjelaskan kapan harus mengganti handuk.Semuanya terdengar seperti sesuatu yang sudah diketahui bersama.

Ia berdiri di dekat dispenser sambil memegang gelas. Lebih banyak mendengarkan. Lebih sedikit berbicara. Seorang rekan membuka kotak makan.

"Lauknya sisa semalam."

"Masih enak?"

"Malah lebih enak."

Yang lain tertawa.

Percakapan bergeser lagi.

"Kulkasku penuh."

"Punya saya malah kosong."

"Kosong bagaimana?"

"Isinya cuma air sama sambal."

Semua tertawa kecil.

Ia ikut tersenyum.

Tetapi tidak ikut menambahkan cerita. Entah karena memang tidak punya. Atau karena tidak tahu apa yang bisa diceritakan.

Siang itu mereka makan lebih lambat dari biasanya.

Ruang makan kantor mulai lengang ketika ia membuka kotak makanan yang dibelinya dari warung depan. Beberapa rekan masih duduk mengelilingi meja panjang.

Percakapan yang tadi dimulai di pantry belum benar-benar selesai.

Seorang perempuan mengeluarkan ponselnya.

"Aduh."

"Ada apa?"

"Lupa beli sabun cuci piring."

"Tulis."

"Sudah, tapi lupa buka catatannya."

Yang lain tertawa.

"Aku sekarang semua pakai pengingat."

"Kalau enggak begitu, pulang pasti cuma ingat setengahnya."

"Aku malah bikin daftar per ruangan."

"Dapur."

"Kamar mandi."

"Laundry."

"Jadi tinggal centang."

Beberapa orang mengangguk.

Percakapan itu terdengar ringan.

Tidak ada yang sedang memberi nasihat.

Lihat selengkapnya