Mereka bertemu menjelang siang.
Ia datang lebih dulu. Bangku panjang dekat pintu masuk pusat perbelanjaan masih banyak yang kosong. Beberapa orang lalu-lalang membawa kantong belanja. Seorang anak berlari terlalu cepat hingga hampir menabrak papan promosi di tengah lorong. Ibunya memanggil dari belakang.
Ia duduk sambil memegang ponsel. Sesekali membuka aplikasi pesan, lalu menutupnya lagi.
Cowok itu datang sekitar sepuluh menit kemudian.
"Maaf. Tadi susah parkir."
"Iya."
Cowok itu menyerahkan segelas minuman dingin.
"Aku pesankan yang biasa."
Ia menerimanya.
"Makasih."
Mereka berjalan masuk ke dalam gedung.
Hari itu tidak ada tujuan khusus.
Tidak ada daftar tempat yang harus dikunjungi.
Mereka hanya sama-sama sedang libur.
"Lapar?" tanya cowok itu.
"Sedikit."
"Makan dulu?"
"Boleh."
Mereka berhenti di depan deretan restoran.
Pilihan berjajar di kedua sisi lorong. Ada yang penuh, ada yang masih lengang, ada yang memajang foto-foto makanan berukuran besar di depan pintu.
Cowok itu melihat satu per satu.
"Yang ini?"
Ia ikut melihat.
"Boleh."
"Yang sana?"
"Juga boleh."
Cowok itu tertawa kecil.
"Kamu gampang banget."
Ia ikut tersenyum.
Dua restoran mereka lewati.
Satu terlalu ramai.
Satu lagi antreannya sampai keluar pintu.
Mereka akhirnya masuk ke restoran yang tidak terlalu penuh.
Pelayan mengantar mereka ke meja dekat dinding.
Cowok itu langsung membuka menu.
Ia melakukan hal yang sama.
"Kamu mau apa?"
Ia membaca daftar makanan sekali lagi.
"Belum tahu."
"Kamu tadi bilang lapar."
"Iya."
"Kalau lapar biasanya lebih gampang milih."
Ia masih melihat menu.
Banyak nama makanan terasa sama saja.
Pelayan datang membawa dua gelas air.
Cowok itu memesan lebih dulu.
Cepat.
Seolah sudah tahu apa yang diinginkan bahkan sebelum membuka menu.
Ketika giliran padanya, ia masih membaca.
Pelayan menunggu.
Cowok itu ikut menunggu.
Akhirnya ia menunjuk satu gambar.
"Yang ini saja."
Pelayan mencatat lalu pergi.
Cowok itu mengambil gelas minumnya.
"Kamu dari dulu begitu."
"Begitu bagaimana?"
"Kalau disuruh milih."
Ia mengangkat bahu.
"Mungkin."
Cowok itu tersenyum.
"Aku sering lihat."
Ia tidak membantah.
Di meja sebelah, dua orang masih berdiskusi di depan menu.
Yang satu ingin mi.
Yang satu ingin nasi.
Setelah beberapa menit, mereka memutuskan memesan keduanya.
Cowok itu melirik sebentar.
"Aku kadang heran."
"Kenapa?"
"Sudah tahu lapar, tapi tetap lama milih."
"Kamu juga lihat menu lama."
Cowok itu tertawa.
"Iya."
"Tapi biasanya akhirnya tetap pesan yang sama."
Makanan datang tidak lama kemudian.
Beberapa menit pertama mereka makan tanpa banyak bicara.
Hanya suara sendok yang sesekali menyentuh piring.
Suara pelayan melintas.
Dan percakapan pendek dari meja-meja lain.
Di dekat jendela, seorang ayah meniup semangkuk sup sebelum menyodorkannya kepada anaknya.
Anak itu langsung menyuap tanpa melihat isi mangkuk.
Cowok itu meletakkan sendoknya.
"Nanti itu sebenarnya kapan sih?"
Ia mengangkat kepala.
"Apa?"
"'Nanti'."
Cowok itu tersenyum.
"Kamu sering bilang nanti."
Ia berpikir sebentar.
"Mungkin."
"Mungkin itu jawaban favoritmu."
Ia tertawa pelan.
"Biar aman."
"Aman dari apa?"
Ia menggeleng kecil.
"Enggak tahu."
Cowok itu tidak mengejar jawaban itu.
Pelayan datang menawarkan makanan penutup.
"Kamu mau?"
Ia melihat daftar minuman.
"Lain kali saja."
Cowok itu menutup menu.
"Oke."
Mereka tidak memesan apa-apa lagi.
Setelah makan, mereka masuk ke toko buku tanpa tujuan tertentu.
Udara di dalam terasa lebih sejuk.
Rak-rak tinggi membentuk lorong yang rapi.
Sebagian orang berdiri membaca sampul belakang buku.
Sebagian lagi duduk di lantai sambil membuka halaman-halaman pertama.
Cowok itu berhenti di rak perjalanan.
Mengambil sebuah buku bergambar.
"Lihat."
Ia mendekat.
Foto-foto kota memenuhi dua halaman terbuka.
"Bagus."
"Kalau bisa liburan seminggu, kamu mau ke mana?"
Ia memandangi foto itu cukup lama.
"Aku belum pernah kepikiran."
Cowok itu menutup buku perlahan.
"Mungkin nanti."
"Mungkin."
Mereka kembali berjalan.
Di sudut ruang baca, seorang ibu membacakan buku bergambar kepada anaknya.
Di meja dekat jendela, seorang laki-laki datang membawa dua gelas minuman.