Rasa Masakan Ibu

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #8

Anggapan #8

Sepupu calon pasangan datang pada hari Rabu sore.

Pemberitahuannya singkat.

Mau mampir sebentar.

Pesan itu masuk ketika ia sedang menyelesaikan laporan bulanan. Ia membacanya sekilas, lalu kembali menatap layar komputer. Tidak ada jam yang disebutkan. Tidak ada alasan khusus.

Ia membalas pendek.

Oke.

Sepanjang sisa jam kerja ia hampir melupakannya.

Baru ketika Scoopy memasuki kompleks kontrakan dan berhenti di depan rumah, ia teringat lagi.

Rumah itu tampak sama seperti biasanya.

Teras kecil. Pot tanaman yang mulai mengering. Rak sepatu di samping pintu.

Ia membuka pintu. Masuk. Meletakkan tas. Lalu berdiri beberapa saat di ruang tamu.

Tidak ada yang berantakan. Namun entah mengapa ia tetap memandang sekeliling. Seolah rumah yang sama bisa berubah hanya karena akan dilihat orang lain.

Pandangannya berhenti di dapur.

Kompor masih bersih. Wajan tergantung pada tempatnya. Rak piring tetap rapi. Ia baru sadar sudah beberapa hari tidak menyentuh kompor itu.

Tidak ada yang aneh.

Memang hampir selalu begitu. Ia mengambil dua gelas dari rak. Mengisinya dengan air.

Lalu suara motor berhenti di depan rumah. Calon pasangan datang bersamaan dengan tamunya. Sepupunya. Beserta istrinya.

"Maaf ganggu."

"Enggak apa-apa."

Mereka masuk.

Duduk.

Menerima segelas air.

Percakapan dimulai dengan hal-hal yang ringan.

Perjalanan.

Kemacetan.

Cuaca yang beberapa hari terakhir tidak menentu.

Lalu, perlahan, mata mereka mulai berkeliling.

Tidak terang-terangan.

Hanya sesekali.

Ke rak buku.

Ke jendela.

Ke dinding.

Ke dapur yang tampak dari ruang tamu.

"Nyaman juga di sini."

"Iya."

"Dekat kantor?"

"Cukup."

"Bagus."

Percakapan berpindah lagi.

Motor.

Biaya parkir.

Harga bensin.

"Yang di depan Scoopy kamu?"

Ia mengangguk.

"Masih bagus."

"Baru dicuci?"

"Belum."

Mereka tertawa kecil.

Pembicaraan mengalir tanpa arah yang jelas.

Tidak lama kemudian istri sepupu berdiri.

"Boleh lihat belakang?"

"Boleh."

Mereka berjalan menuju dapur. Ruangan itu kecil. Hanya cukup untuk satu orang bergerak leluasa.

Kompor.

Wastafel.

Rak piring.

Kulkas.

Tidak ada yang berubah sejak pagi.

Perempuan itu memandang sebentar.

"Rapi ya."

Ia mengangguk.

"Kalau rumahku jam segini sudah berantakan."

"Aku juga," sahut calon pasangan sambil tertawa.

"Iya, dapurku pasti sudah penuh."

Mereka kembali tertawa.

Ia ikut tersenyum.

Namun pandangannya jatuh ke kompor.

Rapi.

Bersih.

Orang-orang selalu menganggap itu pertanda baik.

Tak seorang pun bisa melihat bahwa kompor itu bersih karena hampir tidak pernah dipakai.

Percakapan segera kembali ringan.

Mereka berbicara tentang harga sewa rumah.

Tentang lingkungan yang tenang.

Tentang akses menuju kantor.

Tentang jalan yang tidak terlalu sempit.

Dalam waktu kurang dari setengah jam, mereka telah memiliki banyak kesimpulan.

Rumahnya nyaman.

Lingkungannya enak.

Dapurnya rapi.

Motornya terawat.

Hidupnya tampak teratur.

Padahal mereka belum benar-benar mengenalnya.

Menjelang magrib mereka pamit.

Tidak ada makan bersama.

Tidak ada kopi tambahan.

Tidak ada acara khusus.

Hanya kunjungan singkat.

Sebelum masuk ke mobil, istri sepupu tersenyum.

"Kalian tinggal lanjut saja."

Ia menoleh.

"Lanjut apa?"

Perempuan itu tertawa.

"Ya hidupnya."

Pintu mobil ditutup.

Mesin menyala.

Mobil perlahan keluar dari kompleks.

Kalimat itu tertinggal lebih lama daripada suara mesinnya.

Rumah kembali sunyi.

Calon pasangan duduk di sofa sambil membuka ponselnya.

Ia masuk ke dapur mengambil air minum.

Kompor masih berada di tempat yang sama.

Bersih.

Tidak berubah.

"Tadi mereka suka rumah ini," kata calon pasangan.

"Oh."

"Katanya nyaman."

Ia mengangguk.

Beberapa detik berlalu.

"Lumayan ya."

"Apa?"

"Mereka bilang kita sudah siap."

Ia memegang gelas lebih erat.

"Siap untuk apa?"

Calon pasangan mengangkat bahu.

"Tidak tahu."

Ia memandang dapur sekali lagi.

Orang-orang melihat ruangan itu lalu membayangkan kehidupan yang akan dijalani di dalamnya.

Sementara ia sendiri, setiap kali melihatnya, justru teringat bahwa sejak dulu rumah tidak pernah berbicara kepadanya melalui aroma masakan.

Mereka berdua tidak mengatakan apa-apa lagi.

Di luar, suara motor sesekali melintas di ujung gang.

Di dalam rumah, hanya terdengar dengung pelan kulkas yang menyala.

Dua hari setelah kunjungan itu, ia mulai mendengar kalimat-kalimat yang memiliki bentuk berbeda, tetapi menuju kesimpulan yang sama.

Bukan dari orang yang saling mengenal.

Justru dari orang-orang yang tidak pernah berbicara satu sama lain.

Di kantor, seorang rekan menghampirinya saat jam makan siang.

Lihat selengkapnya