Rasa Masakan Ibu

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #9

Sistem #9

Pagi itu ia datang sedikit lebih awal.

Ruang kerja masih lengang.

Beberapa komputer sudah menyala, tetapi kursi-kursi masih banyak yang kosong. Pendingin ruangan terdengar lebih jelas ketika belum banyak orang berbicara.

Ia meletakkan tas.

Mengisi botol minum.

Lalu kembali ke meja.

Beberapa menit kemudian satu per satu rekan kerja datang.

Tas diletakkan.

Komputer dinyalakan.

Jaket digantung di sandaran kursi.

Rutinitas yang sama setiap pagi.

Menjelang pukul sembilan, seorang perempuan membuka tas kain yang selalu dibawanya.

Dari dalamnya keluar sebuah kotak makan.

Lalu sebuah wadah kecil berisi potongan buah.

Seorang laki-laki di meja sebelah melihatnya.

"Hari ini masak apa?"

"Semur."

"Wah."

"Kemarin bikin agak banyak."

Laki-laki itu mengangguk.

"Enak itu. Besok tinggal dipanasin."

Perempuan itu tersenyum.

"Iya. Jadi enggak usah masak lagi."

Percakapan selesai.

Mereka kembali bekerja.

Namun kalimat terakhir itu tertinggal di kepalanya.

Jadi besok tidak usah masak lagi.

Seolah besok sudah dipikirkan sejak kemarin.

Menjelang pukul sepuluh pantry mulai ramai.

Microwave berbunyi.

Seseorang menghangatkan lauk.

Seseorang lagi membuka tutup kotak makan.

Aroma bawang, kecap, dan cabai bercampur memenuhi ruangan kecil itu.

Ia hanya mengambil air minum.

Seorang perempuan yang lebih tua menatap botolnya.

"Kamu enggak bawa bekal?"

Ia menggeleng.

"Enggak."

"Beli nanti?"

"Iya."

Perempuan itu mengangguk.

"Praktis."

Jawaban itu terdengar biasa.

Tidak mengandung penilaian apa pun.

Tetapi setelah beberapa detik perempuan itu berkata lagi,

"Aku sudah enggak bisa kalau tiap hari beli."

"Kenapa?"

"Capek mikir."

Ia tersenyum kecil.

"Maksudnya?"

"Mikir mau makan apa."

Perempuan itu menutup kotak makannya.

"Kalau masak malam, besok tinggal bawa."

Ia mengangguk.

Percakapan berhenti.

Namun untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu.

Bagi perempuan itu, memasak bukan sekadar membuat makanan.

Memasak adalah cara agar besok tidak perlu memutuskan lagi.

Menjelang makan siang, empat orang berdiri di dekat meja kerjanya.

Mereka sedang menentukan akan makan di mana.

"Aku enggak ikut."

"Kenapa?"

"Bawa bekal."

"Oh iya."

Yang lain menoleh kepada rekannya.

"Kamu juga bawa?"

"Iya."

"Berarti tinggal kita."

Mereka akhirnya pergi bertiga.

Ia ikut.

Dalam perjalanan menuju warung, salah seorang bertanya,

"Kamu enggak pernah bawa bekal ya?"

Ia berpikir sejenak.

"Kayaknya enggak pernah."

"Bisa tahan beli terus?"

Ia mengangkat bahu.

"Sudah biasa."

Laki-laki itu tertawa kecil.

"Aku malah bingung kalau harus beli."

"Kenapa?"

"Pilihan terlalu banyak."

Mereka semua tertawa.

Percakapan segera berpindah ke pekerjaan.

Tetapi kalimat itu tidak ikut hilang.

Aku malah bingung kalau harus beli.

Ia justru sebaliknya.

Yang terasa asing baginya adalah mengetahui apa yang akan dimakan besok.

Sore hari, ketika sebagian besar orang sudah kembali bekerja, ia melewati pantry sekali lagi.

Kulkas kecil itu terbuka.

Di dalamnya berjajar kotak makan.

Hampir semuanya diberi nama.

Ada yang ditumpuk dua.

Ada yang berisi buah.

Ada yang hanya berisi lauk.

Semuanya tampak sudah memiliki tujuan.

Besok.

Lusa.

Atau nanti malam.

Ia berdiri sebentar di depan kulkas itu.

Lalu menutup pintunya kembali.

Sepanjang perjalanan pulang dengan Scoopy, satu pertanyaan terus mengikuti pikirannya.

Sejak kapan orang mulai mengetahui makanan untuk hari berikutnya?

Ia mencoba mengingat rumah masa kecilnya.

Ia berusaha mengingat apakah pernah ada seseorang yang berkata,

"Besok kita makan ini."

Ia tidak berhasil mengingatnya.

Yang ia ingat justru kalimat lain.

"Nanti beli saja."

Scoopy berhenti di lampu merah.

Di sampingnya, seorang pengendara membawa tas termal bertuliskan nama sebuah layanan pesan antar makanan.

Lampu berubah hijau.

Ia kembali melaju.

Malam itu ia tidak langsung memesan makan.

Ia membuka kulkas.

Botol air.

Saus.

Margarin.

Dua butir telur yang dibelinya hampir seminggu lalu.

Ia memandanginya beberapa saat.

Lalu menutup kembali pintu kulkas.

Ia mengambil ponsel.

Membuka aplikasi pesan-antar.

Menutupnya lagi.

Beberapa menit berlalu.

Akhirnya ia berjalan keluar kontrakan menuju warung di ujung gang.

Warung itu tidak terlalu ramai.

Seorang laki-laki sedang membungkus tiga porsi nasi.

Lihat selengkapnya