Rasa Masakan Ibu

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #10

Tidak Ribet #10

Pagi itu ia datang lebih awal.

Kantor masih lengang.

Ia meletakkan tas, menyalakan komputer, lalu mengambil air minum.

Ketika kembali, beberapa rekan sudah mulai berdatangan.

Seorang perempuan membuka tas kain besar yang selalu dibawanya.

Dari dalamnya keluar dua kotak makan.

Satu diletakkan di meja.

Satu lagi dimasukkan ke kulkas pantry.

"Lho, dua?"

"Iya."

"Yang satu buat nanti sore."

"Kamu masak lagi?"

"Iya."

"Semalam?"

"Iya."

"Kapan istirahatmu?"

Perempuan itu tertawa.

"Sudah biasa."

Yang bertanya menggeleng.

"Aku enggak sanggup."

"Kenapa?"

"Ribet."

Percakapan berhenti di situ.

Ia kembali bekerja.

Namun kata itu tinggal lebih lama.

Ribet.

Menjelang pukul sembilan, pantry mulai ramai.

Microwave berbunyi.

Kotak makan berpindah tangan.

Aroma bawang putih memenuhi ruangan.

Seorang laki-laki membuka tutup wadah makan siangnya.

"Wah."

"Masak sendiri?"

"Iya."

"Rajin."

"Bukan rajin."

"Apa?"

"Kalau beli terus boros."

Yang lain ikut tertawa.

"Aku tetap pilih beli."

"Kenapa?"

"Tidak ribet."

Semua mengangguk.

Tidak ada yang merasa sedang mengatakan sesuatu yang penting.

Seolah membeli makanan memang identik dengan hidup yang lebih mudah.

Menjelang makan siang mereka turun bersama.

Dalam perjalanan, seorang perempuan berkata,

"Aku sebenarnya pengin masak."

"Terus?"

"Enggak sempat."

"Bangun lebih pagi."

"Aduh."

Yang lain tertawa.

"Itu nasihat paling gampang."

"Bukan gampang."

"Ribet."

Mereka kembali tertawa.

Ia mendengarkan tanpa ikut berbicara.

Semua orang seolah sedang menimbang sesuatu.

Waktu.

Tenaga.

Uang.

Semuanya diterjemahkan menjadi satu kata yang sama.

Ribet.

Di warung makan, seorang rekan memesan seperti biasa.

"Nasi, ayam, es teh."

Pelayan mengangguk.

Sementara menunggu pesanan datang, perempuan yang duduk di depannya berkata,

"Aku heran sama kamu."

"Kenapa?"

"Kamu enggak pernah bawa bekal."

"Iya."

"Tapi juga enggak pernah kelihatan pengin mulai masak."

Ia berpikir sebentar.

"Mungkin belum kepikiran."

Perempuan itu tersenyum.

"Kalau aku tiap minggu kepikiran."

"Tapi?"

"Tiap minggu juga batal."

"Kenapa?"

"Ya itu."

Ia mengangkat bahu.

"Ribet."

Semua tertawa kecil.

Ia ikut tersenyum.

Namun untuk pertama kalinya ia bertanya dalam hati,

Apakah benar memasak itu dianggap merepotkan?

Atau ada orang-orang yang tidak pernah merasa memasak sebagai beban karena sejak kecil memang melihatnya setiap hari?

Pertanyaan itu datang begitu pelan.

Lalu diam di sana.

Belum meminta jawaban.

***

Sepulang makan siang, pekerjaan kembali memenuhi ruangan.

Suara papan ketik terdengar berselang-seling.

Seseorang menerima telepon.

Seseorang lain mencetak dokumen.

Hari bergerak seperti biasa.

Menjelang pukul tiga, pantry kembali ramai.

Beberapa orang membuat kopi.

Beberapa mengambil kotak makan yang sejak pagi disimpan di kulkas.

Lihat selengkapnya