Rasa Masakan Ibu

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #11

Cerita Orang #11

Obrolan itu dimulai ketika listrik padam sebentar.

Tidak lama. Hanya beberapa detik.

Monitor-monitor mati. Pendingin ruangan berhenti berdengung. Ruangan mendadak lebih sunyi daripada biasanya.

Beberapa orang mengangkat kepala dari meja masing-masing.

"Lagi."

"Untung belum sempat disimpan."

"Kalau hilang semua aku pulang."

Tawa kecil terdengar dari beberapa sudut.

Ia bersandar di kursinya.

Layar komputer berubah hitam.

Untuk pertama kalinya sejak pagi, tidak ada laporan yang harus dibaca.

Beberapa detik kemudian listrik kembali menyala.

Komputer menyala satu per satu.

Sebagian orang langsung kembali bekerja.

Sebagian lagi berdiri menuju pantry.

Mengambil minum.

Meregangkan badan.

Mengulur waktu beberapa menit sebelum duduk lagi.

Ia ikut berjalan ke sana.

Bukan karena ingin mengobrol.

Hanya karena semua orang bergerak ke arah yang sama.

"Aku kemarin pulang ke rumah orang tua," kata seorang perempuan sambil menuang air panas ke gelas.

"Oh ya?"

"Iya."

"Ramai?"

"Seperti biasa."

Perempuan itu tersenyum kecil.

"Kalau sudah kumpul, rumah rasanya sempit."

"Tapi enak."

"Iya."

Yang lain mengangguk.

"Aku malah sekarang jarang pulang."

"Kenapa?"

"Jauh."

"Kangen?"

"Kangen."

Perempuan itu diam sebentar sebelum melanjutkan.

"Yang paling kangen itu makan di rumah."

Beberapa orang langsung mengangguk.

"Pasti."

"Sama."

"Aku juga."

"Bukan makanannya sebenarnya," katanya lagi.

"Terus?"

"Ibuku itu pasti sudah masak sebelum aku datang."

Tidak ada yang tertawa.

Kalimat itu terdengar terlalu biasa untuk dijadikan bahan bercanda.

Namun justru karena terlalu biasa, hampir semua orang memahami maksudnya.

"Punyaku juga."

"Iya."

"Aneh ya."

"Apa?"

"Kita sudah kerja. Sudah bisa beli makan sendiri."

"Iya."

"Tapi ibu tetap masak."

Beberapa orang tersenyum.

Seorang laki-laki yang sedang membuat kopi berkata,

"Ibuku malah selalu telepon."

"Ngapain?"

"'Kamu jadi pulang enggak?'"

"Lalu?"

"'Kalau pulang, ibu masak.'"

Pantry dipenuhi tawa kecil.

Bukan karena ceritanya lucu.

Melainkan karena terdengar akrab.

"Hampir semua ibu begitu."

"Iya."

"Kayaknya memang begitu."

Ia berdiri sambil memegang botol minumnya.

Tidak ikut berbicara.

Kalimat-kalimat itu terdengar ringan.

Datang dan pergi.

Namun salah satunya berhenti lebih lama daripada yang lain.

Kalau pulang, ibu masak.

Ia mencoba mengingat rumahnya sendiri.

Setiap kali ia memberi kabar akan pulang.

Apa yang biasanya dikatakan ibunya?

Ia berusaha mengingat.

Tidak ada bayangan dapur.

Tidak ada suara panci.

Tidak ada aroma masakan.

Yang muncul justru kalimat lain.

"Nanti kita beli makan, ya."

Kenangan itu datang begitu utuh.

Dulu kalimat itu terdengar biasa saja.

Kini, di tengah pantry kantor, ia baru menyadari bahwa rupanya tidak semua rumah mengucapkannya.

Percakapan berlanjut.

"Aku paling suka kalau ibu sudah mulai tanya dari pagi."

"'Mau dimasakin apa?'"

"Iya."

"Aku selalu jawab terserah."

"Terus?"

"Ya akhirnya dimasakin yang aku suka."

Semua tertawa.

"Lah, kalau sudah tahu suka apa, ngapain tanya?"

"Entahlah."

"Mungkin biar kita merasa ikut memilih."

Tawa kembali terdengar.

Seorang perempuan menggeleng pelan.

"Ibuku juga begitu."

"'Mau makan apa?'"

"Aku jawab apa saja."

"Terus?"

"Ya tetap dimasakin sayur asem."

Mereka tertawa lagi.

"Berarti pertanyaannya cuma formalitas."

"Mungkin."

"Atau memang ibu sudah tahu jawabannya."

Ia menatap air di dalam botolnya.

Ia mencoba mengingat apakah ibunya pernah bertanya,

"Besok mau makan apa?"

Ia mencari ingatan itu cukup lama.

Tidak ada.

Yang ia temukan justru kebiasaan lain.

Kalau lapar datang, mereka keluar.

Naik motor.

Berhenti di warung.

Atau membeli bungkus untuk dibawa pulang.

Tidak pernah ada pembicaraan tentang menu besok.

Tidak pernah ada pembicaraan tentang apa yang ingin dimakan akhir pekan.

Seolah makanan selalu dimulai ketika rasa lapar sudah datang.

Seseorang melihat jam di dinding.

"Aduh."

"Kenapa?"

"Rapat."

Yang lain ikut melihat layar komputernya.

"Aku juga."

Lingkaran kecil itu pecah perlahan.

Gelas dibawa kembali ke meja.

Botol ditutup.

Pantry kembali sepi.

Ia berjalan ke kursinya.

Komputer masih menyala.

Laporan yang tadi belum selesai masih terbuka.

Ia membaca angka demi angka.

Namun untuk beberapa saat, pikirannya tetap berada pada satu kalimat yang terus berulang sejak tadi pagi.

Kalau pulang, ibu masak.

Kalimat yang bagi banyak orang terdengar seperti bagian biasa dari kehidupan.

Dan justru karena begitu biasa, ia baru menyadari bahwa kalimat itu tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari rumahnya.

Obrolan tentang rumah ternyata tidak berhenti di pantry.

Ia hanya berpindah tempat.

Menjelang siang, ketika pekerjaan mulai melambat, percakapan yang sama muncul lagi di sela-sela meja kerja.

Seorang perempuan memperlihatkan foto di ponselnya.

"Buat apa itu?"

"Adikku kirim."

"Rumah?"

"Iya."

Di layar tampak sebuah meja makan.

Tidak besar.

Empat kursi kayu mengelilinginya.

Lihat selengkapnya