Pagi itu dimulai seperti pagi-pagi lain.
Ia datang sebelum sebagian besar orang masuk. Ruangan masih setengah gelap. Hanya lampu di dekat pintu yang sudah menyala. Kursi-kursi berada di tempatnya. Pendingin ruangan belum terasa dingin.
Ia meletakkan tas di bawah meja, menyalakan komputer, lalu berdiri mengambil air.
Di pantry hanya ada satu orang.
Perempuan itu sedang menunggu air mendidih sambil memandangi ponselnya.
"Pagi."
"Pagi."
Ia mengisi gelasnya.
"Kamu selalu datang pagi, ya."
Ia mengangguk.
"Enak sih."
"Apa?"
"Sepi."
Ia tersenyum kecil.
Ruangan yang belum ramai membuat suara dispenser terdengar lebih jelas daripada biasanya.
Perempuan itu menatapnya beberapa detik.
"Kamu memang gampang."
Ia menoleh.
"Gampang?"
"Iya."
Perempuan itu tertawa kecil.
"Maksudku gampang menyesuaikan."
"Oh."
Ia tidak bertanya lebih jauh.
Perempuan itu juga tidak menjelaskan lagi.
Menjelang pukul sembilan, kantor mulai dipenuhi suara.
Kursi ditarik.
Tas diletakkan.
Mesin kopi berbunyi.
Seseorang datang sambil membawa roti.
Yang lain membawa kopi dari luar gedung.
Ada yang mengeluh karena jalanan macet.
Ada yang bercerita anaknya susah dibangunkan.
Ada yang mengatakan sempat memasak sebelum berangkat kerja.
Percakapan datang dari berbagai arah.
Sebagian saling menyambung.
Sebagian berhenti di tengah jalan.
Ia kembali bekerja.
Menjelang siang, pembicaraan mulai bergeser ke makan siang.
"Aku lagi pengin bakso."
"Jangan. Kemarin sudah."
"Kalau nasi Padang?"
"Kejauhan."
"Yang dekat saja."
Seseorang menoleh ke arahnya.
"Tanya dia."
Beberapa kepala ikut menoleh.
"Kamu mau makan apa?"
Ia mengangkat wajah dari layar.
"Terserah."
"Oh."
Salah satu perempuan tersenyum.
"Tuh, kan."
"Tuh, kan apa?"
"Dia selalu begitu."
Tidak ada nada mengejek.
Justru terdengar seperti seseorang yang baru saja membuktikan dugaannya.
"Terserah itu enak," kata seorang laki-laki.
"Kenapa?"
"Enggak perlu mikir."
Yang lain tertawa kecil.
"Atau memang enggak pernah rewel."
Percakapan segera kembali pada pilihan tempat makan.
Ia tidak lagi diajak berdiskusi.
Keputusan dibuat di antara mereka.
"Ya sudah, ke tempat kemarin."
"Setuju."
"Berangkat."
Ketika semua berdiri, seseorang berkata,
"Dia ikut saja."
Ia ikut mengambil dompet.
Padahal ia tidak ingat pernah mengatakan akan ikut.
Di dalam lift mereka berdiri berdesakan.
Seorang perempuan membuka aplikasi pemesanan.
"Lima orang."
"Enam."
"Tujuh."
Ia menghitung lagi.
"Oh iya."
"Dia juga."
Namanya tidak disebut.
Semua orang langsung mengerti.
Tidak ada yang bertanya apakah ia jadi ikut.
Tidak ada yang memastikan.
Seolah jawabannya sudah ada sebelum pertanyaannya diucapkan.
Tempat makan itu tidak terlalu ramai.
Mereka duduk memanjang.
Menu dibagikan.
Sebagian membaca cukup lama.
Sebagian langsung memesan.
Ia membuka menu sebentar.
"Aku yang biasa saja."
Pelayan mengangguk.
Perempuan di depannya tersenyum.
"Nah."
Ia mengangkat kepala.
"Nah kenapa?"
"Enggak."
Perempuan itu tertawa.
"Kamu selalu yang biasa."
Ia memandangi daftar menu sekali lagi.
Puluhan pilihan tertulis di sana.
Ia tidak pernah merasa harus mencoba semuanya.
Makanan datang satu per satu.
Percakapan berganti menjadi pekerjaan.
Lalu rencana akhir pekan.
Lalu harga cabai yang kembali naik.
Di tengah obrolan, seseorang bertanya,
"Kalau diajak mendadak kalian biasanya bisa enggak?"
"Bisa."
"Tergantung."
"Aku susah."
"Kalau dia pasti bisa."
Beberapa orang menoleh kepadanya.
"Kenapa?"
Perempuan itu mengangkat bahu.
"Kelihatannya saja."
"Kelihatannya apa?"
"Bebas."
Tidak ada yang membantah.
Tidak ada yang meminta penjelasan.
Seolah semua merasa sudah memahami maksud kata itu.
Ia sendiri tidak yakin.
Sore hari pekerjaan kembali memenuhi meja.
Beberapa orang mulai terlihat lelah.
Ada yang membuka sepatu di bawah meja.
Ada yang memesan kopi.
Ada yang meregangkan bahu sambil menguap.
"Kamu mau kopi?"
Ia menggeleng.
"Air putih lagi?"
"Iya."
"Oh."
Perempuan itu mengangguk pelan.
"Konsisten."
Ia tersenyum tipis.
Hari itu ia baru menyadari bahwa kebiasaan-kebiasaan kecil rupanya dapat tinggal di ingatan orang lain lebih lama daripada yang ia bayangkan.
Menjelang pulang, sebagian orang masih berkumpul.
Mereka membicarakan akhir pekan.
Ada yang akan pulang ke rumah orang tua.
Ada yang berbelanja bulanan.
Ada yang menghadiri ulang tahun keponakan.
"Kamu?"
Ia mengangkat kepala.
"Apa?"
"Akhir pekan."
"Belum tahu."
Beberapa orang tertawa kecil.
"Tebakanku benar."
"Tebakan apa?"
"Dia pasti belum punya rencana."
"Kenapa pasti?"
Perempuan itu tersenyum.
"Ya... karena dia begitu."