Pagi itu kantor lebih ramai daripada biasanya.
Bukan karena ada acara besar. Hanya ada kunjungan dari tim cabang lain yang dijadwalkan datang menjelang siang. Sejak pagi beberapa orang sudah mondar-mandir membawa map, memindahkan kursi, dan memeriksa ruang rapat.
Ia datang seperti biasa.
Tas diletakkan di bawah meja.
Komputer dinyalakan.
Dokumen yang belum selesai kemarin kembali dibuka.
Di seberang ruangan, beberapa orang berdiri mengelilingi meja kecil.
"Ada yang pegang daftar hadir?"
"Aku."
"Snack sudah dipesan?"
"Sudah."
"Ruangan lantai tiga, kan?"
"Iya."
Percakapan berlangsung cepat.
Orang-orang berbicara sambil berjalan.
Sesekali seseorang berhenti hanya untuk menjawab satu pertanyaan, lalu kembali membawa barang yang lain.
Ia tetap bekerja.
Suara mereka sesekali sampai ke mejanya.
Lalu tenggelam lagi di antara bunyi keyboard dan dering telepon.
Menjelang pukul sembilan, seorang perempuan datang membawa selembar kertas.
"Kita bagi tugas dulu, ya."
Beberapa orang langsung mendekat.
"Bagian registrasi siapa?"
"Aku."
"Dokumentasi?"
"Aku sama Rina."
"Penerima tamu?"
"Boleh aku."
"Bagian konsumsi?"
"Aku."
Nama-nama disebut bergantian.
Seseorang menuliskannya dengan cepat.
Ia tetap duduk.
Sesekali matanya terangkat dari layar.
Tidak ada yang menyebut namanya.
Ia tidak terlalu memikirkannya.
Pembagian tugas seperti ini sering berubah.
Barangkali masih ada pekerjaan yang belum dibagi.
Beberapa menit kemudian daftar itu selesai.
Kertas dilipat.
Orang-orang kembali ke meja masing-masing.
Seorang perempuan melintas di dekat mejanya.
"Kamu enggak kebagian?"
Ia menggeleng pelan.
Perempuan itu tampak berpikir.
"Oh."
Lalu tersenyum canggung.
"Aku kira kamu enggak mau."
Ia menatapnya.
"Aku belum ditanya."
Perempuan itu terdiam sesaat.
"Iya juga."
Nada suaranya terdengar seperti baru menyadari sesuatu.
"Maaf, ya."
"Tidak apa-apa."
Perempuan itu mengangguk pelan lalu berjalan pergi.
Percakapan selesai.
Satu jam kemudian ruang rapat mulai disiapkan.
Kursi ditata berjajar.
Botol air disusun di atas meja.
Map dibagikan.
Beberapa orang bolak-balik membawa perlengkapan.
Ketika melewati mejanya, seorang laki-laki berkata,
"Enak ya, enggak ikut repot."
Ia mengangkat kepala.
Orang itu tersenyum.
Bukan senyum mengejek.
Lebih seperti mengatakan sesuatu yang menurutnya wajar.
Ia membalas dengan anggukan kecil.
Tidak ada lagi yang dibicarakan.
Menjelang siang tamu mulai datang.
Orang-orang yang mendapat tugas berdiri di tempat masing-masing.
Ada yang menyambut di pintu.
Ada yang mengarahkan ke ruang rapat.
Ada yang membagikan map.
Ia tetap berada di mejanya.
Sesekali seseorang datang meminjam stapler.
Sesekali ada yang meminta dokumen.
Selain itu, pekerjaannya berjalan seperti biasa.
Pukul satu acara selesai.
Ruangan kembali dipenuhi suara.
"Akhirnya selesai."
"Panas juga tadi."
"Kaki pegal."
Seseorang membawa beberapa kotak makanan yang tersisa.
"Masih ada."
Kotak-kotak itu dibagikan satu per satu.
Ketika sampai di dekat mejanya, perempuan yang membawanya berhenti.
"Oh."
Ia membuka tutup kotak terakhir.
"Tinggal satu."
Kotak itu sudah kosong.
Perempuan itu tampak tidak enak hati.
"Maaf."
"Tidak apa-apa."
"Aku kira tadi kamu sudah ambil."
Ia menggeleng.
"Belum."
"Besok kalau ada lagi, aku sisihkan dulu."
"Iya."
Perempuan itu tersenyum kecil lalu berjalan pergi.
Beberapa menit kemudian, dua orang berbicara pelan di belakangnya.
"Kasihan juga."
"Siapa?"
"Itu."
"Lho, bukannya dia memang enggak terlalu peduli begituan?"
"Hmm... iya juga."
Percakapan berhenti di situ.
Mereka segera membahas pekerjaan lain.
Seolah kalimat tadi hanya lewat sebentar.
Sore datang lebih tenang.
Pekerjaan kembali berjalan seperti biasanya.
Orang-orang mulai pulang satu per satu.
Seorang perempuan berhenti di dekat mejanya.
"Eh."
Ia mengangkat kepala.
"Maaf ya soal tadi pagi."
"Tidak apa-apa."
"Aku benar-benar mengira kamu memang tidak ingin ikut."
Ia mengangguk pelan.
Perempuan itu tersenyum.
"Soalnya kamu kelihatannya tetap saja."
"Tetap?"
"Iya."
"Mau ramai, mau enggak, kamu kelihatannya sama saja."
Ia tidak segera menjawab.
Perempuan itu melambaikan tangan.
"Sampai besok."
"Sampai besok."
Ruangan kembali sepi.
Ia duduk beberapa menit sebelum memasukkan laptop ke dalam tas.
Di lift hanya ada dirinya.
Pantulan wajahnya terlihat samar di pintu logam.
Hari itu tidak ada yang melarangnya ikut membantu.
Tidak ada yang sengaja menyingkirkannya.
Orang-orang hanya mengambil keputusan berdasarkan sesuatu yang mereka anggap sudah mereka ketahui.
Di perjalanan pulang, ia kembali mengingat pembagian tugas pagi tadi.
Bukan karena ia kecewa tidak dilibatkan.
Bukan pula karena ia ingin mendapat bagian.
Yang terus mengganggunya justru hal yang lebih kecil.
Tidak ada seorang pun yang merasa perlu bertanya.
Mereka sudah lebih dulu merasa mengetahui jawabannya.
Dan karena merasa sudah tahu, mereka bertindak.
Tanpa pernah memastikan apakah mereka benar.
Keesokan harinya kantor kembali tenang.
Ruang rapat yang kemarin ramai sudah kembali kosong.
Kursi-kursi dipindahkan ke tempat semula.