Ia datang tepat waktu.
Jam di dinding baru lewat beberapa menit dari pukul delapan ketika ia meletakkan tas di bawah meja dan menyalakan komputer.
Ruangan belum penuh.
Beberapa kursi masih kosong.
Dari pantry terdengar suara sendok beradu pelan dengan cangkir.
Ia membuka surel pertama.
Undangan rapat.
Surel kedua.
Laporan mingguan.
Surel ketiga.
Pemberitahuan kegiatan kantor minggu depan.
Ia membacanya sebentar.
Lalu menandainya untuk dibuka lagi nanti.
Di belakangnya dua orang sedang berbicara.
"Sudah lengkap?"
"Hampir."
"Kurang satu."
"Hmm..."
"Sudah enggak usah."
Percakapan berhenti begitu saja.
Ia tetap mengetik.
Kalimat-kalimat seperti itu sering terdengar di kantor.
Datang.
Lalu hilang.
Pagi berjalan tenang.
Beberapa angka diperiksa.
Beberapa dokumen dicocokkan.
Tidak ada pekerjaan yang mendesak.
Menjelang pukul sepuluh, seorang rekan berhenti di dekat mejanya.
"Kamu sudah lihat pengumuman?"
"Belum."
"Papan sebelah pantry."
"Iya."
Orang itu seperti ingin mengatakan sesuatu lagi.
Namun akhirnya hanya mengangguk lalu pergi.
Menjelang siang ia berjalan ke pantry.
Botol minumnya hampir kosong.
Di samping pintu, selembar kertas baru ditempel di papan pengumuman.
Panitia Kegiatan Mingguan.
Di bawahnya nama-nama tersusun rapi.
Registrasi.
Dokumentasi.
Perlengkapan.
Konsumsi.
Acara.
Ia membacanya perlahan.
Sampai baris terakhir.
Namanya tidak ada.
Ia membaca sekali lagi.
Tetap tidak ada.
"Kamu baru lihat?"
Seorang perempuan berdiri di sampingnya.
"Iya."
Perempuan itu ikut membaca daftar tersebut.
Beberapa detik kemudian ia berkata,
"Eh..."
"Apa?"
"Namamu enggak ada."
"Iya."
Perempuan itu mengerutkan dahi.
"Aneh."
Ia menunggu.
"Mungkin..."
Perempuan itu tidak segera melanjutkan.
"Mungkin apa?"
"Mungkin sudah dianggap enggak perlu."
"Kenapa?"
Perempuan itu mengangkat bahu.
"Enggak tahu."
Jawaban itu terdengar benar-benar jujur.
Tidak sedang mencari alasan.
Tidak pula sedang menutupi sesuatu.
Memang tidak tahu.
Mereka kembali ke meja masing-masing.
Tidak lama kemudian pesan muncul di grup kantor.
Panitia berkumpul di ruang rapat kecil.
Satu per satu orang berdiri.
Map diambil.
Pulpen dimasukkan ke saku.
Ruangan perlahan menjadi lengang.
Ia tetap di mejanya.
Seorang laki-laki yang lewat berhenti.
"Kamu enggak ikut?"
"Aku enggak masuk panitia."
"Oh."
Laki-laki itu tampak berpikir.
"Mungkin orangnya sudah cukup."
"Iya."
Kalimat itu selesai di sana.
Empat puluh menit kemudian rapat bubar.
Orang-orang keluar membawa catatan.
"Konsumsi aman."
"Banner sudah."
"Kursi tinggal dipindah."
"Pembawa acara juga sudah."
Semuanya terdengar selesai.
Tidak ada pekerjaan yang tersisa.
Tidak ada posisi yang kosong.
Seolah daftar itu memang sejak awal sudah lengkap.
Siang harinya mereka makan bersama.
Pelayan membagikan menu.
Beberapa orang langsung memesan.
Ketika pelayan sampai di depannya, ia baru membuka menu.
Pelayan tersenyum.
"Yang biasa?"
Ia mengangkat kepala.
"Iya."
Pelayan menulis tanpa bertanya lagi.
Di seberang meja seseorang tertawa kecil.
"Enak ya."
"Apa?"
"Sudah hafal."
Pelayan ikut tersenyum sambil berjalan ke meja berikutnya.
Ia menutup menu.
Baru kali itu ia menyadari bahwa bahkan orang yang tidak bekerja bersamanya mulai membuat dugaan tentang dirinya.
Menjelang sore seseorang membagikan map.
Satu meja.
Satu map.
Nama diperiksa satu per satu.
Ketika sampai di mejanya, orang itu lewat begitu saja.
Baru tiga langkah kemudian ia berhenti.
"Oh."
Ia kembali.
"Maaf."
Orang itu menyerahkan satu map.
"Aku kira enggak perlu."
Ia menerima map itu.
"Tidak apa-apa."
Map itu sama persis dengan milik semua orang.
Tidak ada yang berbeda.
Menjelang pulang ruangan mulai sepi.
Komputer dimatikan.
Tas diangkat.
Lampu sebagian dipadamkan.
Ia berdiri.
Memasukkan botol minumnya ke dalam tas.
Di dekat pintu dua orang sedang berbicara.
"Sudah beres?"
"Sudah."
"Untung gampang."
"Iya."
Mereka tidak sedang membicarakannya.