Ia pulang ke rumah ibunya pada hari kerja.
Bukan akhir pekan.
Bukan pula kunjungan yang sudah direncanakan.
Pagi itu, ketika sedang memilih pakaian kerja, ponselnya berbunyi.
Mampir kalau sempat.
Hanya satu kalimat.
Tidak ada alasan.
Tidak ada penjelasan.
Ia membalas singkat.
Iya.
Sore hari, setelah pulang kantor, ia turun dari bus dua gang sebelum rumah.
Ia memang sering melakukan itu sejak dulu.
Berjalan sedikit lebih jauh sebelum benar-benar sampai.
Gang itu masih sama.
Warung di pojok masih menjual gorengan.
Rak minuman di depannya bertambah satu tingkat, tetapi bangku kayu bercat biru di sampingnya masih yang lama.
Catnya semakin pudar.
Beberapa rumah dicat ulang.
Beberapa tetap mempertahankan warna yang sama.
Seorang anak mengayuh sepeda kecil sambil sesekali menggesekkan sandalnya ke aspal.
Tidak ada perubahan yang cukup besar untuk membuatnya berhenti.
Rumah ibunya masih berada di ujung gang.
Pagar hijau itu tampak lebih baru daripada yang ia ingat.
Catnya masih mengilap.
Namun bentuknya tidak berubah.
Ia baru mengangkat tangan untuk membuka pagar ketika pintu depan terbuka.
Ibunya sudah lebih dulu keluar.
"Kok kurusan."
Bukan pertanyaan.
Lebih seperti pengamatan.
Ia tersenyum tipis.
"Capek kerja?"
"Biasa."
Ibunya mengangguk.
"Lapar?"
"Belum."
"Oh."
Hanya itu.
Lalu ibunya berbalik masuk.
Ia mengikutinya.
Rumah itu terasa sejuk.
Kipas angin tidak menyala.
Di ruang tengah, televisi hidup tanpa suara.
Acara memasak sedang berlangsung.
Seseorang di layar sedang mengaduk panci besar.
Ibunya bahkan tidak meliriknya.
Di atas meja terdapat kantong plastik putih dari rumah makan.
Bagian bawahnya masih hangat.
"Kamu habis beli?"
"Iya."
Ibunya membuka ikatan plastik.
Di dalamnya ada dua kotak makanan.
Satu sudah terbuka.
"Aku tadi malas keluar lagi malam."
Kalimat itu diucapkan begitu saja.
Tanpa merasa perlu menjelaskan lebih jauh.
Ia duduk di kursi yang sama seperti dulu.
Kursinya masih berderit pelan ketika diduduki.
Sementara ibunya mulai makan, pandangannya beralih ke dapur.
Dapur itu bersih.
Terlalu bersih.
Kompor dua tungku berada di sudut meja.
Di atasnya tidak ada panci.
Tidak ada wajan.
Rice cooker berada di rak bawah.
Kabelnya tergulung rapi.
Debu tipis menempel di bagian tutupnya.
Seolah sudah lama tidak dipindahkan.
Ibunya mengikuti arah pandangnya.
"Itu masih hidup?" tanya ibunya sambil menunjuk rice cooker.
"Tidak."
"Bagus."
Jawaban itu membuatnya menoleh.
Namun ibunya sudah berjalan ke arah dispenser.
Bukan menuju kompor.
Bukan membuka lemari bumbu.
Ia mengambil ketel listrik.
Mengisinya dengan air.
Lalu menekan tombol.
Lampu kecil pada ketel menyala.
"Kopi?"
"Air saja."
"Iya."
Sambil menunggu air mendidih, ia kembali melihat dapur.
Rak bumbu hanya berisi beberapa barang.
Gula.
Garam.
Sachet kopi.
Dan satu botol kecap kecil yang tinggal sedikit.
Tidak ada bawang.
Tidak ada cabai.
Tidak ada toples berisi rempah.
Air mulai mendidih.
Ibunya menuang ke dua gelas.
Mereka duduk kembali di ruang tengah.
Berhadapan.
Televisi masih menyala tanpa suara.
"Kantor bagaimana?"
"Biasa."
"Oh."
Ibunya menyeruput air hangat.
Tidak ada pertanyaan berikutnya.
Tidak ada permintaan agar ia bercerita lebih banyak.
Keheningan datang begitu saja.
Dan keduanya menerimanya.
Dari luar terdengar suara motor lewat.
Seseorang memanggil anaknya pulang.
Kemudian suasana kembali tenang.
Ibunya menutup kotak makanan yang belum disentuh.
"Ini buat nanti."
Ia menunjuk kotak itu.
"Kamu bawa pulang saja."
"Nanti."
"Oh."
Ibunya tidak mendesak.
Ia hanya berdiri.
Membuka kulkas.
Menyimpan kotak makanan itu di rak tengah.
Pintu kulkas terbuka beberapa detik.
Cukup lama untuk memperlihatkan isinya.
Beberapa botol air.
Buah.
Satu wadah kecil sambal.
Dua kotak makanan dari luar.
Tidak ada sayuran mentah.
Tidak ada telur.
Tidak ada bahan yang menunggu dimasak.
Pintu kulkas kembali tertutup.
Ibunya duduk lagi.
Merapikan ujung taplak meja yang sebenarnya sudah rapi.
Gerakan kecil yang dilakukan tanpa terburu-buru.
"Kalau pulang malam jangan lupa makan."
"Iya."
"Perut itu sukanya protes belakangan."
Ia mengangguk.
Ibunya tersenyum tipis.
Di televisi, acara memasak masih berlanjut.
Panci di layar terus diaduk.
Api terus menyala.
Ibunya mengambil remote.
Televisi dimatikan.
Ruangan langsung menjadi lebih sunyi.
Mereka kembali duduk tanpa banyak bicara.
Tidak ada cerita masa kecil.
Tidak ada penjelasan mengapa rumah itu selalu seperti ini.
Tidak ada pembelaan.
Hanya sebuah rumah yang terus berjalan dengan caranya sendiri.
Cara yang telah ada jauh sebelum ia cukup dewasa untuk menyadari bahwa tidak semua rumah mengenal dapur dengan cara yang sama.
Ibunya berdiri setelah beberapa saat.
Bukan karena ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan.
Hanya karena duduk terlalu lama membuat punggungnya terasa pegal.
Ia mengambil lap kecil dari sandaran kursi.
Mengusap bagian meja yang terkena tetesan kuah dari kotak makanan.
Setelah itu lap dilipat rapi.
Dikembalikan ke tempat semula.