Perubahan itu tidak datang sekaligus.
Ia hadir sedikit demi sedikit.
Begitu pelan, sampai hampir tidak terlihat.
Bukan melalui pertengkaran.
Bukan pula melalui keputusan besar.
Melainkan melalui hal-hal yang perlahan tidak lagi ditanyakan.
Pagi itu, sebelum berangkat kerja, ia membuka kulkas.
Masih ada satu kotak makanan dari rumah ibunya.
Di sampingnya berjajar beberapa wadah dari ibu pacarnya.
Ia mengambil satu wadah.
Memanaskannya sebentar.
Lalu memakannya tanpa benar-benar berpikir.
Beberapa minggu terakhir, makan mulai terasa seperti pekerjaan yang sudah diselesaikan orang lain terlebih dahulu.
Ia hanya meneruskannya.
Di kantor, pekerjaan berjalan seperti biasa.
Menjelang siang, seorang rekan menghampiri mejanya.
"Kamu ikut rapat sore, ya."
"Iya."
"Makannya sudah dipesankan."
Ia mengangguk.
Tidak ada yang bertanya ia ingin menu apa.
Tidak ada yang menunjukkan daftar pilihan.
Percakapan langsung berpindah ke hal lain.
Seolah urusan makan memang sudah selesai.
Saat jam makan siang tiba, beberapa kotak makanan datang.
Seseorang membagikannya satu per satu.
"Yang ini buat tim administrasi."
"Yang ini buat panitia."
"Yang ini buat tamu."
Ketika sampai di mejanya, rekan itu berhenti sebentar.
"Lupa."
Ia membuka tas kain yang dibawanya.
Mengeluarkan satu kotak lain.
"Nah, ini punyamu."
Kotaknya sedikit lebih kecil daripada yang lain.
"Takut kebanyakan."
Ia menerimanya.
"Oh."
"Tidak apa-apa, kan?"
"Iya."
Rekan itu tersenyum lega.
Lalu kembali membagikan kotak yang lain.
Ia memandangi kotak makanannya beberapa detik sebelum membukanya.
Menu di dalamnya memang cukup.
Bahkan mungkin pas.
Ia tidak tahu sejak kapan orang lain mulai merasa tahu seberapa banyak ia makan.
Menjelang sore, ponselnya bergetar.
Pesan dari cowoknya.
Besok aku lewat rumah ibu dulu.
Beberapa menit kemudian muncul pesan berikutnya.
Sekalian ambil lauk.
Ia membaca dua pesan itu perlahan.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada kalimat yang meminta pendapatnya.
Hanya rencana yang sudah dibuat.
Ia membalas singkat.
Oh.
Balasan datang hampir seketika.
Biar gampang.
Ia menatap layar beberapa saat.
Kalimat itu mengingatkannya pada ibunya.
Biar enggak mikir.
Dua rumah.
Dua orang.
Kalimat yang berbeda.
Namun arah yang hampir sama.
Semuanya berusaha membuat hidup menjadi lebih mudah.
Bedanya, yang satu membeli makanan.
Yang satu memasaknya.
Sepulang kerja, ia membereskan mejanya.
Komputer dimatikan.
Botol minum dimasukkan ke dalam tas.
Seorang rekan lewat di belakangnya.
"Besok enggak usah bawa bekal lagi."
Ia menoleh.
"Loh?"
"Kan sudah ada konsumsi."
"Oh."
Rekan itu tersenyum.
"Lumayan, enggak repot."
Ia mengangguk.
Percakapan selesai.
Tidak ada yang terasa aneh.
Namun sepanjang perjalanan pulang, kalimat itu terus teringat.
Enggak repot.
Beberapa hari terakhir, banyak keputusan dibuat dengan alasan yang hampir sama.
Supaya gampang.
Supaya tidak repot.
Supaya tidak perlu dipikirkan lagi.
Dan tanpa benar-benar ia sadari, semakin banyak orang mulai menjalani sebagian hidupnya atas nama kemudahan itu.
Mereka tidak bermaksud mengambil alih.
Mereka hanya mengira mereka sudah tahu apa yang paling sesuai untuknya.
Perubahan berikutnya datang bahkan sebelum hari itu selesai.
Malam ketika ia tiba di kos, ponselnya kembali berbunyi.
Cowoknya mengirim sebuah foto.
Di atas meja makan terlihat beberapa wadah makanan.
Sayur.
Lauk.
Semuanya masih mengepul.
Ibu masak banyak.
Ia memperbesar foto itu sebentar.
Di sudut gambar terlihat tangan seseorang sedang menutup salah satu wadah.
Tak lama kemudian muncul pesan berikutnya.
Besok aku antar sebagian.
Ia membaca sampai selesai.