Ia datang menjelang magrib.
Bukan karena ada keperluan khusus.
Sepulang kerja, ia turun dari angkutan lebih awal, lalu berjalan menuju rumah ibunya seperti mengikuti jalan yang sudah dihafal tubuhnya sendiri.
Gang itu masih sama.
Warung di sudut masih menjual gorengan.
Bangku kayu di depannya sudah dicat ulang, tetapi bentuknya tidak berubah.
Beberapa anak duduk di atas motor yang diparkir sembarangan.
Seorang perempuan menyiram tanaman di dalam pot bekas cat.
Rumah ibunya berada di ujung gang.
Pagar hijau itu mulai kusam di beberapa bagian.
Ketika didorong, engselnya berbunyi pendek.
Pintu depan segera terbuka.
Ibunya muncul dari ruang tengah.
"Kok datang?"
"Mampir."
"Oh."
Ibunya membuka pintu lebih lebar.
Lalu berjalan masuk lebih dulu.
Ia mengikuti dari belakang.
Rumah itu tetap terasa sejuk.
Kipas angin tidak menyala.
Tirai ruang tamu ditarik setengah.
Cahaya sore masuk tipis melalui jendela samping.
Di atas meja terdapat kantong plastik dari minimarket.
Masih belum dibuka.
Televisi menyala pelan.
Di layar, seseorang sedang menjelaskan resep masakan.
Warna makanannya tampak terlalu cerah.
Ibunya tidak melihat ke arah televisi.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah."
"Oh."
Ibunya mengambil kantong plastik tadi.
Dua botol air minum dikeluarkan.
Sabun cuci piring ukuran kecil.
Lalu sebungkus lauk matang yang masih dibungkus kertas cokelat.
"Tadi sekalian beli."
"Iya."
Lauk itu diletakkan di meja dapur.
Tidak dipindahkan ke piring.
Tidak dipanaskan.
Hanya diletakkan begitu saja.
Ia duduk di kursi dekat jendela.
Dari sana seluruh dapur terlihat.
Kompor dua tungku berada di sudut meja.
Permukaannya bersih.
Panci tergantung rapi.
Rice cooker berada di rak bawah.
Kabelnya masih dililit rapi.
Ketel listrik berdiri di samping dispenser.
Ibunya berjalan ke sana.
Mengisi air.
Menekan tombol.
Lampu merah menyala.
"Kamu minum?"
"Iya."
Mereka menunggu air mendidih.
Tidak ada yang berbicara.
Dari luar terdengar suara motor lewat.
Lalu suara gerobak didorong perlahan.
Kemudian sunyi kembali.
Ketel berbunyi.
Ibunya mematikannya.
Air panas dituang ke dua gelas.
Uap naik sebentar.
Lalu menghilang.
"Kantor bagaimana?"
"Biasa."
"Oh."
Ibunya mengangguk.
Mereka minum.
Televisi berganti ke iklan.
Lalu ke acara lain.
Lalu iklan lagi.
Tidak ada yang benar-benar menontonnya.
Ponsel ibunya berbunyi.
Ia membaca pesan yang masuk.
Lalu menyimpan kembali ponselnya.
"Bu RT?"
"Iya."
"Nanya apa?"
"Arisan."
"Kamu ikut?"
Ibunya menggeleng.
"Tidak."
"Kenapa?"
Ia berpikir sebentar.
"Capek."
Jawaban itu selesai di sana.
Tidak dijelaskan lagi.
Ibunya membuka kulkas.
Di dalam hanya ada beberapa botol air.
Buah.
Dan beberapa bungkus makanan siap makan.
Tidak ada sayuran mentah.
Tidak ada bumbu yang sudah disiapkan.
Tidak ada sesuatu yang menunggu dimasak.
"Kamu mau buah?"
"Nanti."
"Oh."
Pintu kulkas ditutup kembali.
Langit di luar semakin gelap.
Lampu dapur dinyalakan.
Cahayanya membuat dapur tampak paling terang dibanding ruangan lain.
Namun tidak ada yang berubah.
Tidak ada yang dimasak.
Tidak ada yang disiapkan.
Dapur hanya ada di sana.
Seperti jendela.
Seperti lemari.
Seperti bagian rumah lain yang tidak meminta perhatian.
Ibunya kembali duduk.
Menghela napas pelan.
"Ibu capek hari ini."
"Iya."
Beberapa saat mereka kembali diam.
Lalu ibunya berkata pelan,
"Tadi sempat mau masak."
Ia menoleh.
"Lalu?"
Ibunya mengangkat bahu.
"Ya sudah."
"Kenapa?"
Ia memegang gelasnya.
Menatap air hangat yang tinggal sedikit.
Kemudian menjawab,
"Kayaknya enggak usah."
"Kenapa?"
Ibunya tersenyum tipis.
"Tidak bisa."
Jawaban itu terdengar datar.
Bukan seperti penyesalan.
Bukan pula seperti pengakuan.