Rasa Masakan Ibu

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #18

Epilog

Beberapa bulan kemudian, tidak banyak yang berubah.

Di kantor, seseorang membawa makanan dari kampung.

Kotak-kotak plastik dibuka di atas meja panjang.

Orang-orang berdiri mengelilinginya.

"Ambil saja."

Ia mengambil satu potong kecil.

Seorang rekan tersenyum.

"Masakan ibu."

Yang lain ikut mengangguk.

"Kalau pulang, yang paling dicari memang beginian."

"Iya."

"Mau makan di mana pun, tetap beda."

Tidak ada yang menjelaskan bedanya.

Tidak ada yang membicarakan bumbu.

Semua orang tampak mengerti.

Percakapan itu seperti kalimat yang sudah selesai jauh sebelum diucapkan.

Menjelang siang, pembicaraan berpindah ke rencana akhir pekan.

"Aku pulang."

"Kangen rumah?"

"Iya."

"Kangen masakan ibu?"

Tawa kecil terdengar.

"Jelas."

Percakapan bergerak lagi.

Tentang pekerjaan.

Tentang jalan yang macet.

Tentang harga kebutuhan yang naik.

Dunia terus berjalan.

Seolah setiap orang memang tumbuh dengan kenangan yang sama.

Lihat selengkapnya