Aku patut bersyukur dengan hidupku yang sudah sesuai dengan tempatnya saat ini. Di usia yang tergolong masih muda dan produktif, aku sudah mendapatkan semua yang aku inginkan. Harapanku sudah terwujud. Ketika memiliki rumah sendiri di usia muda menjadi hal yang sulit dijangkau bagi kebanyakan orang, tapi tidak bagiku. Untungnya aku tidak termasuk generasi muda yang suka menghabiskan uang hanya untuk memanjakan tren gaya hidup. Aku lebih suka berinvestasi untuk masa depan. Hasilnya, aku sudah memiliki hunian sendiri meskipun masih cicilan bank.
Selama tiga tahun aku berupaya menyisihkan gaji agar dapat membayar uang muka rumah impianku. Kupikir akan lebih menguntungkan jika aku mengambil rumah secepatnya. Selain karena harganya masih terjangkau, secara fisik aku juga masih kuat mencari uang untuk membayar cicilan. Aku selalu merasa ada sentuhan ajaib di dalam hidupku. Ya, bagaimana mungkin aku tidak bersyukur atas kebahagiaan yang sudah Tuhan berikan.
Ketika aku merasa menjadi orang yang paling beruntung dan berbahagia, ternyata tidak begitu dengan keluarga dan teman-teman di sekitarku. Mereka justru mengasihaniku disaat aku memiliki segalanya. Aku memang beruntung dalam pekerjaan dan karir, tapi sayangnya urusan jodoh berkata sebaliknya. Meskipun demikian, aku justru merasa bisa mendapatkan pengalaman yang menggembirakan dalam kesendirianku. Aku berhasil mencapai banyak hal yang belum tentu kudapatkan jika memiliki pasangan. Kadang aku merasa heran, kenapa orang yang menyandang status single diberikan stereotip aneh dan menyedihkan, seolah tidak ada kebahagiaan dalam hidup.
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan diriku. Aku sendiri merasa diriku cukup menarik. Kalau boleh sedikit sombong, diriku termasuk kategori perempuan cantik. Setidaknya aku memiliki kulit yang diimpikan oleh para perempuan Indonesia. Bahkan kulit putih yang kumiliki bukan hanya sekedar wajah putih cerah cemerlang karena kosmetik. Kulit putihku merata di sekujur tubuh yang aku dapatkan secara alami. Aku memiliki tubuh indah yang kudapat tanpa harus melakukan operasi plastik.
Jujur saja, aku memang sedikit bersikap dingin dengan para lelaki yang berusaha mendekatiku. Bagi sebagian lelaki yang merasa kucampakkan, mungkin saja menilaiku sombong atau terlalu jual mahal. Tapi yang kulakukan hanyalah menjaga harga diriku. Aku tidak mau repot-repot jika harus tebar pesona sehingga para lelaki memperhatikanku. Aku bukanlah perempuan yang suka mencari perhatian. Aku sendiri sebenarnya tidak keberatan jika harus melajang di usia yang menurutku masih muda. Menurutku di usia 29 tahun masih banyak pencapaian lebih besar yang bisa aku raih. Sungguh, aku tidak merasa menjadi single adalah kekuranganku.