Menjadi seorang diplomat merupakan mimpi besarku saat di bangku kuliah. Tapi aku juga memiliki cita-cita cadangan, andaikata dewi keberuntungan tidak berpihak padaku. Menjadi Diplomat bagiku adalah sebuah cita-cita mulia. Tidak lain karena membawa misi perdamaian. Suatu kebanggaan jika dapat mewakili negaraku agar lebih berperan di dunia internasional.
Aku sering membayangkan diriku bisa keliling dunia, dan kupikir menjadi Diplomat akan memuaskan jiwa petualangku. Sayangnya pada saat Kementerian Luar Negeri membuka lowongan kerja untuk mengisi posisi Diplomat, aku belum mendapatkan ijasah sarjanaku. Kecewa? Tentu saja karena aku tidak bisa mengambil peluang yang ada. Tapi kesempatan bisa saja datang setiap tahun. Optimis, itulah yang selalu kutanamkan dalam diriku. Bagiku, rasa optimis akan membawaku selangkah lebih maju daripada rasa pesimis.
Kebetulan aku orang yang tidak suka berdiam diri dan membuang waktu, karena waktu akan berjalan dengan sangat cepat. Sedikit saja aku lengah maka waktu yang telah lewat tidak akan bisa kukembalikan. Sedikit banyak, kegagalan dan keberhasilan ditentukan oleh seberapa baiknya diriku mengolah waktu. Jika uang hilang bisa dicari lagi, tapi tidak dengan waktu. Waktu yang telah pergi tidak akan bisa diputar kembali, kecuali aku memiliki mesin waktu yang bisa mengantarku kembali ke masa lalu. Yang pasti aku tidak ingin menyesal karena telah membuang waktuku begitu saja.
Aku telah berkomitmen dengan diriku sendiri dan aku berusaha untuk menepatinya. Jika aku mendapatkan gelar sarjanaku, maka aku harus bisa memanfaatkan waktu seefektif dan seproduktif mungkin. Hal itulah yang pertama kali terlintas saat toga kelulusan terpasang di kepalaku. Menyandang gelar sarjana bukan hanya tentang kebanggaan, ada sedikit beban yang kurasakan di pundakku. Rasanya sangat tertekan menjadi sarjana yang hanya berdiam diri di rumah. Kebanyakan orang akan melihat sarjana menganggur dengan sinis dan juga mencibir. Mereka akan mengatakan “buat apa sekolah tinggi-tinggi, ujungnya juga nggak kerja. Menghabiskan uang orang tua saja.” Tidak bisa dihindarkan jika hal itu telah menjadi stigma dalam kehidupan sosial. Tapi aku tidak menginginkan diriku menjadi korban stigmatisasi dari orang-orang yang memiliki pemikiran sempit seperti itu. Aku tidak ingin berada dalam tekanan sosial yang dapat membuatku kehilangan akal sehat.
Menaiki tangga karir begitu waktuku di Universitas berakhir, itulah keinginanku. Dan aku tidak hanya bertekad untuk mewujudkannya. Setidaknya aku sadar diri, aku tidak bisa langsung berada di puncak tangga tanpa melewati setiap anak tangga. Disitulah aku membuat keputusan untuk diriku. Sebelum mendapatkan pekerjaan impian, akan kugunakan gelar sarjanaku untuk mengakumulasi pengalamanku bekerja. Aku meyakinkan diriku bahwa aku bisa melakukanya. Aku hanya harus melewati sebuah proses untuk bisa mencapai tujuanku.
Seharusnya mencari pekerjaan di usia muda yakni 21 tahun tidaklah sulit. Karena sejauh yang aku tahu lulus dari universitas ternama dengan gelar lulusan terbaik menjadi senjata yang tidak bisa ditolak bagi banyak perusahaan. Tapi ternyata mencari kerja secara mandiri tanpa melibatkan relasi tidaklah mudah. Meskipun demikian, aku tidak ingin menjadi anak yang manja, banyak mengeluh dan selalu menyusahkan orang tuaku. Sudah lebih dari cukup dengan mereka membekaliku ilmu yang tinggi hingga mencapai sarjana, setelahnya aku akan berusaha dengan tangan dan kakiku sendiri. Itulah salah satu prinsip yang kupegang, yaitu kemandirian.
Sejak kecil aku memang sudah terlatih untuk mandiri. Bagiku kemandirian adalah hal yang sangat penting dan menjadi kebutuhan dalam hidupku. Setidaknya dengan bersikap mandiri maka aku menjadikan diriku sebagai subjek dan bukan objek. Hal itu menjadi penting bagiku, karena orang lain tidak akan meremehkanku. Kemandirian juga memberiku kepuasan pribadi, membuatku tidak bergantung pada orang lain. Aku pun merasa bebas dari campur tangan orang lain, bebas menentukan arah dan hidupku.
Sebagai perempuan yang memiliki kemandirian, aku harus memiliki kalkulasi yang tepat dan akurat dalam mengambil sebuah tindakan. Hal ini berlaku saat aku ingin memulai karirku. Meskipun aku ingin segera mendapat pekerjaan, tapi aku tidak akan mengirim berkas lamaranku ke sembarang perusahaan. Aku tidak ingin menjadi perempuan yang mendadak ceroboh, bertindak tanpa berpikir. Penyesalan tidak akan kubiarkan singgah meskipun sesaat di awal perjuanganku mewujudkan mimpi dan harapan.
Tidak ingin berbohong pada diriku sendiri, ketika pekerjaan impianku terlepas, aku harus berubah pada rencana cadangan. Aku mengubah sedikit mimpiku dari keliling dunia menjadi bekerja di perusahaan besar dengan salary tinggi, bonus oke dengan jabatan berpengaruh. Tapi aku tidak mau memberi makan ego dan gengsiku. Aku tidak ingin mereka bertumbuh subur dalam diriku. Bagaimanapun juga aku tetap harus rasional dalam menyingkapi keadaanku. Di dunia ini tidak ada yang instan, hal itu tidak aku sangkal. Untuk masuk ke perusahaan besar, aku yakin membutuhkan pengalaman bekerja. Saat ini aku sedang berjuang dari nol. Dan aku tidak keberatan akan hal itu. Bayi saja harus merangkak dulu baru bisa mulai berjalan. Aku percaya bahwa manusia telah memiliki perjanjianya sendiri dengan Sang Pencipta, tapi hidup adalah tentang perjuangan. Perjuangan untuk menentukan dimana diriku akan berakhir dan akan menjadi seperti apa aku nanti.
-000-
Tiada hari tanpa mengakses internet. Kegiatan inilah yang rutin menemani hariku. Kumainkan jari-jariku di atas keypad, mencari tahu setiap detail perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan. Mengenal seluk beluk perusahaan bagiku penting sebelum memutuskan menjadi bagian dari perusahaan tersebut. Dengan begitu aku bisa melihat jenjang karier yang jelas dan potensial untuk diriku. Jika menurutku perusahan tersebut memiliki reputasi dan rekam jejak yang baik, maka berkasku akan sampai di perusahaan tersebut. Jika aku tidak berhati-hati, bisa saja aku akan mudah tertipu oleh oknum yang mengatasnamakan perusahaan besar untuk mengambil keuntungan secara sepihak. Aku memang masih fresh graduate, ibarat kertas aku masih putih polos belum ternodai oleh goresan tinta. Tapi setidaknya aku mampu berpikir analitis.
Berbekal mimpi yang realistis, beberapa amplop coklat berisikan berkas lamaran kerja siap meluncur ke beberapa perusahaan. Usahaku untuk mendapatkan pengalaman kerja guna mengantarku menuju gerbang kesuksesan dimulai hari ini. Mendapatkan pekerjaan dari jerih payah sendiri adalah kepuasan yang tidak bisa dinilai dengan uang. Aku tidak akan pernah berhenti berharap, karena aku yakin kalimat ’dimana ada kemauan disitu ada jalan’ bukanlah sekedar deretan kata tanpa arti.
Satu minggu telah berlalu sejak kukirim berkas lamaran melalui kantor pos. Kurebahkan badanku di kasur sembari memegang ponsel. Pertanyaan demi pertanyaan muncul dalam kepalaku. Rasa gelisah mulai menyusupi hatiku. Belum ada satupun perusahaan yang menghubungiku. Aku melamar di dalam kota, seharusnya tidak membutuhkan waktu lama bagi perusahaan untuk menerima berkasku. Kubelalakkan mataku ke layar ponsel, berharap ada panggilan yang terlewat atau pesan teks yang belum terbaca. Helaan nafas panjang menyiratkan rasa kecewaku, terlepas begitu saja. Ah, sepertinya aku harus mencoba lagi.
Tidak kusangka secercah asa muncul diantara rasa kecewaku. Ponsel disampingku mengeluarkan nada dering. Aku merasa gembira, bahkan jika sekarang ada cermin di depanku akan tampak garis senyum yang tertarik di kedua sudut bibirku. Akhirnya, aku mendapatkan panggilan telepon dari salah satu perusahaan yang menerima berkas lamaran kerjaku.
“Selamat siang, kami dari perusahaan futures, bisa berbicara dengan mbak Devi.”
“Selamat siang bu, dengan saya sendiri.”
“Mbak Devi diharapkan kedatanganya besok pada hari Senin pukul sembilan pagi untuk melakukan sesi wawancara dengan kepala personalia kami.
“Oh iya bu, saya akan datang.”