Rasa Yang Tak Kunjung Usai

Desynata Purnamasari
Chapter #3

Dilema

Hari yang cerah untukku kembali bekerja setelah libur akhir pekan. Aku datang ke kantor lebih awal karena harus membenahi rambut dan riasanku. Sangat menyenangkan bekerja dan bertemu dengan teman-teman. Aku memiliki banyak teman yang menyenangkan. Bersama mereka hariku selalu ramai. Bahkan aku tidak pernah merasa kesepian. Setiap sore kami selalu meluangkan waktu untuk mampir ke kedai kopi favorit. Disana kami banyak bertukar cerita. Kami memang sudah memiliki kedekatan sejak kami menjalani pelatihan bersama. Maklum karena aku dan teman-temanku kebanyakan pendatang, jadi kami merasa sudah seharusnya saling mendukung satu sama lain. Di Semarang kami tidak memiliki keluarga, di sinilah peran teman dan sahabat diperlukan.

Sekian tahun menjalani profesi sebagai bankir, membuatku lupa arti bersenang-senang. Tingginya jam kerja dan banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan membuat kami tidak memiliki kualitas waktu bagi diri sendiri. Karena itu, setiap hari libur kami pasti menghabiskan waktu bersama untuk rekreasi. Pada waktunya aku mulai merasa aneh menghabiskan waktu luang bersama teman-temanku. Bagaimana tidak, kebanyakan dari mereka sudah memiliki pasangan. Tampaknya mereka juga mulai risih dengan kehadiranku yang selalu menjadi ‘obat nyamuk’ saat hangout bersama mereka. Seakan menjadi kompetisi, mereka bahkan berlomba-lomba mencarikanku pasangan. Bahkan terkadang aku merasa harus marah, kenapa di jamanku sekarang masih ada perjodohan.

Entah merasa putus asa atau mereka telah kehabisan akal untuk menjodohkanku. Tidak ada satupun lelaki yang mereka kenalkan berhasil meluluhkan hatiku. Bahkan sekarang mereka harus melibatkan seorang nasabah untuk mencarikan aku jodoh.

“Mbak Devi masih sendiri ya? Kata temannya, mbak Devi lagi cari calon suami? Aku punya ponakan pengacara lho, namanya Adi. Soal kemapanan jangan ditanya mbak. Rumah dan mobil sudah punya semua. Orangnya juga seiman sama mbak Devi.”

“Teman saya hanya bercanda bu, saya tidak sedang mencari calon suami. Saya terlalu sibuk bu untuk memikirkan pernikahan.”

“Ah, mbak Devi jangan bilang gitu. Pokoknya nanti aku suruh ponakanku ketemu sama mbak Devi ya.”

Salah satu nasabahku bahkan harus merekomendasikan keponakannya, sampai harta benda pun jadi andalan untuk meyakinkanku agar mau berkencan dengan anggota keluarganya itu. Entah karena nasabahku yang terlalu bersemangat atau keponakannya yang terlalu lugu, mau saja mengiyakan kencan buta tanpa tahu latar belakang perempuannya. Lucunya, aku tidak pernah mengiyakan nasabahku untuk bertemu ataupun berkenalan dengan keponakannya, tanpa ada angin juga hujan tiba-tiba keponakanya bernama Adi langsung datang ke kantorku. Bahkan dia rela menungguku dari jam 4 sore hingga larut malam. Padahal saat itu aku harus kerja lembur hingga jam 8 malam.

Meski menggerutu dalam hati, aku tetap menyanggupi ajakan makan malam dengan Adi. Ya, anggap saja sebagai bentuk respekku kepada lelaki yang sudah menungguku bekerja hingga larut malam hanya demi sebuah makan malam. Sayangnya malam itu tidak berjalan lancar untukku. Aku dibuat tidak nyaman oleh Adi. Bagaimana tidak, pada pertemuan pertama kami, aku sudah dikenalkan dengan keluarga besarnya. Lebih tepat jika aku menyebutnya sebagai acara reuni keluarga bukan kencan. "Astaga, tidak gentleman dan anak mama sekali lelaki ini," gumamku. Aku pribadi merasa sangat keberatan dengan kejadian malam itu. Seharusnya kami bisa saling mengenal, meskipun hanya sekedar mengetahui hobi masing-masing. Makan malam kami berlalu begitu saja dalam keheningan.

Sepulangnya dari makan malam, Adi lagi-lagi membuatku ingin langsung berpaling. Dari tempat parkir restoran hingga tiba di depan kosku, dia selalu membicarakan dirinya yang rajin beribadah. Aku memang perempuan yang memiliki keyakinan kepada Tuhan, namun aku tidak pernah mengagumi lelaki yang sering menggunakan jurus religiusnya hanya untuk mendapatkan perhatian perempuan. Karena menurutku, tidak seharusnya seorang lelaki dengan sengaja menunjukkan imannya agar dicintai perempuan. Iman seseorang tidak bisa dipamerkan begitu saja hanya untuk mengemis cinta.

Bagiku Adi hanyalah lelaki yang tidak bisa memahami hubungan sosial dalam perspektif yang benar. Alih-alih mendapatkan simpatiku, justru aku berpikir “apaan sih ini orang." Sikapnya bagiku tidak benar sama sekali. Tidak peduli apa yang akan dipikirkan oleh tantenya nanti, aku memutuskan untuk mengakhiri perkenalanku dengan Adi sampai di situ saja. Dapat kupastikan tidak akan ada perkenalan atau kencan kedua apalagi ketiga. Jika dia datang sebagai teman dan masih ingin menjalin silahturahmi, mungkin masih bisa diterima. Tapi aku akan menolak dengan tegas jika dia menawarkan hubungan menuju tahap yang lebih tinggi.

-000-

Lihat selengkapnya