Ratna dan Wisnu Tamat

ismiati wardani
Chapter #3

Bab 3

Bab 3


"Sebentar lagi pesawatmu akan berangkat," ucap Niky sambil menyodorkan teh kotak kepada Ratna, jika orang lain lebih memilih meminum air mineral atau minuman lainnya selain teh kotak. Beda halnya dengan Ratna yang lebih memilih teh sebagai minuman kesukaannya, karena Niky adalah sahabat terdekat Ratna maka ia tahu apa yang disukai dan tidak disukai oleh Ratna, dan sekarang keduanya sedang duduk di sebuah kursi tunggu di bandara.      

"Aku ingin mengatakan sesuatu," ucap Niky langsung tanpa berbasa basi karena waktunya sudah sangat mepet dan pesawat yang ditumpangi Ratna sebentar lagi akan berangkat. 

"Apa?" tanya Ratna sambil memandang ke depan melihat orang di depannya yang berlalu lalang sambil meminum tehnya.

"Ehemmm," Niky mencoba berdehem agar mendapat perhatian Ratna, tapi nihil karena Ratna tetap memfokuskan pandangannya lurus ke depan. "Aku tak akan pernah mencegahmu lagi karena sudah kucoba tapi hasilnya nihil dan tidak berhasil," ucap Niky yang sukses membuat Ratna mgalihkan pandangan ke arahnya.

"Maksudmu? Kenapa kau berusaha mencegahku?" tanya Ratna, tak mengerti.

"Kau tak perlu mengerti apa yang kumaksud," ucap Niky sambil memandang Ratna dan meremas kedua tangannya. "Tapi berjanjilah, kau tidak akan pernah mundur dan berusaha mengambil apa yang menjadi hakmu," terlihat jelas kebingungan di wajah Ratna tapi Niky tak membiarkan Ratna bertanya dan langsung memeluk Ratna erat. Karena dia tidak tahu harus menjawab apa ketika Ratna mempertanyakan sesuatu yang sangat sulit ia jawab.          

"Kau tahu? Kenyataan sebenarnya aku bukanlah sahabat yang baik. Aku tak pantas kau sebut sahabat, karEna kenyataannya adalah kau penolongku, menyelamatkanku dari sebuah kesengsaraan, dan sejak itu aku telah bersumpah! Aku akan menjadi pelayanmu, setia padamu, tapi tahukah kau? Aku tidak sebaik yang kau pikirkan," ucap Niky sambil memeluk Ratna dengan isak tangis yang tersendat-sendat.   

Semua orang menatap ke arah mereka dan langsung kembali kesibukan masing-masing. Mungkin pemandangan di hadapan mereka terlihat wajar karena yang berpelukan sambil menangis adalah dua orang perempuan. Dan menganggap mereka menangis karena sebuah perpisahan. Mungkin mereka mengira orang zaman sekarang terlihat lebay atau berlebihan.

Ada beribu-ribu pertanyaan yang berada dipikiran Ratna, entah kenapa perkataan Niky terkesan ambigu dan tak dimengerti olehnya. Tapi ya sudahlah, dari cara Niky langsung memotong ketika dia ingin bertanya sepertinya Niky tak ingin mendengarkan pertanyaan Ratna. Oleh sebab itu, saat ini Ratna hanya diam dengan beribu-ribu pertanyaan yang berada di kepalanya dan membalas pelukan Niky. 

Niky melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya dengan kedua tangannya.

"Jangan menangis!" ucap Ratna tersenyum menghibur berusaha menenangkan.

Niky tersenyum melihat senyum yang mengembang di sudut bibir sahabatnya. "Jangan lupa makan, jangan terlalu capek, jangan—"                        

"Okey, okey, suster bawel," keduanya pun tertawa, setelah mendengar sebutan Ratna untuk Niky.

Lihat selengkapnya