Bab 4
Di sebuah tempat lain, tepatnya di sebuah ruangan yang bernuansa maskulin, yaitu sebuah kantor dengan pencahayaan yang redup, seorang tengah duduk di kursi yang menghadap langsung ke arah luar yang berlepis kaca hingga memungkinkan sang pria melihat pemandangan di luar sana yang sangat menakjubkan.
Dari atas sini ia bisa melihat gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi dan lalu lalang kendaraan yang terlihat kecil dari atas. Tapi seakan keindahan tersebut tidak bisa mengalihkan pikiran sang pria yang hanya memandang lurus ke depan. Tak menghiraukan pemandangan yang sangat indah di hadapannya, mungkin karena sudah terbiasa, atau karena sang pria yang terlalu asyik memikirkan sesuatu hal, hingga pemandangan yang indah tersebut tak bisa menyingkirkan kegalauan sang pria.
Ruangan tersebut sunyi, detik berikutnya sang pria mengalihkan pandangannya ke pergelangan tangannya yang dihiasi jam tangan bermerek. Melihat jarum jam yang menunjukkan pukul empat sore.
Waktu terasa berjalan sangat cepat, tinggal beberapa jam lagi. Nanti malam adalah ulang tahun pernikahannya yang ketiga, biasanya dia tidak pernah merayakannya. Tapi saat ini tekatnya sudah bulat, dia akan melupakan masa lalunya. Cinta pertama, sekaligus istri pertamanya, tepatnya mantan istrinya. Cinta yang telah menghancurkan hatinya, mengkhianatinya, meluluh lantahkan perasaannya hingga hancur berkeping-keping tak tersisa.
Kata orang cinta membuat orang menjadi buta. Dan itu memang benar adanya, bukan bualan semata. Karena kenyataannya memang seperti itu. Dia jatuh cinta, istrinya meninggalkan dirinya. Tapi dia tetap bertahan menunggu dan menunggu. Berapa waktu yang ia habiskan dengan menunggu. Berawal dari berhari hari-hari. Hingga hari berubah menjadi minggu, minggu berubah menjadi bulan dan bulan berubah menjadi tahun.
Sungguh penantian yang sangat panjang, hanya demi seorang wanita yang mengkhianati dan meninggalkannya. Tak ia hiraukan cibiran dari orang orang yang mengatakan mantan istrinya meninggalkannya demi pria lain. Dia tetap bertahan, menunggu dan selalu menunggu istrinya kembali suatu hari nanti dan menjelaskan semuanya, menjawab pertanyaannya yang ia ingin tanyakan selama ini.
Kenapa dia pergi meninggalkannya?
Apa alasannya?