Ratna dan Wisnu Tamat

ismiati wardani
Chapter #5

Bab 5

Bab 5


Jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam saat Ratna sampai di sebuah bandara. Ratna berjalan dengan mendorong troli koper yang berisi berbagai macam pakaian dan oleh-oleh untuk putranya. Raka, dan suaminya. Tak lupa Rani dan juga kakek Wijaya. Dia juga memegang tas yang berisi peralatan make up serta barang-barangnya. Sedikit rasa kecewa yang ia rasakan ketika tidak ada satu orang pun dari anggota keluarganya yang menjemputnya.

Bodoh! Apa yang kau pikirkan Ratna? Bukan kah kau sendiri yang tidak menghubungi mereka karena bermaksud ingin memberi mereka kejutan? Lantas kenapa saat ini kau merasa sedih seakan mereka telah melupakanmu?

***

Hari sudah sangat malam saat Ratna sudah berada di taxi yang menuju ke kediaman rumahnya yang berada di pusat kota di Jakarta.

Taxi melaju dengan kecepatan cepat di keheningan malam. Seperti itu lah jatungnya sekarang yang berdetak dengan cepat, antara perasaan senang dan rasa khawatir yang coba ia ingkari. Seperti menunggu vonis hakim yang akan dijatuhkan kepadanya.

Entah itu sebuah kebahagian? Atau sebuah malapetaka yang telah menantinya? Pandangannya menyapu keluar jendela yang tak tertutupi oleh kaca. Karena sedari tadi Ratna menurunkan kaca. Terlihat di luar sana sudah sangat gelap dengan ditemani hujan rintik-rintik yang menemani sepanjanjang perjalanannya.

Ratna mengulurkan sedikit tangannya keluar jendela sehingga telapak tangannya terkena oleh air, sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Seperti biasa, hujan selalu menjadi pertanda akan pertemukan kita.

Empat puluh menit kemudian, taxi yang di tumpangi Ratna akan sampai ke tempat tujuannya terbukti dengan jalanan yang ia masih kenali, karena walau sudah delapan tahun ia meninggalkan negara ini. Tapi ia tetap tidak pernah melupakan seluk beluk jalanan menuju ke arah rumahnya.

Sudah malam. Apakah Raka sudah tertidur di jam segini? Sungguh Ratna sangat rindu dengan putranya, dan Ratna tidak bisa menghentikan perasaan yang menggebu-gebu ketika sebentar lagi dia akan bertemu dengan putranya yang telah lama ia rindukan. Entah seperti apa putranya sekarang? Apakah mirip dengan dirinya? Atau ayahnya Wisnu? Tapi mengingat saat Raka masih bayi dulu mungkin sekarang dia lebih mirip dengan ayahnya. Dan tak bisa ia pungkuri sudut hatinya berubah nyeri dan sangat khawatir, takut Raka marah dan tidak bisa menerima dirinya sebagai ibunya mengingat ia telah meninggalkan putranya sedari kecil.

Dan Wisnu, Entah kenapa jantungnya berdetak semakin cepat ketika menyebut nama itu?

Seperti remaja saja! Padahal usianya sudah melebihi kepala tiga. Tapi entah kenapa? Dia tak bisa menghentikan jantung yang berdetak dengan cepat ketika menyebut nama itu. Selalu seperti itu!

Tak terasa taxi yang ia tumpangi sudah berhenti di sebuah mansion yang terbilang sangat mewah.

"Turun di sini Bu?" tanya sang sopir dengan menolehkan kepalanya ke belakang.

"Iya Pak," ucap Ratna yang pandangannya masih menyapu ke seluruh mansion di hadapannya, bangunannya masih sama, masih persis seperti dulu tidak berubah sedikit pun. Tapi yang membuat Ratna mengernyit kening semakin dalam bukan terletak pada bangunan atau nuansanya yang berbeda. Melainkan terlekak pada deretan mobil mewah yang berjejer rapi di halaman depan rumahnya. Di dalam terlihat sangat ramai, seperti ada pesta.

Tapi kalau benar itu pesta? Pesta apa yang akan menyambutnya di dalam? Sedang sangat tidak mungkin pesta itu ditujukan untuk menyambut kedatangannya mengingat dia tidak memberitahukan ke seluruh anggota keluarganya perihal kedatangannya yang tiba-tiba.

Dengan mengenyahkan segala kebingungannya Ratna turun dari taxi dan ikut membantu sang sopir mengeluarkan dua kopernya dari dalam bagasi. Setelah menyerahkan uang pada sang sopir, taxi itu pun berjalan meninggalkannya. Membuang napas Ratna pun berusaha menetralkan debaran jantungnya yang menggila

Pandangannya menyapu ke dalam mansion berusaha mengintip pesta apa yang berada di dalam. Sudah hampir jam sembilan ketika Ratna melirik pergelangan tangannya yang di hiasi jam tangan.

Apa mungkin hari ini ulang tahun Raka? Ah tidak, dia sangat tahu hari ulang tahun Raka dan Wisnu, termasuk seluruh anggota keluarga lainnya. Hujan rintik-rintik mem-basahi tubuhnya ketika memasuki gerbang yang terbuka lebar yang dijaga oleh satpam dengan menarik kedua kopernya.

Entah kenapa ia merasa gugup dan gelisah secara bersamaan.

"Tolong bawakan koper saya ke dalam," ucap Ratna menatap satpam muda di hadapannya.

Lihat selengkapnya