Bab 6
Dia kembali. Kembali menginjakkan kaki di rumah ini setelah delapan tahun yang lalu dengan segala kemantapan hatinya dia meninggalkan rumah ini tanpa menoleh ke belakang sekalipun!
Bukan cuma rumah di hadapannya yang menjadi saksi bisu akan kebahagian yang dulu yang sempat ia rengkuh bersama Wisnu dan putra mereka. Dan juga rumah ini menjadi saksi bisu bahwa dengan kejamnya ia meninggalkan suami dan putranya yang masih berusia dua tahun!
Jika mengingat hal itu membuat Ratna kembali pada lubang penyesalan terdalamnya, tapi masih ada celah untuk memperbaiki semua. Dan sekarang dengan kemantapan yang ia miliki dia akan memasuki pintu di depannya. Meminta maaf, dan memeluk keluarga kecilnya erat.
Cukup satu kali aku melepas mereka! Tidak untuk kedua kalinya!
"Anda basah semua Nona," ucap satpam tersebut menyerahkan sapu tangan ke arah Ratna ketika mereka sudah sampai di depan pintu utama yang terbuka lebar.
"Terima kasih," ucap Ratna tulus sambil membersihkan tetesan air yang memabasahi wajah dan pakaiannya.
"Apa saya perlu memanggil pelayan Nona? Supaya membawakan handuk untuk Anda, tidak mungkin, kan? Anda masuk dalam keadaan basah seperti ini?" tanya satpam tersebut.
"Tidak usah, kau kembali saja ke tempat tugasmu, biar koper ini menjadi urusanku," ucap Ratna.
"Tapi Nona..."
"Tidak apa. Kau pergilah," ucap Ratna tersenyum.
Dengan berat hati satpam muda itu pun meninggalkan Ratna sendirian. Walau agak merepotkan karena masih memegang tas tangan Ratna tetap menarik dua koper yang berukuran sedang tersebut. Menyeretnya masuk ke dalam, tak lupa ia menaruh sapu tangan pemberian satpam tersebut kedalam tasnya. Ratna memasuki pintu di hadapannya yang terbuka lebar. Di dalam sangat ramai terdapat beberapa tamu yang mengerumuni membentuk sebuah lingkaran hingga Ratna tidak bisa melihat pesta apa yang berada di hadapannya.
Pandangannya menyapu ke seluruh penjuru ruangan utama yang terdapat beberapa hiasan-hiasan indah yang menjadi kesan romantis, beberapa orang terlihat berpakaian mewah seperti dari kalangan atas. Mungkin beberapa dari rekan bisnis keluarga Wijaya dan seluruh ruangan dipenuhi oleh tepuk tangan yang sangat ramai hingga Ratna tidak bisa mendengar apa pun.
Dengan tak sabar Ratna berusaha berjalan menerobos segerombolan tamu yang berkumpul dan bertepuk tangan dengan meriah dengan menggunakan pakaian yang sedikit basah dan dua koper yang ditariknya hingga menyulitkannya dalam berjalan. Ketika berusaha menerobos ada beberapa tamu yang merasa kesal karena tak sengaja ia senggol ada juga yang memandang remeh dirinya. Seperti berrtanya-tanya dengan pakaian basah seperti itu bisa masuk ke pesta sebesar ini.
Semakin mendekati arah depan yang ia ketahu tempat keluar Wijaya berkumpul termasuk Wisnu dan putranya Raka.
Jantungnya semakin berdegub dengan kencang. Langkahnya semakin cepat selaras dengan jantungnya yang bedegub dengan kencang. Perasaan khawatir yang ia rasakan lenyap seketika terganti oleh kebahagiaan yang tiada tara. Karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan putranya-Raka dan juga suaminya-Wisnu.
Hari-hari yang ia tunggu selama ini telah tiba. Selama ini dia bertahan hanya untuk momen seperti ini. Kesempatan seperti ini. Bibirnya tak henti-hentinya membentuk sebuah senyuman kebahagiaan. Tapi saat ia berada di barisan paling depan, ia bisa melihat semuanya dengan jelas!
Pandangannya terjatuh pada seorang pria yang sangat ia cintai sedang menyuapkan kue pada seorang wanita yang ia ketahui adalah adik sepupu nya. Bukan sampai disitu saja keterkejutan yang ia terima. Sedetik kemudian sang pria langsung mendaratkan sebuah ciuman sekilas ke bibir Rani. Hanya sekilas tapi efeknya membuat Rani sangat bahagia. Karena untuk pertama kalinya selama tiga tahun Wisnu menciumnya. Rani tesenyum dan membalas mengecup pipi Wisnu. Tangan yang memegan dua koper itu pun langsung lemas seketika, tak punya tenaga, gemetaran, seperti terserang arus listrik.
Dia tidak buta! Untuk tidak melihat tulisan yang tertera di kue tersebut.
Happy Anniversary
Itu artinya suaminya telah menikah lagi? Menikah dengan dengan adiknya sendiri?
Sunguh kenyataan yang baru ia temui bukan hanya membuatnya terkejut saja! Tapi juga membuat hatinya hancur! Berkeping-keping tak tersisa.
Hatinya begitu sakit! Tanpa sadar tangan yang gemetaran itu pun meremas dadanya.
Angan-angan kebahagiaan yang ia khayalkan selama ini kini terganti dengan kenyataan yang menghancurkannya! Meluluh lantahkan perasaannya! Dan menghancurkan segala impiannya.
Apakah aku sudah terlambat?
Apakah semuanya sudah berakhir?
Tidak ada yang menyadari kehancuran Ratna. Semuanya sibuk dengan acara mereka sendiri. Hingga sedetik kemudian ia terjatuh, terduduk di lantai yang dingin karena tubuhnya sudah tidak sanggup lagi menopang berat badannya. Ia terjatuh dengan gontai begitu pun dengan dua kopernya yang ikut terjatuh yang menimbulkan suara keras hingga menyebabkan seluruh pasang mata menatap ke arahnya.
Termasuk dengan pria di hadapannya yang milihatnya syok dan menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Ada yang berbeda dari pria di hadapannya. Rambutnya tak lagi sepirang dulu dan matanya tak lagi menatap lembut ke arahnya.
Ratna membalas tatapan pria di hadapannya dengan tatapan sakit, terluka!
Seluruh tamu undangan menatap ke arah Ratna, ada yang mencemoh. Karena wanita berpakaian basah seperti itu bisa masuk ke acara seperti ini. Ada juga beberapa yang terkejut mengenali Ratna sebagai istri pertama dari Wisnu. Seperti halnya dengan seluruh keluarga Wijaya yang terlihat syok tak terkecuali kakek Wijaya yang berada di kursi roda dan Rani yang berada di samping Wisnu dan juga Raka.
Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka. Sedangkan Ratna dan Wisnu masih saling pandang satu sama lain. Entah apa yang berada dipikiran mereka berdua masing- masing yang masih bungkam satu sama lain sampai pada pandangan Ratna yang teralihkan ke seorang anak laki-laki yang kira-kira berumur sepuluh tahun. Memakai kemeja warna biru langit dengan celana panjang yang sedang mentapnya dengan bingung.
Tanpa bertanya pun ia tahu siapa anak kecil di hadapannya.
Dia adalah putranya.