Bab 7
Hari sudah menjelang subuh. Tapi tak membuat seorang wanita yang meringkuk di atas ranjang tersebut untuk memejamkan mata, pakaiannya masih sama. Gaun yang sama yang ia kenakan kemarin malam.
Ratna meringkuk di atas ranjang menyatukan kedua lututnya yang meringkuk menyerupai seorang bayi, tak ia pedulikan ponsel yang berdering dari semalam yang memenuhi indra pendengarannya. Mungkin Niky yang menelepon karena khawarir, yang dilakukan Ratna saat ini hanya bisa menangis dan menangis, menangisi nasibnya yang begitu tragis, dia kehilangan suaminya. Dan yang lebih menyakitkan lagi dia sudah melihat putra kandungnya di depan matanya tapi dia tidak bisa merengkuhnya, memeluk-nya, dan nengatakan bahwa ia ibu kandungnya. Ibu yang melahirkannya, dan ibu yang selalu merindukan nya dengan segenap jiwanya.
Air matanya menetes semakin deras membasahi pipi putihnya yang terlihat pucat dengan lingkar hitam yang di bawah matanya.
***
Paginya semua keluarga Wijaya sedang berkumpul di ruang makan. Nampak kakek Wijaya yang berada di sisi paling depan. Posisi pemimpin keluarga. Dan Rani dan juga Wisnu yang berada di sisi kanan meja yang berbentuk panjang.
"Di mana Ratna?" tanya kakek Wijaya yang menghentikan gerakan Rani dari menyiapkan sarapan untuk Wisnu. Wisnu hanya menatap sekilas dan kembali acuh.
"Biar aku yang akan memanggilnya," ucap Rani.
Tapi sebelum Rani melangkah meninggalkan ruang makan. Terlebih dulu Wisnu berujar, "Tetaplah di sini, dan siapkan sarapanku," ucapnya tak terbantahkan membuat Rani mengurungkan niatnya untuk memanggil Ratna.
"Roni, suruh pelayan untuk memanggil Ratna ke mari, dan suruh dia turun untuk sarapan bersama," perintah kakek Wijaya pada pelayan pribadinya.