Bab 12
Paginya seperti biasa semua anggota keluarga Wijaya berkumpul di ruang makan kecuali Raka yang berangkat pagi-pagi sekali ke sekolah atas perintah Wisnu agar Ratna terhindar dari melihat Raka. Beberapa menit kemudian Ratna turun dari atas tangga sebelah kanan menggunakan gaun selutut berwarna pink sangat kontras dengan kulitnya yang putih pucat. Walau Ratna tak enak badan tapi ia tetap memaksakan diri untuk turun sarapan bersama. Setidaknya dia tidak demam seperti kemarin ketika bangun pagi.
Dalam hati ia berterima kasih pada Rani karena menyuruh pelayan untuk memberinya obat. Setidaknya Walau sekarang ia dan Rani adalah musuh tapi masih ada sedikit kebaikan di hati Rani.
Seperti kemarin Ratna duduk di hadapan Wisnu dan juga Rani. Dengan tatapan datar Ratna melihat semua aktifitas yang Rani lakukan ketika melayani Wisnu. Dulu aku yang berada di posisi itu. Batin Ratna dalam hati miris.
"Apa pekerjaanmu di Amerika?" tanya Wijaya pada Ratna.
"Aku bekerja sebagai dokter gigi di Amerika. Kakek tahu walau aku berasal dari keluarga Wijaya yang berkecukupan, tapi aku tak selalu mengandalkan harta peninggalan mama dan papa. Dari dulu aku sudah mandiri, bekerja disini juga sudah dua tahun," jawab Ratna mempertegas bahwa dirinya bukanlah Rani yang selalu mengandalkan harta keluarga.
"Oh kau tinggal bersama siapa di sana?" tanya kakek Wijaya lagi.
Mendengar pertanyaan Wijaya membuat Ratna tak ingin membalasnya, tapi demi Sopan santun Ratna terpaksa menjawabnya. "Namanya Niki, dia sahabat Ratna," jawab Ratna, membuat semua orang terdiam termasuk Wisnu yang teringat akan foto-foto menjijikkan itu.
Wisnu menahan amarah sedari tadi ketika kakek Wijaya bertanya dengan siapa Ratna tinggal. Walau Ratna tidak menjawab atau berbohong sekalipun. Ratna pasti tidak menyangka bahwa sekandalnya telah diketahui oleh dirinya dan kakek Wijaya. Wisnu tidak mengerti kenapa kakek Wijaya bertanya seperti itu pada Ratna padahal kakek Wijaya sudah tahu jawabannya, dia terkesan dengan kakek Wijaya walau dari dulu kakek Wijaya terkesan lebih menyayangi Rani tapi kakek Wijaya tidak memaki atau mengusir Ratna dari rumah ini. Malah menyuruh Ratna untuk tinggal di rumah ini.
Tapi tidak dengan Wisnu, amarah dan kecewa menguasai dirinya. Dia merasa marah dan cemburu secara bersamaan. Bukan pada seorang pria, melainkan pada seorang wanita.
Sial! umpat Wisnu dalam hati. Karena dikuasai oleh amarah Wisnu langsung berdiri dan meninggalkan meja makan. Begitupun dengan Rani yang memilih membawa tas Wisnu dan menyusul dari belakang untuk mengantar Wisnu seperti biasa.
Untuk kesekian kalinya Ratna merasakan apa itu rasa sakit, dulu dirinya yang berada di posisi itu.
***
Ratna memasuki sebuah Sekolahan Dasar yang di yakini itu sekolah Raka, karena ia bertanya pada pak Joko tadi. Dia ke sini dengan sembunyi-sembunyi, karena jika Wisnu sampai tahu dia mengunjungi Raka, pastinya dia akan di usir dari rumah itu atau lebih parahnya lagi ia tak diperbolehkan bertemu Raka seumur hidupnya.
Ratna bertanya pada murid di mana letak ruang guru, dan murid tersebut menunjuk salah satu ruangan.
"Assalamualaikum," ucap Ratna memberi salam bediri di ambang pintu. Kebetulan sekarang jam istirahat jadi semua guru berkumpul di ruangan itu.
"Ada yang bisa saya bantu Bu?" tanya guru yang berbadan gemuk menghampiri Ratna yang telah berdiri di ambang pintu.
"Saya ingin bertemu dengan Seorang murid di sini yang bernama Raka Wijaya Kusuma," ucap Ratna menyebutkan nama lengkap Raka.