Bab 16
"Sialan!" umpat Wisnu sambil kembali meninju tembok di samping Ratna, karena takut kembali melukai Ratna ia pun memilih meninggalkan wanita itu dengan amarah yang berkecamuk di dalam dadanya. Dia adalah Orang yang penyabar. Entah sejak kapan ia berubah menjadi penuh amarah dan dendam.
"Tak tahu kah kau Wisnu, bukan hanya kau saja yang terluka oleh kepergianku, aku juga terluka karena harus meninggalkan kalian berdua!" teriak Ratna terduduk di lantai dengan belinang air mata dan ia yakin Wisnu mendengarnya.
Sedang dilain pihak, Dia tidak tuli untuk tidak mendengar teriakan Ratna. Dia mendengarnya dan ia benci pada dirinya sendiri karena ikut merasakan sakit ketika mendengar teriakan penuh kepedihan itu. Dia membenci Ratna karena telah meninggalkan mereka berdua. Tapi perasaannya terhadap Ratna? Entahlah, dia ikut merasakan sakit ketika dengan sengaja ia melukai Ratna dengan mengatakan bahwa ia mencintai Rani.
Jika Ratna sengaja meninggalkannya demi seorang wanita kenapa ia merasa terluka ketika ia mengatakan tidak akan meninggalkan Rani dan mengatakan mencintai Rani. Satu hal yang tidak ia mengerti, ia benar-benar tidak mengerti apa yang dipikiran Ratna.
Sesampainya di dalam kamar ia menemukan Rani yang tertidur membelakanginya. Syukurlah Rani tertidur, ia berharap Rani tidak mendengar pertengkarannya dengan Ratna. Walau tidak ada cinta dalam pernikahan mereka, tapi sebagai pria Wisnu sangat menghormati Rani sebagai istrinya.
Tanpa Wisnu ketahui setelah mematikan saklar lampu dan berbaring di samping Rani. Rani membuka matanya dan mencengkram seprai yang berada di bawahnya. Dia tidak tertidur, dia hanya pura-pura. Tadi ia berniat ke dapur untuk mengambil air putih dan mendengar suara pertengkaran mereka. Lalu ia mengintip di depan kamar Ratna yang saat itu terbuka lebar dan ia mendengar pertengkaran mereka. Ia sangat takut Ratna akan menceritakan kejadian yang sebenarnya dan itu sangat membahayakan posisinya sekarang.
Tapi ia bersykur Ratna terpancing oleh perkataan Wisnu dan tidak menceritakan apa pun. Sekarang ia bisa tenang, tapi bagaimana dengan esok dan ke esokan harinya? jika sampai rahasia di antara mereka terbongkar dia bukan hanya kehilangan Wisnu dan Raka saja, tapi dia akan di usir dari rumah ini. Bagaimanapun dia sangat mencintai Wisnu dan sangat menyayangi Raka, walau Raka bukan putra kandungnya dan tidak terlahir dari rahimnya. Tapi delapan tahun ia mengurus Raka dan ia sudah menganggap Raka sebagai putra kandungnya sendiri. Kehadiran Raka membuatnya serasa menjadi wanita sempurna dan tidak teringat akan kecatatannya yang tak bisa mengandung.
Rani sangat menyangi keluarga kecilnya yaitu Wisnu dan Raka. Walau pernikahan mereka tanpa cinta, ya itu hanya cinta sepihak, tapi ia cukup bahagia karena mempunyai Wisnu sebagai suaminya dan Raka sebagai putranya.
Dia harus mencari cara agar Ratna pergi dari rumah ini! Terdengar kejam bukan? Tapi tidak ada pilihan lain baginya. Karna sejak awal dia lah yang menjadi pemeran jahat.
Paginya Ratna terbangun seperti biasa, tadi malam ia menangis di ranjang sampai ia tertidur. Dia bukan orang yang kuat seperti Rani. Dibanding Rani, Ratna cenderung lemah dan mudah sekali menangis. Ratna melirik sebuah koper yang berada di pojok lemarinya. Ya itu koper yang berisikan oleh-oleh untuk putra, suami … ah ralat mantan suami dan juga Rani serta kakek Wijaya. Ratna membiarkan koper itu terbengkalai di pojok lemari. Tidak ada niatan untuk membukanya dan membagikan pada seluruh anggota keluarga Wijaya.
Untuk apa? Semua yang berada di sini sudah tidak menganggapnya sebagai salah satu anggota keluarga Wijaya. Kecuali Raka, Ratna akan berusaha mendekati Raka pelan-pelan, lalu jika ada waktu ia akan memberikan hadiah ini pada putranya. Dan jika memungkinkan Ratna akan memberitahu Raka kalau dia adalah ibu kandungnya. Ratna turun dari ranjang mengambil handuk dan melangkah ke kamar mandi.
***