Bab 18
Setelah acara makan malam selesai, tinggalah Ratna yang tetap diam di kursi yang ia duduki dan Rani yang mencoba membereskan beberapa sisa makanan dan piring kotor yang berada di meja makan di temani beberapa Pelayan. Ratna menatap Rani datar kemudian mengusir pelayan tersebut.
"Jawablah Rani! Apa ini ide darimu perjodohan ini berasal?" tanya Ratna sambil menatap Rani tajam, tapi Rani hanya acuh dengan tuduhan tersebut.
"Kau tak punya bukti dengan memberikan tuduhan itu kepadaku," jawab Rani sambil membawa piring kotor tersebut dan berniat akan pergi, tapi tak sampai dua langkah lengannya ditarik oleh Ratna. Untungnya piring tersebut tidak jatuh.
"Benarkah?" tanya Ratna sambil menatap Rani sinis. "Aku mencium bau kebohongan yang berasal darimu, sampai kapan kau akan terus berbohong Rani! Kau pastinya sudah berbohong dengan tidak memberikan surat itu kepada Wisnu! Kau merebut posisiku sebagai istri Wisnu dan sebagai ibu dari Raka, dan sekarang apa?! Kau mencoba mengusirku dengan cara menjodohkanku?!" ucap Ratna marah. Dia marah dengan wanita di hadapannya.
"Kau tak punya bukti yang kuat untuk menuduhku, dan masalah surat itu, aku memang tidak memberikannya pada Wisnu."
"Kenapa!?" tanya Ratna marah.
"Karena aku mencintai Wisnu!" teriak Rani di hadapan Ratna membuat Ratna tekerjut.
"Sejak kapan?" tanya Ratna penasaran.
"Semenjak Wisnu menolongku dari Rendi, diam-diam aku mencintainya," ucap Rani jujur membuat Ratna marah sepontan untuk pertama kalinya menampar Rani.
"Menjijikkan!" ucap Ratna, rasa marah dan sakit yang Ratna rasakan tidak sebanding dengan tamparan yang Rani terima.
"Kau sudah puas menapar dan menghinaku sekarang menyingkirlah dari hadapanku!" ucap Rani.
"Aku tidak akan menyingkir dari hadapanmu sebelum kau berkata yang sejujurnya tentang perjodohan ini!?" ucap Ratna tak mau kalah.
"Iya memang aku yang mengusulkan perjodohan ini pada kakek Wijaya. Ini demi kebaikan kita semua, karena kisah kalian telah berakhir delapan tahun yang lalu," ucap Rani.
"Kisahku dan Wisnu belum pernah berakhir Rani, ini baru permulaan, karena kau masuk di tengah-tengah kami dengan kebohongan. Dan aku bersumpah! Aku akan mengambil hakku yang telah kau rampas!" ucap Ratna dan pergi meninggalkan Rani.
Malamnya di ruang kerja Wisnu suara ketukan pintu menghentikan Wisnu dari pekerjaannya.
"Masuk," ucap Wisnu dari dalam. Terlihat Roni yang membuka pintu dan melangkah masuk.
"Tuan, pak Wijaya memanggil Anda ke kamarnya," ucap Roni.
"Baiklah," jawab Wisnu menghelang napas. Apa lagi yang diinginkan kakek Wijaya. Tadi ia sempat bersyukur karena Ratna menolak perjodohan ini, dalam hatinya ia tetap tidak rela Ratna dimiliki pria lain. Jujur saja perasaan ini sungguh membingungkan untuk Wisnu, ia membenci sekaligus mencintai Ratna dalam waktu bersamaan. Ia pikir perasaannya sudah hilang karena terhapus oleh kebenciannya pada Wanita itu. Ternyata dia salah. Debaran di hatinya masih sama ketika berdekatan dengan Ratna. Rasa khawatir, cemas, segala perasaan bercampur aduk jadi satu masih sama seperti sebelumnya.
Setelah kepergian Roni, Wisnu pun membereskan kertas-kertas yang berada di hadapannya. Lalu pergi ke ruang kamar kakek Wijaya yang berada di lantai bawah dan mengutk pintunya.