Bab 19
Sudah seminggu Wisnu tidak melihat Ratna sama sekali. Di pagi hari Ratna berangkat ke rumah sakit tanpa sarapan dan di malam hari Wisnu selalu pulang lembur jam sembilan malam dan tidak melihat Ratna sama sekali.
Ada perasaan rindu yang berada di hatinya, tapi ia coba ingkari. Malam ini ia pulang lembur lagi, pulang jam delapan malam. Ia tak langsung membelokkan mobilnya ke rumah. Tapi ia membelokkan mobilnya ke sebuah cafe di Jakarta. Ia ingin bersantai untuk menjernihkan pikirannya yang mulai kalut karena merindukan sosok Ratna. Perasaan yang selalu ditepisnya. Dan mencoba meyakinkan dirinya bahwa jalan yang ditempuh adalah jalan yang terbaik bagi semua orang.
Wisnu memasuki sebuah cafe dan ia memesan kopi pada pelayan. Dia duduk di sebuah meja dan menatap pengunjung yang tidak terlalu ramai, lalu tatapannya berhenti pada seorang wanita yang ia kenal. Wanita yang selama seminggu ini tidak ia temui.
Wanita tersebut terihat sendirian dengan sebuah cangkir yang berada di tangannya. Wisnu berdiri dan menghampiri wanita tersebut. "Ratna kau berada di sini?" tanya Wisnu duduk di hadapan Ratna yang kebetulan kursi itu sedang kosong.
Ratna yang sedang meminum kopi tekerjut melihat Wisnu di hadapannya. "Kau? Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Ratna.
"Aku bertanya kau malah bertanya balik," ucap Wisnu kesal. Entah itu kesal karena Ratna yang membalasnya bertanya atau ia kesal karena tak pernah melihat Ratna selama seminggu ini. Ia yakin Ratna menghindarinya. Walau terkadang ia berpikir ini yang terbaik bagi mereka. Tapi tak bisa dipungkiri ia juga merindukan wanita di hadapannya.
"Di luar hujan jadi aku ke sini untuk sekedar menghangatkan badan dengan segelas kopi hangat," jawab Ratna berbohong. Karena ia selalu datang ke sini untuk sekedar menenangkan pikirannya dan ingin menjahui Wisnu.
Mereka berdua terdiam, terlihat canggung satu sama lain. Lalu keterdiaman mereka mencair oleh perkataan Ratna. "Aku sudah memutuskannya," ucap Ratna menatap Wisnu sendu.
"Memutuskan apa?" tanya Wisnu.
"Soal perjodohan itu, aku ingin menemui pria yang kakek jodohkan untukku."
Seharusnya Wisnu senang karena keinginannya sudah terpenuhi, tapi jauh di dalam lubuk hatinya itu terasa sakit dan tidak rela. "Baiklah, aku akan bicara pada kakek agar mengatur pertemuan kalian," ucap Wisnu.
Tak lama kemudian seorang pelayan datang dan menyerahkan secangkir kopi hangat untuk Wisnu. "Terima kasih," ucap Wisnu pada pelayan tersebut.
Wisnu meminum kopinya begitupun dengan Ratna. Keduanya hanya terdiam canggung, untuk pertama kalinya mereka bertemu setelah insiden di balkon. Entah apa yang mereka pikirkan hanya mereka yang tahu.
Ratna menatap ponselnya yang seperti biasa ada pesan masuk setiap harinya tapi selalu ia abaikan, yaitu pesan dari Niky. Dia selalu menanyakan kabar atau mengingatkannya untuk makan dan lainnya. Ratna hanya membaca dan mengabaikannya. Dia marah pada Niky. Tapi dia tak bisa membencinya, karena Niky ada saat Ratna berada dititik terendah dalam hidupnya.
"Kau ke sini membawa mobil?" tanya Wisnu.
"Tidak, aku kesini naik taxi mobilku mogok,"