Bab 22
Ratna terbangun saat azan subuh berkumandang, setelah salat subuh Ratna ke dapur untuk memasak yang di temeni bok Mirna.
"Bibi pergilah, biar saya saja yang memasak hari ini."
"Tidak Nyonya, ini sudah tugas saya."
"Jangan panggil Nyonya. Aku bukan Nyonya Kusuma lagi," ucap Ratna terlihat biasa saja. Tapi Mirna yang mengenal Ratna dari kecil bisa menangkap nada kesedihan dari Ratna.
"Saya dengar Nyonya Ratna sudah berpisah dengan pak Wisnu lima tahun lalu, boleh Bibi tahu alasannya?" tanya Mirna penasaran dan tidak menuruti perintah Ratna untuk tidak memanggilnya nyonya kembali.
"Panjang Bi dan Ratna tidak ingin membahasnya," jawab Ratna meracik bumbu untuk dibuat nasi goreng.
"Masalah dalam rumah tangga itu wajar di setiap hubungan. Kalian bisa menyelesaikan tanpa adanya perceraian demi anak kalian, karena Bibi yakin masih ada cinta di antara kalian mengingat kalian begitu mencintai di masa lalu," ucap Mirna bijak kemudian meninggalkan Ratna.
Ratna membenarkan, perceraian bukan solusi dari setiap masalah. Tapi dia bisa berbuat apa jika perceraian itu terjadi tanpa sepengetahuannya dan untuk cinta … hanya dirinya yang mencintai Wisnu tapi tidak dengan pria itu.
Ratna memasukkan bumbu pada nasi pada wajan dan menggorengnya, dulu dia akan menyiapksn sarapan setiap Ratna ada waktu di hari Minggu karena sibuk menempuh pendidikan mengejar karier seorang dokter. Ratna tidak pandai memasak seperti Rani.
Wisnu terbangun dan melangkah ke dapur untuk mengambil air mineral. Saat ia di dapur ia mencium bau masakan yang menggugah selera. Wisnu bisa melihat Ratna yang memasak dari arah belakang, memorinya langsung berputar ke masa lalu. Kalau dulu Wisnu akan memeluk Ratna dari belakang ketika Ratna memasak sekedar menggodanya. Kalau sekarang Wisnu hanya bisa menatap punggung Ratna.
"Sedang memasak apa?" tanya Wisnu memeluk Ratna dari belakang.
"Nasi goreng kesukaanmu," jawab Ratna sambil menggoreng.
Wisnu yang mendengar itu tersenyum menyeringai. Dengan iseng Wisnu mengecup leher belakangnya dan memberikan tanda kepemilikan.
"Diam lah Wisnu jangan menggangguku, atau aku akan—"
"akan apa?" tanya Wisnu sambil membalikkan badan Ratna menghadapnya, membuat Ratna terperanjat. Lalu secepat kilat Wisnu mengecup bibir Ratna dan melangkah pergi. Berlari menjauh.