Bab 23
Malamnya saat makan malam terdengar suara bel yang dibunyikan. Seorang pelayan wanita datang membuka pintu nampaklah Bisma yang datang membawa sebuket bunga mawar di tangannya. Bisma muncul di hadapan keluarga Wijaya. Tanpa disadari Wisnu menatap ke arah bunga yang dipegang Bisma. Tidakkah Bisma tahu? Bahwa Ratna tidak menyukai bunga, apa lagi itu mawar? Pikir Wisnu.
Wijaya yang melihat Bisma itu pun terheran-heran pasalnya empat hari berlalu setelah perjodohan itu dan Bisma tak pernah menunjukkan batang hidungnya di hadapannya.
"Bisma, kau kah itu?" tanya kakek Wijaya pada Bisma.
"Ah hai Kek, Ratna yang menyuruhku datang ke sini tadi sore," ucap Bisma menatap Ratna.
Wijaya dan Rani yang mendengar itu pun merasa senang karena seakan mendapatkan lampu hijau dari Ratna atas perjodahan itu. Sedang Wisnu dan Ratna entah kenapa saling pandang, dari tatapan itu menunjukkan bahwa Ratna menantang Wisnu. Mereka tetingat akan perkataan Ratna di balkon. Baiklah kalau begitu, aku akan menikah kembali, dan aku takkan berhenti, walau suatu saat kau menyuruhku untuk berhenti.
Apakah ini yang kau inginkan Wisnu? ucap Ratna dalam hati.
Bisma pun duduk di samping Ratna, sebelum duduk Bisma memberikan sebuket bunga mawar terhadap Ratna dan Ratna pun menerimanya dengan tersenyum. Wisnu yang melihat itu merasa kesal, karena ia tahu betul Ratna tidak suka bunga. Saat mereka SMA Wisnu pernah memberi setangkai mawar. Tapi Ratna tak menerimanya dan mengatakan ia benci bunga, tapi kenapa di hadapan Bisma Ratna menerimanya dengan senyuman?
"Selamat malam Ratna." Sapa Bisma. Lalu tanpa di duga Bisma berbisik di telinga Ratna. "Semoga jawaban yang kau beri tidak mengecewakan," ucap Bisma membuat Ratna terkejut, bagaimana pria ini tahu bahwa dirinyalah akan memberi jawaban pada Bisma, sedang dirinya tidak mengatakan apa pun pada Bisma.
"Bagaimana keadaan keluargamu?" tanya Wijaya pada Bisma.
"Ah mereka baik, dan mereka menitip salam pada Kakek Wijaya."
"Salam balik untuk mereka," ucap kakek Wijaya.
"Bisma ke sini untuk mendengar jawaban dari Ratna yang telah Ratna janjikan," ucap Bisma menatap Ratna lekat dan Ratna pun balas menatapnya. Semua yang ada di meja itu berwajah tegang termasuk Wisnu, Wisnu berharap Ratna menolak perjodahan itu, ia belum siap melihat Ratna bersanding dengan pria lain. Mungkin besok, atau besok lusa, dan seterusnya. Sedang Rani dan Wijaya berharap bahwa Ratna menerima perjodohan karena ini yang terbaik bagi mereka.
"Bagaimana Ratna apa kau bersedia menerima perjodohan ini?" tanya Wijaya.
Ratna menatap Wisnu dan Wisnu pun sebaliknya. Tak ada yang tahu banyak emosi yang berkecamuk di benak mereka.
"Apa kah kau mencintainya? Kau mencintai Rani?" tanya Ratna penasaran karena pertanyaan ini lah yang ingin ia tanyakan setelah mendengar dari Rani bahwa Wisnu lah yang melamarnya duluan.
"Tentu saja ia, dia istriku," ucap Wisnu datar. "Iya benar. Aku mencintai Rani. Dan tak ada cinta sedikit yang tersisa di hatiku untukmu."
"Iya Ratna bersedia," jawab Ratna menatap Wisnu. Dan untuk pertama kalinya dia puas melihat wajah terkejut Wisnu. Sedangkan Rani yang mendengar jawaban Ratna menatap suaminya yang berada di sampingnya. Ia tahu pasti Wisnu terluka dengan semua ini, tapi apalah daya ini semua yang terbaik. Sedangkan Bisma yang mendengar itu reflek mengambil tangan Ratna dan mencium punggung tangannya.
"Terima kasih Ratna," ucap Bisma. Tapi Ratna tidak menatap Bisma, ia melihat ke depan, melihat Wisnu.
Bisma yang menyadari mengikuti tatapan itu dan menemukan Ratna dan Wisnu saling tatap, sedangkan istri dari Wisnu menatap suaminya. Ada apa dengan keluarga ini? Tanya Bisma dalam hati. Yang Bisma tidak ketahui Ratna adalah mantan istri dari Wisnu, karena selama ini ia tinggal di luar negeri dan ayahnya tidak mengatakan apa pun selain menunjukkan foto Ratna dan mengatakan bahwa ia seorang janda dan pernah melahirkan seorang putra.
"Bagaimana kalau kita merayakannya dengan nonton bioskop. Aku sangat suka film. Tapi karena kesibukan, aku tak ada waktu untuk nonton," ucap Bisma pada seluruh orang yang berada di meja itu.
"Ah itu ide yang baik, tapi Kakek terlalu tua untuk pergi dengan kalian. Kalian berempat saja yang pergi," ucap Wijaya.
"Kau mau pergi denganku?" tanya Bisma pada Ratna.
"Ya, tentu saja," jawab Ratna balas menatap Bisma.
"Bagaimana kalau kau ikut juga dengan kami bersama istrimu," ucap Bisma pada Wisnu.
"Tidak usah, aku banyak pekerjaan malam ini," tolak Wisnu, karena ia tak ingin lebih cemburu lagi melihat kedekatan Ratna dan Bisma.
"Ayo lah Wisnu, kapan lagi kita bisa keluar rumah menghabiskan waktu untuk nonton," mohon Rani.
Wisnu menghelang napas, yang Rani katakan benar. Kapan lagi ia bisa keluar untuk sekedar nonton? Karena waktunya ia habiskan dengan urusan kantor.
"Baiklah," jawab Wisnu membuat Rani senang karena untuk pertama kalinya ia bisa keluar rumah tanpa Raka. Bukannya dia tak suka jika keluar rumah bersama Raka, tapi dia ingin merasakan seperti pasangan lain, berkencan dengan suaminya.
"Sudah diputuskan kita berempat akan nonton bioskop malam ini," ucap Bisma.