Bab 26
Ratna turun ke bawah untuk sarapan pagi. Ternyata di meja makan hanya ada Rani dan Raka, tidak terlihat adanya Wisnu, maupun kakek Wijaya. Dia ingin mendekati Raka. Tapi niatnya urung karena ada hal yang lebih penting dari ini. Ratna membuka kamar tamu yang ditempati Niky setelah sebelumnya bertanya pada pelayan yang lewat.
Ratna mencoba mengetuknya tapi tidak ada jawaban. Akhirnya pun Ratna membukanya dan tidak di kunci. Ratna mencari keseluruh lantai dasar termasuk dapur. Rani yang melihat itu lebih tidak menghiraukan sendiri dan asyik sarapan dengan Raka. Akhirnya Ratna pun ke kolam renang dilihatnya Niky sedang berenang dengan menggunakan bikini. Melihat Ratna yang berdiri di tepi kolam renang Niky pun akhirnya menepi. Ia duduk di pinggiran kolam.
"Ada apa?" tanya Niky.
"Apa kau tahu kenapa Wisnu mengira kita lesbi?" tanya balik Ratna pada Niky.
"Lima tahun lalu uang yang kau titipkan padaku habis untuk pengobatan ayahku," ucap Niky mencoba mengingat kejadian tersebut. Ratna tidak bertanya memilih menjadi pendengar yang baik. "Saat itu aku sangat bingung dan putus asa, aku tak bisa meminjam uang ke Bank karena gajiku yang hanya penjaga kantin rumah sakit. Mau jual diri pun seperti dulu itu bayangan sangat mengerikan bagiku di setubuhi ramai-ramai hingga hamil. Aku tak ingin anak keduaku bernasib sama seperti Clara disebut anak haram." Ungkap Niky sedih. Ratna yang mendengar itu pun tersentak kaget tapi memilih untuk diam mendengarkan.
"Aku putus asa dan tidak berdaya. Kau dan ayah adalah hal paling berharga bagiku. Maka saat itu aku bertanya padamu alamat keluarga Wijaya dengan tujuan meminta uang."
"Kau memberitahu mereka?" tanya Ratna panik.
"Tidak tentu saja tidak, aku menepati janjiku dengan merahasiakan sakitmu," ucap Niky membuat Ratna lega.
"Kau percaya padaku saat aku mengatakan ingin mengunjungi nenekku yang ada di Indoensia padahal nenekku telah meninggal sejak lama. Saat lima tahun yang lalu di waktu pagi aku berdiri depan rumahmu untuk bertemu dengan kakek Wijaya. Kakek Wijaya pun bertanya aku siapa? Lalu aku menjawab aku adalah temanmu, dan dia tidak percaya. Akhirnya aku menunjukkan banyak fotoku bersamamu. Dia bertanya apa tujuanku? Aku ingin meminta uang yang banyak untuk pengobatan ayah. Lalu dia bertanya keberadaanmu, dan aku menjawab sedang berada di Amerika. Tetlihat wajah kelegaan di wajah tuanya saat itu aku menyadari bahwa bagaimanapun kau cucunya," ucap Niky menatap Ratna.
"Lalu?" tanya Ratna.
Niky menatap Ratna ragu untuk mengatakan atau tidak pemasalahan yang sebenarnya "Lalu kakek mengatakan dia akan memberikanku uang asalkan aku bisa membuatmu bercerai dengan Wisnu," ucap Niky menatap Ratna yang terkejut mendengar perkataan Niky.
Ternyata selama ini dalang dari kesalahpahaman yang terjadi bukan lah Rani tapi kakeknya sendiri. Sungguh kenyataan tidak ia duga dan sangat menyakitkan baginya.
"Jangan diteruskan…" ucap Ratna.
Niky tak mendengarkan dan melanjutkan ceritanya karena ini waktu yang tepat untuk Ratna segalanya. "Aku marah, dan memaki-maki kakekmu. Saat hendak pergi aku terbayang oleh wajah sakitmu dan ayah maka aku memutuskan untuk menerima syarat dari kakek Wijaya. Kebahagiaanmu penting, tapi nyawamu jauh lebih penting," ucap Niky membuat Ratna terharu dan langaung memeluk Niky. "Kami pun bertukar nomer ponsel. Sesampainya di sana aku pikir bagaimana caranya agar kau dan Wisnu bercerai, kepergianmu selama tiga tahun tidak membuat Wisnu membencimu malahan menunggumu, itu yang ku dengar dari kakek Wijaya. Maka saat kau minum susu aku menaruh obat tidur di dalamnya. Aku pun menelanjangiku dan dirimu dan seorang fotografer memotret beberapa pose seakan kita bercinta. Tentu saja foto itu sangat menjijikkan dan membuat Wisnu membencimu dan menceraikanmu tanpa bertanya kau dimana dan bagaimana keadaanmu," ucap Niky yang sejak tadi melepaskan pelukannya. "Dengan segala akal aku menyuruhmu menandatangi surat cerai itu dengan alasan kalau surat itu adalah surat dari rumah sakit seperti biasa. Aku mencari waktu lengahmu ketika kau baru bangun tidur dengan tidak curiga kau menandatanginya. Itu lah awal di balik perceraianmu yang tidak kau ketahui, tampar aku, pukul aku, aku memang salah. Aku pantas mendapatkan amarah dan kebencian darimu," ucap Niky sambil mengambil kedua tangan Raka dan memukulkan ke dadanya.
Ratna yang berusaha melepaskan tangannya dari pegangan Niky. "Jangan seperti ini, kau tidak salah, aku yang salah karena melimpahkan segala permasalahan padamu. Mungkin bagiku kebahagiaanku adalah Wisnu. Tapi aku sadar, masih ada Raka. Dan aku masih bisa bernapas dan melihat Raka dan Wisnu sekarang adalah kebahagian yang sesungguhnya. Aku bukan hanya penolongmu, kau juga penolongku. Maaf," ucap Ratna dan kemudian keduanya menangis bersama.
Beberapa menit kemudian saat semua telah tenang dan Ratna dan Niky suduk di sebuah kursi di samping kolam renang dengan Niky yang sudah memakai jubah mandi Niky pun bertanya. "Kau tak ingin menemui kakek Wijaya?"
"Untuk apa? Bertanya marah? Nasi sudah menjadi bubur walau pun aku marah dan bertanya semuanya sudah terlambat aku sudah bertunangan dengan orang lain dan akan menikah. Dan Wisnu sudah tidak mencintaiku lagi," ucap Ratna menatap lurus ke depan. Tapi Niky tahu saat ini hati Ratna sangat lah terluka.
"Aku pernah bilang padamu, kan? Kalau aku pernah menitipkan surat pada Rani untuk diberikan pada Wisnu, dan ternyata Rani tidak memberinya. Melihat dari perbuatan Rani dan Kakek, aku menyimpulkan aku bukan anggota dari keluarga Wijaya. Jika aku cucu dan seorang kakak dari keluarga ini mereka tidak akan tega menghancurkanku sedalam ini," ucap Ratna menoleh pada Niky dengan tersenyum.
"Jika keluarga ini menolakmu, kau masih punya Raka, aku, Clara, dan ayah."
"Terima kasih Niky," ucap Ratna tulus.
"Kau adalah keluargaku, kakakku, sekaligus sahabatku, kita terikat dalam tiga hubungan. Dalam satu hubungan saja tidak ada ucapan terima kasih apalagi dalam tiga hubungan," ucap Niky mencoba bercanda tapi Ratna hanya tersenyum tidak tertawa seperti biasanya.
"Kau tidak berangkat ke kantor?"
"Kantor?" Ratna pun melihat jamnya dan tekerjut ternyata sudah jam delapan pagi, kalaupun ia berangkat sekarang sdah telat. Maka ia pun menelepon pihak rumah sakit meminta izin dengan alasan adiknya sakit. Ia tidak mendoakan yang jelek untuk Rani. Tapi tidak ada alasan lain yang terlintas dipikirannya.
"Aku sudah melihat putramu. Dia sangat tampan," ucap Niky.
"Dia mirip sekali dengan Wisnu," ucap Ratna.
"Kau sudah bisa dekat dengan putramu?"