Bab 27
Wisnu membuka pintu di hadapannya dengan kasar dan nampaklah kakek Wijaya sedang duduk di ranjang dengan meminum obat. Wisnu melempar beberapa kertas dan juga foto pada kakek Wijaya membuat Wijaya tekerjut menatap Wisnu.
Wisnu bertepuk tangan. "Sandiwara yang sempurna. Sang kepala keluarga adalah tokoh utama dalam kesalahpahaman yang terjadi antara cucu dan menantunya," ucap Wisnu tajam.
Wijaya yang tak mengerti akan perkataan Wisnu mengambil kertas yang terjatuh di bawahnya. Tangan gemetar dan ia tekerjut melihat riwayat medis Ratna.
"Leukemia?" ucap Wijaya pada diri sendiri. Seketika ia merasa sangat jahat tega menfitnah cucunya ketika berjuang antara hidup dan mati demi cucunya yang lain.
"Kau-kau dapat semua ini darimana?"
"Niky yang memberitahukannya padaku. Ratna mengidap penyakit leukemia dan karena itu dia pergi meninggalkan kita. Aku tak tahu kronologis tentang terciptanya foto-foto menjijikkan itu yang membuatku berprasangka buruk dan membenci Ratna begitu dalam. Niky menyuruhku untuk bertanya padamu. Dan satu hal yang aku simpulkan, kalau Kakek lah dalang dari semua ini!!!" ucap Wisnu untuk pertama kalinya membentak Wijaya.
"Maafkan aku Wisnu, sungguh aku tak tahu kalau Ratna mengalami penyakit seperti ini. Jika aku tahu, aku tak akan merencanakan hal sejahat ini. Tujuanku hanya ingin melihat kau bahagia. Saat itu kau sendiri dan juga Rani pun sendiri. Saat itu aku hanya ingin melihat kalian menikah."
"Dan cara ini yang Kakek tempuh!? Saat Kakek tahu tentang keberadaan Ratna, seharusnya Kakek membawanya pulang. Bukan malah menfitnahnya."
"Maaf," ucap Wijya penuh sesal. Jika ia tahu cucunya menderita penyakit seperti itu, ia akan menyuruhnya pulang bukan malah merencanakah hal itu demi Rani.
"Sungguh sangat licik, sebelumnya aku mengatakan kalau Ratna lah yang menjijikkan. Ternyata kau lah Kek seorang yang pantas dibilang menjijikkan, kau menghalalkan segala cara demi mencapai keinginanmu, mungkin karena Ratna bukan lah cucu kandungmu hingga kau tega melakukan hal ini padanya. Mengingat kasih sayangmu yang berbeda pada Ratna dan Rani."
"Kau tahu darimana kalau Ratna bukan cucu kandungku?" tanya Wijaya karena hanya dirinya dan beberapa orang yang tahu akan rahasia ini.
Wisnu tekerjut akan ucapan Wijaya, dia hanya asal tebak saja apa yang ia pikirkan selama ini. Bukan mengetahui kebenaranya. "Aku hanya asal tebak saja, mengingat perbedaan kasih sayang antara kedua cucumu pertanyaan itu selalu muncul di benakku dari dulu. Aku memilih diam dan tidak bertanya karena itu masalah kalian. Tapi melihat rencana yang tersusun rapi seperti ini, aku yakin Ratna bukan cucu kandungmu. Jika dia cucu kandungmu kau tak akan mengorbankan kebahagiaanmu demi cucumu yang lain," ucap Wisnu.
Wijaya menghelang napas. "Aku dan istriku sudah tiga tahun tidak memiliki seorang anak, lalu kami mengangkat ibu dari Ratna. Walau perbuatanku sangat jahat tapi aku menyayangi Ratna. Lalu istriku hamil anak laki-laki dan memiliki anak Rani. Semenjak Mahdi meninggal Rati jadi sakit-sakitan dan setelah melahirkan Rani. Aku sangat menyayangi Rani hingga aku buta malah selalu menyakiti Ratna. Aku selalu mementingkan kebahagiaan Rani dari Ratna. Tak peduli bahwa Ratna akan terluka oleh sikapku yang tidak adil, semua aku lakukan demi kebahagiaan Rani," ucap Wijaya menceritakan segala rahasia yang terjadi dalam keluarganya pada menantunya. "Aku mohon padamu jangan memberitahu Ratna tentang kebenaran ini, aku tak ingin ia lebih terluka lagi."
"Tak usah kuberitahu pun dia sudah tahu, mengingat perbuatanmu padanya. Mungkin Niky sudah menceritakan segalanya pada Ratna," ucap Wisnu. Tak ada rasa simpatik sedikitpun mendengar cerita Wijaya. Malah kasihan pada Ratna yang selama ini menganggap keluarga Wijaya sebagai keluarga kandungnya ternyata bukan keluarga kandungnya.
Mendengar jawaban Wisnu membuat Wijaya sedih. Ia berjanji tak akan ikut campur lagi dalam urusan rumah tangga atau kehidupan cucu dan menantunya. Biar lah mereka sendiri yang menuntun jalannya.
"Apakah Rani juga terlibat dalam rencana ini!?"
"Tidak! Rani tidak tahu tentang hal ini. Selama ini aku yang merencanakannya. Aku yang sudah menyuruh Niky membuat foto menjijikkan itu dengan imbalan aku membiayai pengobatan ayahnya," ucap Wijaya jujur.
"Sialan!" ucap Wisnu marah mendengar pengakuan Wijaya. Wisnu mengepalkan tangannya. Menahan amarahnya agar tidak meninju wajah tua di hadapannya. "Andai Kakek bukan Kakek dari Raka. Aku pasti sudah menjebloskan Kakek ke penjara, sampai kapan pun aku tak akan memaafkan Kakek, Karena kakek lah yang menciptakan kesalahpahaman yang membuatku membenci Ratna," ucap Wisnu meninggalkan Wijaya.
"Maafkan aku Ratna, aku melukaimu begitu dalam hingga membuatku malu pada diriku sendiri dan merasa bersalah pada Almarhum orangtuamu karena aku telah melukaimu begitu dalam. Aku menyesal, sungguh, setelah ini aku berjanji. Aku tak akan ikut campur dalam urusan kalian. Dan aku akan bersikap adil pada kalian." Janji Wijaya pada dirinya sendiri.
***
Wisnu memasuki kamar Ratna terlihat Ratna yang sedang membereskan kamarnya. Wisnu mendekati Ratna dengan tersenyum. Senyum yang selalu menjadi candu untuk Ratna. "Perlu bantuan?" ucap Wisnu menawarkan diri.
"Aku senang akhirnya kau bersikap manis padaku," ucap Ratna duduk di atas ranjang yang sebelumnya sudah ia rapikan.