Salju pertama di Seoul turun malam itu, menyelimuti kota metropolitan dengan selimut putih yang tampak suci. Namun dinginnya udara di luar tak sebanding dengan kebekuan yang tiba-tiba meresap hingga ke tulang-tulang dada Nayla.
Tangan yang berbalut sarung tangan rajut itu gemetar hebat. Ia baru saja menekan kata sandi pintu studio fesyennya sendiri—Nayla Kim Studio. Di tangan kirinya tergenggam rapat sebuah kotak berisi kue black forest buatan tangannya sendiri, khusus disiapkan untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang keempat.
Namun alih-alih mendapati suaminya sedang menyusun laporan keuangan seperti yang ia katakan lewat telepon, telinga Nayla justru disambut suara yang membuat darahnya terasa berhenti mengalir.
Suara desahan nikmat.
Nayla melangkah perlahan, napas tertahan di kerongkongan. Sepatu botnya tak menimbulkan suara di atas karpet tebal miliknya. Matanya tertuju pada ruang VIP di ujung lorong—tempat sofa beludru merah kesayangannya berada. Pintu itu sedikit terbuka, membiarkan cahaya temaram lampu gantung menerobos keluar.
Di sana, di atas sofa tempat Nayla sering menghabiskan malam merancang gaun impian para kliennya, suaminya Irfan sedang merengkuh tubuh seorang wanita dengan penuh gairah. Pakaian wanita itu berserakan di lantai.
Dunia Nayla runtuh seketika saat wajah wanita itu menoleh ke arah pintu dengan mata terpejam. Itu adalah Dinda Kirana. Sahabat dekatnya sejak kuliah. Wanita yang ia angkat menjadi manajer pemasaran di studionya karena ia merasa iba dengan nasibnya.
BRAK!
Kotak kue di tangannya terlepas, menghantam lantai pualam hingga hancur lebur. Krim cokelat dan buah stroberi terciprat ke ujung sepatunya, tampak persis seperti ceceran darah segar.
Irfan dan Dinda tersentak kaget. Mereka buru-buru meraih pakaian yang ada di dekat mereka. Mata Irfan membelalak saat melihat istrinya berdiri di ambang pintu, air mata sudah mengalir deras membasahi pipi yang terbingkai hijab pashmina berwarna pastel.
"N-Nayla? Bukannya kamu bilang akan menginap di rumah Ibumu malam ini?" Suara Irfan terdengar panik sesaat, namun dengan cepat ia menguasai diri. Ia bahkan tak tampak sedikit pun merasa bersalah saat mengancingkan kemejanya.
Nayla mengepalkan tangan sekuat tenaga, kukunya menancap hingga telapak tangannya terasa perih. "Di hari ulang tahun pernikahan kita... Kau mengkhianatiku, Mas? Bersama Dinda? Sahabatku sendiri?!" Suaranya pecah, isak tangis yang sedari tadi ditahan akhirnya meledak keluar.
Dinda, yang kini menutupi tubuhnya dengan gaun rancangan Nayla yang belum selesai, justru tersenyum sinis. Gadis itu menyisir rambut panjangnya ke belakang, lalu bersandar manja pada dada Irfan.
"Ah, ayolah Nayla. Jangan bersikap seolah kau satu-satunya korban di sini," ucap Dinda tanpa rasa malu. "Irfan butuh wanita yang bisa mengimbangi gaya hidupnya di Seoul. Pria sukses seperti dia butuh pendamping yang menawan untuk hadir di pesta-pesta para investor. Bukan wanita yang hanya sibuk dengan kain dan jarum sepertimu."
Nayla menatap suaminya berharap Irfan akan membantah ucapan itu. Pria yang dulu ia temani berjuang dari nol, yang makan mie instan bersamanya di kamar kos sempit sebelum ia memenangkan lomba desain dan membuka studio ini.
Namun Irfan hanya mendesah lelah. "Dinda benar, Nay. Aku sudah lelah dengan pernikahan kita yang begini-begini saja. Kau terlalu sibuk dengan mesin jahitmu. Dan kau terlalu... kaku untuk duniaku sekarang."
"Dunia yang kau bangun pakai uang dan keringatku, Irfan!" teriak Nayla, dadanya naik turun menahan amarah. "Keluar dari studionya sekarang! Kalian berdua, keluar!"
Irfan malah tertawa meremehkan. Ia merogoh saku jasnya dan melemparkan selembar dokumen ke lantai, tepat di samping sisa kue yang hancur.
"Studiomu? Coba baca baik-baik surat peralihan saham yang kau tanda tangani bulan lalu, Nayla. Secara tertulis, 80% saham studio ini beserta hak cipta semua desainmu adalah milikku." Irfan melangkah maju, menatapnya dengan pandangan merendahkan. "Jadi secara hukum, ini adalah propertiku. Kau yang harus pergi."
Nayla menggeleng tak percaya. Surat itu? Surat yang katanya hanya untuk keperluan administrasi pajak? Ia telah ditipu habis-habisan oleh orang yang paling ia percayai.
"Kau iblis, Irfan..." bisiknya, suaranya bergetar campuran rasa sakit dan kebencian yang mendalam.
"Ambil barangmu dan pergi. Surat cerai akan kukirim ke alamat Ibumu besok," ucap Irfan dingin, lalu kembali memeluk Dinda yang tersenyum kemenangan.
Saat itu juga, sesuatu di dalam hati Nayla mati. Sisa cinta naifnya pada pria itu lenyap, berganti bara dendam yang menyala terang. Tanpa mengucapkan satu kata pun lagi, ia berbalik dan berlari keluar ruangan itu.
Udara dingin musim dingin Seoul langsung menyambar wajahnya seperti ribuan jarum. Nayla terus berlari menembus lebatnya salju, tak peduli sepatunya basah kuyup dan butiran es menempel di hijabnya. Ia tak punya tujuan. Uangnya, usahanya, suaminya, sahabatnya—semuanya dirampas dalam satu malam.
Kakinya terasa lemas saat ia berbelok ke sebuah gang sepi di distrik Gangnam. Ia menyandarkan punggung ke dinding bata yang beku, lalu merosot perlahan hingga terduduk di atas tumpukan salju. Memeluk kedua lututnya, Nayla menangis sejadi-jadinya, mengutuk kebodohannya sendiri.