Pintu kayu murahan itu hancur berkeping-keping, memuntahkan serpihan tajam ke segala arah seperti badai belati kecil. Empat pria tegap berwajah bengis merangsek masuk; langkah sepatu bot militer mereka berdebam kasar di atas lantai kayu yang berderit. Moncong senapan laras panjang langsung membidik ke arah ranjang dengan presisi mematikan.
Waktu seolah melambat di mata Nayla. Udara dingin dari luar menyerbu masuk, membawa aroma mesiu yang pekat, menekan paru-parunya hingga ia sulit bernapas. Teror merayap di tengkuknya, membekukan setiap otot di tubuhnya. Ia tahu—ini adalah akhir. Pria-pria ini bukan perampok biasa, mereka adalah pembunuh bayaran profesional yang datang untuk menyelesaikan tugas.
Namun sebelum Nayla sempat menjerit, sebuah tangan kekar lebih dulu mencengkeram pinggangnya dengan kekuatan yang mengejutkan. Arfan—yang detik sebelumnya tampak sekarat—kini bergerak secepat kilat. Ia menarik tubuh Nayla hingga berguling jatuh bersamanya ke lantai di balik ranjang, melindunginya tepat saat rentetan peluru pertama merobek kasur. Bulu kapuk berhamburan ke udara, bak hujan salju aneh di kamar yang pengap itu.
DOR! DOR! DOR!
Suara tembakan beruntun memekakkan telinga, menggema di ruang sempit hingga telinga Nayla berdenging.
Arfan mendesis keras, menahan perih saat jahitan darurat buatan Nayla tertarik kembali dan merobek kulitnya. Darah segar merembes membasahi perban. Namun tak sedetik pun ia mengeluh. Dari posisi setengah berlutut di balik ranjang yang perlahan hancur dihajar peluru, Arfan mengangkat pistol peraknya. Matanya yang tadi lelah kini berkilat buas, memancarkan aura predator berdarah dingin. Tak ada lagi sisa kelemahan—hanya insting bertahan hidup yang tajam.
Hanya butuh dua detik baginya membalas serangan. Ia membidik tanpa ragu sedikit pun.
BAM! BAM!
Dua peluru melesat membelah udara berdebu. Tembakan presisi itu bersarang tepat di dahi dua penyerang pertama, sebelum mereka sadar dari mana serangan datang. Mereka tumbang seketika tanpa suara, darah memercik mengotori dinding bermotif bunga pudar di belakang mereka.
Penyerang keempat yang tersisa meraung marah, lalu mengarahkan senapannya ke sudut persembunyian Arfan. Namun pelatuk pistol Arfan berbunyi klik—kosong. Pelurunya habis. Arfan mengumpat tertahan dalam bahasa asing yang tak dimengerti Nayla, rahangnya menegang keras. Tanpa ragu ia bersiap menerjang maju dengan tangan kosong, mengabaikan lukanya yang parah dan lawan yang bersenjata lengkap.
Nayla melihat bahaya nyata itu dari celah kasur yang berlubang. Jantungnya berpacu liar, namun sesuatu dalam dirinya memberontak. Insting bertahan hidup yang terasah keras selama ini mengambil alih rasa takut. Ia tak akan mati di sini malam ini. Tak sebelum melihat Irfan dan Dinda hancur. Ia tak akan membiarkan kesempatan ini dirampas pembunuh bayaran murahan.
Tepat saat penyerang keempat hendak menarik pelatuk, Nayla bertindak. Dengan sisa tenaganya, ia menyambar botol kaca tebal berisi sisa alkohol antiseptik di dekat kakinya. Tanpa berpikir panjang, ia bangkit dari balik kasur dan melempar botol itu sekuat tenaga ke arah wajah pria bersenjata itu.
PRANG!