Sinar matahari pagi yang menembus kaca jendela setinggi langit-langit membuat Nayla perlahan membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali, menyesuaikan pandangan dengan cahaya yang terang, sebelum kesadarannya ditarik paksa menghadap kenyataan.
Ini bukan kamar sempitnya. Ini bukan apartemen sederhana yang ia tempati bersama Irfan selama empat tahun terakhir.
Nayla bangkit perlahan. Seprai sutra murni berwarna perak meluncur lembut mengikuti gerakannya, menyentuh kulit dengan kehalusan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia berada di kamar tidur utama yang luasnya bahkan mengalahkan seluruh ukuran apartemen lamanya. Lantai beralaskan kayu ek yang hangat, sementara di balik kaca raksasa, pemandangan kota Seoul dari ketinggian tertinggi terbentang luas bak lautan gedung pencakar langit yang menyambut pagi.
Ingatan tentang malam sebelumnya menghantam pikirannya seketika, sekuat hantaman kereta ekspres. Pengkhianatan Irfan, tawa sinis Dinda, dingin menusuk tulang salju, darah yang menggenang di lantai motel, dan... Arfan Haidar Al-Fatih. Pria berstatus bos mafia dengan mata sedingin es, yang menjanjikan kehancuran bagi siapa saja yang menyakitinya.
Nayla menempelkan tangan ke dadanya. Jantungnya berdetak teratur, namun ada sesuatu yang telah berubah di sana. Rasa sakit yang semalam nyaris meremukkannya kini telah mengeras, membeku menjadi sebongkah tekad yang tajam dan tak tergoyahkan. Wanita naif yang semalam menangis memohon cinta suaminya—telah mati, terkubur selamanya di bawah tumpukan salju Seoul.
Tok... Tok...
Ketukan pelan namun sopan di pintu raksasa itu membuyarkan lamunannya.
"Nyonya Al-Fatih? Ini saya, Raka. Apakah Anda sudah bangun?"
Panggilan itu membuat Nayla sedikit tersentak, namun ia segera menguasai diri. Merapikan sisa pashmina yang masih menempel di kepalanya, ia berjalan membuka pintu.
Di ambang pintu berdiri Raka Pratama—pria berkacamata yang semalam memimpin pasukan bersenjata. Kini ia tampil dengan setelan jas yang sangat rapi, tak sehelai pun berkerut. Sikapnya menunduk penuh hormat, seratus delapan puluh derajat berbeda dari tatapan curiganya semalam. Di tangannya tergenggam sebuah kotak beludru hitam berukuran kecil.
"Tuan Al-Fatih sudah berangkat sejak subuh untuk mengurus... sisa kekacauan semalam," ucap Raka dengan nada datar yang mengerikan jika dipikirkan maknanya. "Beliau memerintahkan saya menyerahkan ini kepada Anda."
Raka membuka kotak itu. Di atas alas satin lembut, terbaring sebuah kartu logam tebal berwarna hitam pekat dengan ukiran emas murni. Tanpa batas pengeluaran, tanpa limit. Itulah kartu hitam legendaris yang hanya dimiliki segelintir orang terkaya di Korea Selatan.
"Tuan Al-Fatih berpesan: 'Bersihkan dirimu dari masa lalumu, dan jadilah permaisuri yang pantas berdiri di sampingku'. Saya sudah menyiapkan mobil di bawah, Nyonya. Distrik Cheongdam-dong menanti Anda," jelas Raka sambil menyodorkan kotak itu.
Nayla menatap kartu itu. Jemarinya menyentuh permukaannya yang dingin dan kokoh. Dulu ia selalu menghitung setiap sen pengeluaran demi membelikan jas bagus untuk Irfan. Kini, kekuatan finansial tanpa batas ada di telapak tangannya.
"Tunggu aku di bawah, Raka. Beri aku waktu dua puluh lima menit," ucap Nayla. Nada suaranya jauh lebih tenang, tegas, dan berwibawa dibandingkan sebelumnya.
Raka menunduk makin dalam. "Baik, Nyonya."
Kurang dari sejam kemudian, sebuah Genesis G80 Armored berwarna Putih Gading mengilap berhenti tepat di depan deretan butik paling elit di Cheongdam-dong—pusat mode termahal di Seoul.