Mobil Genesis G80 Armored berwarna Putih Gading itu meluncur mulus membelah jalanan distrik mode Seoul, lalu berhenti tepat di depan bangunan berfasad kaca elegan yang bertuliskan: Nayla Kim Studio.
Dari kursi belakang, Nayla menatap papan nama itu lewat balik kacamata hitamnya. Dulu, tempat ini adalah napasnya. Setiap sudutnya ia bangun dengan keringat, air mata, dan harapan akan masa depan bersama Irfan. Namun kini, melihat bangunan itu hanya menyisakan rasa jijik yang mendalam di dadanya.
"Kita sudah sampai, Nyonya Al-Fatih," suara bariton Raka memecah keheningan. Pria berkacamata itu turun lebih dulu, membukakan pintu dengan sigap, lalu berdiri di sampingnya dengan sikap siap melindungi.
Nayla menarik napas panjang. Udara dingin musim dingin menerpa wajahnya, namun ia tak lagi merasa kedinginan. Mantel wol mahal di bahunya memberikan kehangatan yang tak ternilai. Dengan dagu terangkat dan langkah yang pasti, Nayla melangkah masuk. Bunyi ketukan sepatu stiletto-nya bergema di lantai marmer, terdengar bagai detak jam yang menghitung mundur kehancuran musuhnya.
Di dalam, suasana tampak sibuk namun suram. Beberapa karyawan lama yang setia bekerja dengan wajah murung. Di tengah ruangan, Dinda berdiri berkacak pinggang mengenakan salah satu gaun pameran terbaik rancangan Nayla—gaun yang jelas-jelas terlalu ketat untuk tubuhnya.
"Ganti renda ini! Warnanya jelek sekali! Dan bawakan kopiku sekarang juga, cepat!" omel Dinda pada asisten desainer yang nyaris menangis ketakutan.
Sementara itu, Irfan duduk santai di kursi kebesaran Nayla, menyesap kopi sambil menatap layar komputer dengan puas.
Denting bel pintu yang terbuka membuat semua kepala menoleh serempak.
Suasana yang tadinya riuh seketika senyap bagai kuburan. Mata para karyawan membelalak lebar, tak percaya pada apa yang mereka lihat.
Seorang wanita melangkah masuk bagai ratu yang baru kembali dari perjalanan jauh. Balutan busana elegan, perhiasan berlian minimalis yang berkilau di pergelangan tangan, serta hijab sutra yang ditata sempurna memancarkan aura kemewahan sejati. Butuh beberapa detik bagi mereka untuk sadar—wanita yang tampak begitu mulia dan mematikan itu adalah bos mereka sendiri: Nayla Azzahra, atau yang lebih dikenal sebagai Nayla Kim.
Gelas kopi di tangan Dinda merosot jatuh, pecah berantakan di lantai.
"N-Nayla..?" Irfan nyaris tersedak ludahnya sendiri. Ia segera bangkit dari kursi, matanya memindai mantan istrinya dari ujung kaki hingga kepala.
Wanita yang semalam ia usir ke jalanan tanpa uang sepeser pun, kini berdiri di hadapannya mengenakan pakaian yang harganya mungkin bisa membeli separuh aset studionya. Irfan tahu persis betapa mahalnya merek mantel yang menempel di bahu Nayla.
Nayla mengabaikan tatapan terkejut mereka. Tanpa melepas kacamata hitamnya, ia melangkah tenang melewati Dinda seolah wanita itu hanyalah manekin tak berharga, lalu berhenti tepat di depan meja kerjanya sendiri.
"Nah, wah..." Irfan akhirnya menemukan suaranya, berusaha menutupi kepanikan dengan senyum meremehkan. Ia mendekat. "Hebat sekali. Di mana kau menyewa pakaian palsu semewah ini, Nayla? Kau pikir dengan berdandan sok kaya begini, aku akan luluh dan menerimamu kembali?"
Dinda yang mulai pulih dari keterkejutan ikut maju, memeluk lengan Irfan dengan posesif. "Tentu saja dia menyewanya, Sayang. Bukankah kau sudah memblokir semua rekeningnya? Kasihan sekali, pasti dia berutang pada rentenir hanya untuk datang ke sini dan mengemis belas kasihan."
Nayla sama sekali tidak merespons. Ia membuka laci meja kerjanya yang terkunci menggunakan sidik jarinya—satu-satunya hal yang belum sempat diretas oleh Irfan. Dari dalam sana, ia mengeluarkan sebuah buku sketsa bersampul kulit hitam yang tebal, lalu menyelipkannya ke dalam tas tangan mahalnya. Itulah "nyawa" sesungguhnya studio ini, berisi ratusan rancangan inti yang belum pernah dipublikasikan.
"Hei! Apa yang kau ambil?!" bentak Irfan, emosinya memuncak melihat ketenangan Nayla. "Semua barang di gedung ini adalah milikku! Letakkan kembali!"
Irfan mengulurkan tangan, hendak mencengkeram bahu Nayla dengan kasar.
Namun sebelum jari-jarinya sempat menyentuh kain mantel itu, sebuah tangan besar bersarung kulit hitam lebih dulu menangkap pergelangan tangannya dan memelintirnya ke belakang dengan kecepatan kilat.
"Argh! Lepaskan! Siapa kau?!" Irfan menjerit kesakitan, tubuhnya meronta, namun cengkeraman Raka sekuat penjepit besi.
Raka menekan wajah Irfan ke permukaan meja hingga pria itu meringis perih. "Sentuh Nyonya Al-Fatih satu milimeter saja, dan aku pastikan kau tak akan pernah bisa menggunakan tangan ini lagi seumur hidupmu," bisik Raka dengan nada datar sedingin es.
Nyonya Al-Fatih?
Mendengar gelar itu, darah di tubuh Irfan dan Dinda seolah berhenti mengalir.
Nayla akhirnya berbalik. Ia melepas kacamata hitamnya perlahan, menatap Irfan yang kini tertekan di atas meja, lalu beralih ke Dinda yang gemetar ketakutan di sudut ruangan. Di sorot matanya tak tersisa sedikit pun luka atau kesedihan seperti semalam—hanya ada kehampaan yang mematikan.
"Istri buangan? Mengemis?" Nayla mengulang ucapan Dinda dengan nada lembut yang ironis, lalu terkekeh pelan. "Oh, Dinda... Kenapa aku harus mengemis untuk seonggok sampah yang memang sengaja kubuang ke tempat sampah?"