Aroma dupa cendana yang membakar di sudut-sudut Aula Keharmonisan Agung biasanya menenangkan, tetapi hari ini, bagi Lin Yue’er, wewangian itu terasa mencekik.
Yue’er berdiri mematung di depan cermin perunggu setinggi manusia. Di dalam pantulan logam yang berkilau itu, seorang wanita asing menatapnya balik. Wanita itu mengenakan da xiu shan, gaun pengantin merah darah yang megah, disulam dengan ribuan benang emas murni yang membentuk pola burung phoenix yang sedang mengepakkan sayap. Jubah luar yang menjuntai sepanjang sepuluh langkah di lantai marmer itu adalah hasil karya para penyulam terbaik kekaisaran, yang menghabiskan waktu tiga tahun penuh tanpa tidur hanya untuk memastikan tidak ada satu pun simpul yang cacat.
Di atas kepalanya, sebuah mahkota fengguan yang terbuat dari emas murni, bertahtakan puluhan permata giok hijau dan mutiara laut selatan, terasa begitu berat. Beratnya mahkota itu seolah menekan seluruh harga diri dan masa muda yang telah dia korbankan selama tiga belas tahun di dalam Kota Terlarang ini.
"Lady Yue’er, waktu Anda telah tiba. Putra Mahkota dan para pejabat kekaisaran telah menunggu di Aula Utama," sebuah suara dingin dan kaku memecah keheningan.
Itu adalah suara Bibi Mo, kepala pengasuh istana yang telah mengawasi setiap gerak-gerik Yue’er sejak dia menginjakkan kaki di tempat ini pada usia tujuh tahun. Wajah Bibi Mo, seperti biasa, tidak menunjukkan emosi sedikit pun. Bagi orang-orang di istana ini, Yue’er bukanlah manusia; dia hanyalah sebuah produk yang telah selesai ditempa untuk menjadi pajangan terindah di samping takhta.
Yue’er menarik napas dalam-dalam, menahan debaran jantungnya yang menggila. Dia mengangkat dagunya, memastikan sudut kemiringannya tepat tiga puluh derajat, posisi sempurna yang dia pelajari dengan cambukan penggaris kayu pada punggung tangannya setiap kali dia salah melakukannya saat kecil.
"Mari kita pergi," bisik Yue’er lembut. Suaranya terdengar jernih, terlatih untuk tidak menunjukkan keraguan sedikit pun.
Saat pintu kayu jati yang tebal berlapis emas itu terbuka, angin musim gugur yang dingin menyapu wajahnya. Yue’er melangkah keluar dari paviliunnya, membiarkan lusinan pelayan istana mengangkat ujung jubah merahnya yang panjang. Setiap langkah kaki yang dia ambil di atas lorong batu putih ini terasa seperti akumulasi dari ribuan hari yang dia habiskan dengan kesepian. Hari ini, pikirnya, semua air mata dan kerinduan pada rumah masa kecilnya akan berakhir. Hari ini, dia akan resmi menjadi istri dari pria yang tumbuh bersamanya, Pangeran Mahkota Long Wei.
Aula Utama Kekaisaran tampak begitu megah. Ratusan pejabat tinggi mengenakan jubah kebesaran mereka, berbaris rapi di sisi kiri dan kanan jalan sutra merah yang membentang menuju altar. Musik tiup dan tabuhan genderang upacara menggema, menciptakan atmosfer yang begitu sakral sekaligus menakutkan.
Namun, saat Yue’er melangkah masuk, bisik-bisik yang tertahan mendadak menyebar seperti wabah di antara para pejabat.
Yue’er merasakan ada sesuatu yang salah. Tatapan matanya yang lurus ke depan perlahan menangkap sosok yang berdiri di atas altar. Di sana, di bawah panji naga emas, berdiri Pangeran Mahkota Long Wei. Pria itu tampak luar biasa tampan dengan jubah pengantin pria berwarna hitam dan merah. Wajahnya yang tegas dan garis rahangnya yang keras selalu menjadi sumber kekaguman bagi Yue’er.
Tetapi, Long Wei tidak berdiri sendirian.
Di sebelah kanan Long Wei, seorang wanita lain berdiri dengan anggun. Wanita itu tidak mengenakan gaun pengantin, melainkan jubah zirah ringan berlapis sutra biru langit yang mencolok. Rambutnya diikat tinggi dengan jepit perak berbentuk elang. Wanita itu adalah Meng Chuqiao, putri tunggal dari Jenderal Besar Meng yang baru saja kembali dari perbatasan barat setelah memenangkan perang besar.
Langkah kaki Yue’er melambat, tetapi protokol istana yang tertanam di kepalanya memaksanya untuk terus berjalan hingga berhenti tepat lima langkah di bawah undakan altar.
Suara musik mendadak berhenti atas isyarat tangan Long Wei. Keheningan yang mencekam langsung menguasai aula raksasa itu. Begitu sunyi hingga suara gemerisik jubah merah Yue’er yang bergesekan dengan lantai marmer terdengar jelas.
"Long Wei..." Yue’er berbisik, suaranya hampir tak terdengar, menuntut penjelasan dari sepasang mata suaminya, pria yang selama tiga belas tahun ini selalu berjanji akan menjadikannya satu-satunya wanita di hatinya.
Namun, tatapan mata Long Wei hari ini begitu dingin. Tidak ada kehangatan yang biasa Yue’er lihat saat mereka menyelinap ke taman belakang istana saat remaja. Pria itu menatap Yue’er seolah-olah dia hanyalah seonggok batu yang menghalangi jalannya.
Long Wei maju satu langkah, mengangkat selembar gulungan kain sutra kuning bersulam naga di tangannya, sebuah Dekret Kekaisaran.