Ratu Tanpa Mahkota

Tethy Ezokanzo
Chapter #2

KERETA KUDA AIR MATA

Gerbang besi raksasa Kota Terlarang berdentang menutup di belakangnya. Suara dentumannya begitu berat, menggema di sepanjang jalan berbatu ibu kota, menandai akhir dari tiga belas tahun kehidupan Lin Yue’er sebagai calon permaisuri.

Tepat saat kakinya melangkah ke jalanan luar, langit yang sejak tadi mendung akhirnya tumpah. Hujan musim gugur yang sedingin es langsung mengguyur bumi, membasahi wajahnya, dan seketika merusak riasan wajah pengantinnya yang semula tanpa cela. Air berwarna merah dari pemerah bibir dan bubuk mutiara di pipinya luntur, mengalir bersama air hujan, menyerupai tetesan darah yang membasahi leher dan jubah merahnya.

Yue’er terus berjalan. Kakinya yang hanya beralaskan sepatu kain sutra tipis, sepatu yang dirancang hanya untuk berjalan di atas karpet beludru istana, kini harus menginjak genangan air berlumpur dan kerikil tajam jalanan kota. Rasa dingin menjalar dari telapak kakinya, menembus tulang, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan kekosongan yang menganga di dalam dadanya.

Orang-orang di pinggiran jalan ibu kota berlarian mencari tempat berteduh di bawah emperan toko. Namun, pandangan mereka segera tertuju pada sosok wanita yang berjalan sendirian di tengah amukan badai.

"Lihat itu... bukankah itu gaun pengantin kerajaan?"

"Bukankah hari ini seharusnya menjadi hari pernikahan Putra Mahkota?"

"Astaga, dia Lin Yue’er! Gadis dari Jiangnan yang dicampakkan itu! Dekret kekaisaran baru saja diumumkan di papan pengumuman kota!"

"Kasihan sekali, dibuang seperti sampah setelah belasan tahun di istana..."

Bisik-bisik itu berbaur dengan suara gemercik air hujan. Yue’er bisa mendengar setiap kata, setiap cemoohan, dan setiap tatapan kasihan yang dilemparkan padanya. Rasa malu yang luar biasa mencoba merayap ke dalam benaknya, memprovokasi air matanya untuk jatuh. Namun, Yue’er mengepalkan tangannya di balik lengan baju yang panjang. Dia menolak menangis di depan orang-orang ini. Dia menolak mengizinkan Kota Terlarang melihatnya hancur.

Saat pandangannya mulai kabur oleh derasnya air hujan, sebuah kereta kuda barang yang tertutup kain terpal tua melintas di dekatnya. Kereta itu bergerak lambat, roda kayunya berderit menembus lumpur, bersiap melakukan perjalanan keluar dari gerbang kota barat menuju wilayah selatan.

Tanpa berpikir panjang, Yue’er menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk berlari, mengejar bagian belakang kereta tersebut, dan melompat naik ke atas tumpukan karung gandum kering di dalamnya. Tubuhnya merosot di sudut kereta yang gelap dan berbau apek.

Kereta kuda itu terus melaju, membawa tubuhnya yang menggigil menjauh dari ibu kota. Di dalam kegelapan dan keheningan, diiringi oleh ketukan ritmis roda kereta yang menghantam jalanan berbatu, pertahanan mental Yue’er yang kokoh akhirnya runtuh. Suara gemuruh hujan di luar sana mendadak memudar, dan benaknya terlempar ke masa lalu, ditarik paksa oleh memori yang selama tiga belas tahun ini selalu dia kunci rapat-rapat di sudut hatinya yang paling dalam.

Tiga belas tahun yang lalu...

"Yue’er! Sembunyi di sini, jangan bersuara!"

Suara itu lembut, namun bergetar hebat karena rasa takut. Itu adalah suara ibunya, Nyonya Lin. Saat itu, hari masih sangat pagi di Jiangnan. Aroma udara segar yang bercampur dengan wangi panggangan kue gandum dan seduhan teh hijau dari dapur masih melekat di udara. Jiangnan selalu hangat, selalu ramah, dan selalu dipenuhi tawa.

Lihat selengkapnya