Ratu Tanpa Mahkota

Tethy Ezokanzo
Chapter #3

LANGKAH KAKI DI BAWAH HUJAN

Kereta barang tua yang ditumpangi Lin Yue’er akhirnya berhenti di sebuah kota persinggahan kecil bernama Kota Wu, tiga hari perjalanan di selatan ibu kota. Kota ini merupakan titik transit bagi para pedagang kasar, pengangkut kayu, dan pelancong miskin yang hendak menuju wilayah selatan. Bau amis dari dermaga sungai kecil, aroma apek dari penginapan murah, serta teriakan para kuli angkut langsung menyambut indra pendengaran Yue’er begitu dia melongokkan kepalanya dari balik kain terpal karung gandum.

Malam telah larut, dan hujan gerimis sisa badai kemarin masih menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang.

Yue’er melompat turun dari kereta barang ketika sang kusir sedang lengah di sebuah kedai arak. Begitu kakinya menyentuh tanah berlumpur, tubuhnya langsung terhuyung. Tiga hari tanpa makanan dan hanya mengandalkan air hujan yang merembes di sela-sela terpal membuat kesadarannya menipis. Pandangannya berkunang-kunang, dan perutnya melilit hebat oleh rasa lapar yang belum pernah dia rasakan sepanjang hidupnya.

Namun, bukan rasa lapar yang menjadi musuh utamanya saat ini, melainkan gaun yang melekat di tubuhnya.

Di bawah temaram lampu lampion minyak di sepanjang jalan Kota Wu, sosok Yue’er tampak seperti hantu gentayangan yang mengerikan. Gaun pengantin da xiu shan merah darah yang semula megah kini telah koyak di beberapa bagian karena tersangkut kayu karung gandum. Sulaman benang emas berbentuk phoenix-nya putus, menjuntai seperti cacing mati yang kotor oleh cipratan lumpur hitam. Rambutnya yang terurai panjang berantakan dan lengket karena air hujan yang bercampur sisa minyak rambut istana.

"Heh, lihat wanita itu... gila atau bagaimana?"

"Mengenakan baju pengantin merah di tengah malam, berjalan sempoyongan... apakah dia pengantin hantu yang melarikan diri?"

"Atau dia selir yang diusir dari rumah bangsawan karena ketahuan berselingkuh? Lihat wajahnya, penuh coretan merah!"

Bisik-bisik dari para pemabuk di depan kedai arak mulai terdengar. Beberapa pasang mata mesum dan penuh selidik mulai mengikutinya dari belakang. Di tempat seperti Kota Wu, seorang wanita muda yang berjalan sendirian tanpa pengawal, terlebih mengenakan pakaian yang mencolok namun kotor, adalah mangsa empuk bagi para bajingan jalanan.

Yue’er menyadari bahaya tersebut. Insting bertahan hidup yang selama belasan tahun ini dia asah di tengah intrik istana dalam, di mana bahaya tidak datang dari pisau melainkan dari racun dalam secangkir teh, segera berdering kencang di kepalanya. Di istana, dia belajar membaca gerak-gerik manusia. Dan tatapan orang-orang di sekitarnya saat ini adalah tatapan serigala yang kelaparan.

Dia mempercepat langkah kakinya, mengabaikan rasa perih di telapak kakinya yang kini mulai berdarah karena sepatu sutra tipisnya telah bolong menembus kerikil tajam. Dia harus menukar gaun ini. Dia harus menyembunyikan identitasnya.

Yue’er berbelok ke sebuah lorong sempit yang remang-remang di balik deretan toko kain yang sudah tutup. Di dekat sebuah bak pembakaran sampah, dia melihat seuntai pakaian jemuran yang ditinggalkan pemiliknya karena basah oleh hujan. Itu adalah sepasang baju katun kasar berwarna abu-abu kusam, jenis pakaian yang biasa dikenakan oleh pelayan toko atau buruh cuci kelas bawah.

Tanpa memedulikan etika kehormatan yang dulu dicekokkan padanya, Yue’er menarik pakaian katun kasar itu dari talinya. Di balik bayang-bayang dinding batu yang gelap, dengan tangan yang gemetar karena sedingin es, dia melepas gaun pengantin merahnya. Jubah berlapis-lapis yang dulu membutuhkan bantuan lima pelayan untuk memakainya, kini dia lucuti sendiri dengan kasar. Kain sutra mahal itu jatuh ke atas tanah berlumpur, tidak lebih berharga daripada kain pel kotor.

Yue’er mengenakan baju katun abu-abu kasar tersebut. Kainnya terasa kaku dan menggores kulitnya yang halus, sangat kontras dengan kain sutra awan istana yang biasa membalut tubuhnya. Namun, saat baju itu terpasang, Yue’er justru merasakan sebuah kebebasan yang aneh. Kain kusam ini melindunginya dari pandangan mata yang mengintai.

Lihat selengkapnya