Perjalanan menyusuri Sungai Yangtze memakan waktu hampir dua minggu. Sepanjang waktu itu, Lin Yue’er menenggelamkan dirinya dalam tumpukan gulungan kertas pembukuan milik Dagang Liu. Jari-jemarinya yang halus, yang biasanya memetik kecapi atau menuangkan teh untuk para selir agung, kini menari-nari dengan lincah di atas lembaran kertas jerami, mengoreksi ribuan angka, mendeteksi kebocoran dana dari para kapten kapal, dan menyusun ulang sistem inventaris yang berantakan.
Bagi Paman Liu, gadis abu-abu yang dia temukan di bawah jembatan Kota Wu itu bukan lagi sekadar pelancong numpang lewat, melainkan seorang dewi keberuntungan. Dalam waktu sepuluh hari, Yue’er berhasil menghemat hampir tiga puluh persen pengeluaran logistik armada Dagang Liu, sebuah pencapaian yang bahkan tidak bisa dilakukan oleh tiga juru tulis senior digabung menjadi satu. Ketika kapal akhirnya merapat di dermaga utama Jiangnan, Paman Liu bahkan menawarkan posisi sebagai Kepala Keuangan dengan gaji ratusan keping emas.
Namun, Yue’er menolak dengan keanggunan yang tidak bisa dibantah. "Paman Liu, kebaikan Anda memberikan hamba tumpangan dan makanan hangat sudah lebih dari cukup. Tujuan hamba hanya satu... hamba ingin pulang."
Melihat keteguhan di sepasang mata jernih itu, Paman Liu tidak bisa memaksa. Dia hanya bisa mendesah pasrah, lalu memberikan sebuah kantong kain kecil berisi beberapa keping perak sebagai upah atas kerja kerasnya selama di kapal, yang kali ini diterima Yue’er dengan anggukan hormat.
Jiangnan di awal musim gugur selalu memiliki pesona yang tidak akan pernah dimiliki oleh ibu kota utara yang kaku. Di sini, udara berbau manis, perpaduan antara pucuk-pucuk teh hijau yang baru dipetik, aroma bunga osmanthus yang mulai mekar di sepanjang tepi kanal, dan kelembapan hangat dari sungai-sungai kecil yang membelah kota. Rumah-rumah di sini tidak dibangun dari batu putih yang angkuh dan tinggi, melainkan dari bata abu-abu dengan atap genting hitam yang melengkung lembut, dikelilingi oleh pepohonan dedalu yang daunnya menjuntai menyentuh permukaan air.
Namun, bagi Yue’er, keindahan Jiangnan hari ini terasa begitu asing.
Dia berjalan menyusuri jalanan distrik barat, memeluk erat bungkusan kain terpal yang berisi gaun pengantin merahnya. Langkah kakinya lambat, matanya menatap liar ke sekeliling, mencoba mencocokkan bangunan-bangunan yang dia lihat dengan memori samar anak berusia tujuh tahun yang tersimpan di kepalanya. Tiga belas tahun adalah waktu yang sangat lama. Toko mainan kayu tempat ayahnya dulu membelikannya boneka kecil kini telah berubah menjadi kedai teh bertingkat dua. Jembatan batu tempat dia sering mengejar kunang-kunang bersama kakaknya kini tampak lebih tua dan berlumut.
Rasa takut yang mendalam mendadak merayap ke dalam hatinya. Apakah mereka masih di sana? Apakah mereka masih mengingatku? Bagaimana jika... bagaimana jika mereka benar-benar telah melupakanku seperti yang selalu dikatakan oleh orang-orang istana?
Langkah kakinya membawa Yue’er berhenti di depan sebuah kompleks kediaman yang cukup luas di ujung jalan dekat kanal besar. Di atas gerbang kayu jati hitam yang kokoh, sebuah papan nama dari kayu cendana tergantung dengan anggun, bertuliskan dua karakter yang diukir dengan tinta emas: Kediaman Lin.
Jantung Yue’er berdegup kencang, begitu keras hingga dia bisa mendengar denyutnya di telinganya sendiri. Dia berdiri mematung di seberang jalan, bersembunyi di balik bayang-bayang pohon dedalu besar. Tubuhnya yang terbalut baju katun abu-abu kusam membuatnya tampak seperti pelayan toko jelata yang sedang mengagumi rumah bangsawan.
Tepat pada saat itu, pintu gerbang kayu kecil di sisi samping Kediaman Lin terbuka.
Seorang wanita paruh baya berjalan keluar, membawa sebuah keranjang anyaman bambu berisi tumpukan kain sutra putih yang hendak dijemur di halaman depan. Wanita itu mengenakan gaun katun berwarna biru tua yang bersahaja, rambutnya yang mulai memutih di bagian pelipis disanggul sederhana dengan sebuah tusuk konde kayu murah yang sudah pudar warnanya. Wajahnya dipenuhi garis-garis halus akibat usia dan kesedihan yang mendalam, namun garis rahang dan bentuk matanya... sangat mirip dengan mata yang Yue’er lihat di cermin perunggu setiap pagi.
Ibu...
Kata itu tertahan di tenggorokan Yue’er, menyumbat seluruh napasnya hingga dadanya terasa sesak. Air mata yang selama dua minggu ini dia tahan dengan kekuatan batu karang, mendadak mendesak keluar dengan begitu hebat.
Nyonya Lin meletakkan keranjang bambunya di atas bangku batu di dekat gerbang. Dia mengusap pinggangnya yang tampaknya mulai encok karena usia, lalu menghela napas panjang sambil menatap langit musim gugur Jiangnan yang cerah. Tatapan matanya kosong, tipe tatapan yang biasa dimiliki oleh seseorang yang telah menghabiskan belasan tahun menanti sesuatu yang tidak kunjung datang.
Pada saat itulah, perhatian Nyonya Lin teralih oleh sosok gadis abu-abu yang berdiri kaku di bawah pohon dedalu di seberang jalan. Gadis itu menatapnya tanpa berkedip, dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya yang pucat.
Nyonya Lin mengernyitkan alisnya. Awalnya, dia mengira gadis itu adalah pengemis atau pelayan yang membutuhkan bantuan. Namun, saat dia menatap lebih dekat, memperhatikan garis wajah, lekuk hidung, dan cara berdiri gadis itu yang begitu tegak namun anggun... keranjang bambu di tangan Nyonya Lin mendadak terlepas dari genggamannya.
Praaak!
Kain-kain sutra di dalamnya jatuh berserakan di atas tanah, tetapi Nyonya Lin tidak peduli. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Sepasang matanya yang tua membelalak, menatap lurus ke arah tanda lahir berbentuk titik hitam kecil di dekat telinga kanan Yue’er, sebuah tanda yang hanya diketahui oleh seorang ibu yang melahirkannya.
"Yue... Yue’er...?" suara Nyonya Lin keluar dengan sangat lirih, bergetar di antara embusan angin musim gugur.
Yue’er tidak bisa menahannya lagi. Dia melangkah keluar dari bayang-bayang pohon, menjatuhkan bungkusan terpal merahnya ke atas tanah, dan berlari menyeberangi jalan. "Ibu... Ini Yue’er! Yue’er pulang...!"