Ratu Tanpa Mahkota

Tethy Ezokanzo
Chapter #5

KAMAR KECIL YANG TAK PERNAH BERUBAH

Langkah kaki Lin Yue’er terasa begitu berat saat melintasi selasar halaman tengah Kediaman Lin. Malam mulai turun membungkus wilayah Jiangnan, membawa serta embun yang perlahan turun dan membasahi dedaunan pohon dedalu di tepi kanal. Meskipun pelukan hangat ibunya beberapa saat lalu masih menyisakan rasa debar yang hebat di dadanya, ada bagian dari dirinya yang masih membeku. Tubuhnya seolah telah diprogram secara mekanis selama tiga belas tahun untuk berjalan dengan dagu terangkat tepat tiga jari, tatapan lurus ke depan tanpa boleh bergulir liar, dan jarak langkah yang konstan, tepat setengah tapak kaki setiap ketukan. Itu adalah tata krama kaku, sebuah koreografi tubuh yang diciptakan khusus untuk para wanita yang dipersiapkan hidup di sekeliling kaisar, di mana kelalaian kecil dalam melangkah bisa dianggap sebagai penghinaan terhadap martabat istana.

Nyonya Lin, yang berjalan di sampingnya sambil terus menggandeng jemari Yue’er, seolah bisa membaca ketegangan yang kaku pada pundak putrinya. Setiap beberapa langkah, Nyonya Lin akan meremas pelan tangan Yue’er, seakan ingin menyalurkan seluruh kehangatan darahnya untuk mencairkan kepedihan yang menyelimuti gadis itu.

"Mari, Nak. Ibu bawa kamu ke tempatmu yang sesungguhnya," suara Nyonya Lin mengalun lembut, memecah kesunyian malam yang hanya diiringi suara ketukan sandal kayu para pelayan dari arah dapur.

Mereka berjalan menyusuri koridor kayu yang panjang, melewati ruang keluarga dan terus berjalan menuju sebuah paviliun kecil yang terletak di sudut paling tenang di halaman belakang. Paviliun itu agak terpisah dari bangunan utama, dikelilingi oleh deretan pohon bambu hijau yang kini bergerak saling bergesekan, menciptakan suara desau halus yang berbisik ditiup angin musim gugur.

Ketika Nyonya Lin mendorong pintu kayu jati kamar tersebut, engselnya sama sekali tidak berderit, menandakan bahwa pintu itu sering diberi minyak dan dirawat dengan baik. Langkah Yue’er mendadak terhenti tepat di ambang pintu. Matanya membelalak, dadanya naik turun dengan cepat, dan napasnya seolah tertahan di tenggorokan.

Kamar itu... tidak berubah sedikit pun. Sekecil apa pun detailnya.

Ranjang kayu kecil yang terbuat dari kayu cendana muda berdiri anggun di sudut ruangan, lengkap dengan kelambu sutra tipis berwarna merah muda yang kini warnanya sudah agak memudar ditelan waktu, memancarkan rona pastel yang lembut. Meja belajar rendah dari kayu pinus tempat dia pertama kali diajari oleh ayahnya memegang kuas tulisan stands tepat di bawah jendela. Bahkan laci kecil tempat dia biasa menyimpan pita-pita rambut dan jepit rambut dari anyaman bambu masih berada di posisi yang persis sama seperti malam terakhir sebelum dia ditarik paksa masuk ke dalam kereta kuda kekaisaran.

Yue’er melangkah masuk dengan sangat ragu. Kakinya yang hanya beralaskan ban kain tipis menapak lantai papan kayu yang terasa sejuk namun bersih. Dia setengah takut bahwa jika dia melangkah terlalu keras, atau jika dia berkedip terlalu lama, seluruh pemandangan di depannya akan pecah berkeping-keping seperti ilusi sihir dari para kasim istana.

Dia mengulurkan jemarinya yang lentik, perlahan mengusap permukaan meja belajar pinus itu. Tidak ada sebutir debu pun yang menempel di ujung jarinya. Permukaan kayu itu begitu licin dan bersih. Udara di dalam kamar pun tidak berbau apek layaknya ruangan yang ditinggalkan belasan tahun. Sebaliknya, kamar itu terasa segar dengan aroma harum dedaunan kering, kayu manis, dan kuntum bunga osmanthus yang dikeringkan lalu diletakkan di dalam corong keramik kecil di sudut ruangan.

Matanya kemudian terpaku pada atas bantal ranjangnya. Di sana, duduk sebuah boneka kain kecil berkepala botak dengan baju yang dijahit dari perca kain biru. Jahitannya sudah mulai longgar di beberapa bagian, dan salah satu matanya yang terbuat dari kancing hitam kecil tampak sedikit miring. Itu adalah mainan kesayangannya saat berusia tujuh tahun, benda terakhir yang dia tangisi ketika para pengawal istana memisahkannya dari pelukan ibunya.

"Setiap pagi, setelah selesai menyiapkan bumbu masakan di dapur, Ibu selalu datang ke sini," suara Nyonya Lin terdengar parau dari balik punggung Yue’er. Wanita paruh baya itu bersandar pada kosen pintu, menatap punggung putrinya dengan pandangan mata yang dipenuhi lapisan air mata yang siap tumpah kembali.

"Ibu membuka lebar jendelanya agar sinar matahari musim panas atau musim semi bisa masuk menyapu lantai. Ibu mengelap mejanya dengan kain basah, dan menjemur kelambumu setiap kali musim berganti agar tidak dimakan gegat. Ayahmu... oh, ayahmu sering sekali duduk sendirian di ambang jendela ini saat malam hari setelah menyelesaikan laporan daerah. Dia akan menatap bulan di arah utara, dan berbisik sendirian, bertanya-tanya apakah putri kecilnya di istana sudah makan dengan kenyang atau sedang menangis karena rindu."

Nyonya Lin berjalan mendekat dengan langkah pelan, berhati-hati agar tidak mengejutkan Yue’er. Dia mengulurkan tangannya, menyentuh pundak Yue’er yang kini tertutup oleh kain katun kasar pemberian kapal dagang.

"Orang-orang di distrik barat, bahkan bibi-bibimu sendiri, sering bilang Ibu sudah gila. Mereka bilang Ibu membuang waktu merawat kamar kosong untuk seorang anak yang mungkin sudah melupakan bau tanah rumahnya karena silau oleh kemegahan istana. Tapi Ibu tidak peduli, Yue’er. Ibu tahu, suatu hari nanti langkah kakimu pasti akan membawamu pulang ke Jiangnan. Dan Ibu tidak ingin saat hari itu tiba, kamu berdiri di tengah rumah ini dan merasa asing di tempat kelahiranmu sendiri."

Lihat selengkapnya