Ratu Tanpa Mahkota

Tethy Ezokanzo
Chapter #6

KOTAK KAYU CENDANA DAN KEBENARAN YANG KEJAM

Pagi hari di Jiangnan selalu dimulai dengan harmoni yang tenang. Cahaya matahari yang lembut menerobos celah-celah jendela kayu paviliun, membawa serta kehangatan yang perlahan mengusir sisa kabut dari permukaan kanal. Lin Yue’er terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Kepalanya tidak berdenyut oleh ketegangan, dan dadanya tidak sesak oleh kecemasan tentang intrik istana yang harus dihadapi sebelum matahari terbit.

Setelah membasuh wajahnya dengan air dingin yang disediakan pelayan, Yue’er berniat membantu ibunya di rumah utama. Namun, saat dia melewati kamar pribadi Nyonya Lin yang pintunya sedikit terbuka, langkah kakinya terhenti.

Di dalam kamar yang remang-remang itu, Nyonya Lin sedang duduk bersandarkan peti pakaian tua. Di pangkuannya, terdapat sebuah kotak persegi panjang yang terbuat dari kayu cendana hitam. Kotak itu tampak sangat terawat, permukaannya halus mengilap karena sering diusap, menunjukkan bahwa benda itu memegang arti yang sangat penting bagi pemiliknya. Nyonya Lin sedang mengusap permukaan kotak itu dengan jemarinya yang gemetar, matanya menatap kosong ke luar jendela dengan sisa rona merah bekas menangis semalam.

Melihat kehadiran putrinya di ambang pintu, Nyonya Lin tersentak kecil, lalu buru-buru menyeka sudut matanya dengan ujung lengan baju. Dia memaksakan sebuah senyuman lembut.

"Yue’er... kamu sudah bangun, Nak? Apakah tidurmu nyenyak?" tanya Nyonya Lin, suaranya agak parau.

Yue’er melangkah masuk ke dalam kamar dengan perlahan. Matanya tidak bisa lepas dari kotak kayu cendana di pangkuan ibunya. "Ibu... kotak apa itu? Mengapa Ibu tampak begitu sedih saat memegangnya?"

Nyonya Lin menatap kotak itu, lalu menatap Yue’er dengan pandangan mata yang dipenuhi pusaran emosi, kerinduan, penyesalan, dan rasa sakit yang mendalam. Dia menarik napas panjang, seolah mengumpulkan sisa kekuatan di dalam dada tuanya.

"Kotak ini... adalah satu-satunya penyambung napas Ibu selama tiga belas tahun ini, Yue’er. Setiap kali malam terasa terlalu dingin dan rasa rindu pada putri kecil Ibu tidak tertahankan, Ibu akan memeluk kotak ini hingga fajar," bisik Nyonya Lin. Dia meletakkan kotak itu di atas meja kayu di depan mereka, lalu mengeluarkan seutas kunci kecil yang tergantung di lehernya.

Klik.

Gembok kuningan kecil itu terbuka. Nyonya Lin perlahan mengangkat tutup kotak cendana tersebut. Aroma wangi kayu yang khas bercampur dengan bau apek kertas tua langsung menguar, memenuhi rongga kamar.

Yue’er melangkah mendekat, matanya membelalak menatap isi di dalam kotak tersebut. Di dalamnya, tidak ada tumpukan perhiasan emas, batu permata, atau akta tanah mewah. Isinya adalah tumpukan gulungan kertas sutra dan kain jerami yang luar biasa tebal, diikat dengan sangat rapi menggunakan tali rami berdasarkan wilayah bulan dan tahun. Di samping tumpukan kertas yang menggunung itu, terdapat belasan jepit rambut kayu sederhana berbentuk bunga melati dan beberapa boneka kain kecil yang jahitannya agak kasar, persis seperti boneka botak yang ada di ranjang masa kecilnya.

"Ibu... apa semua ini?" tanya Yue’er, tangannya terulur ragu.

"Bukalah sendiri, Nak. Bacalah apa yang tertulis di sana," ujar Nyonya Lin, suaranya mulai tercekat oleh isak tangis yang tertahan.

Yue’er mengambil satu gulungan kertas dari bagian tengah tumpukan, membuka ikatannya dengan jemari yang gemetar. Ketika lembaran kertas tua itu terbuka, matanya langsung mengenali tulisan aksara yang anggun namun tegas, itu adalah tulisan tangan ibunya yang dulu sering dia lihat saat belajar membaca.

Untuk putriku tersayang, Yue’er di Kota Terlarang...

Hari ini adalah musim gugur pertama sejak kereta kuda kekaisaran membawamu pergi. Rumah kita terasa sangat sepi, Nak. Ibu membuat kue gandum manis kesukaanmu di dapur, tetapi separuh kue itu terasa hambar karena kamu tidak ada lagi di meja makan. Apakah selimut di istana utara cukup hangat untuk melindungi tubuh kecilmu dari hawa dingin? Ibu mengirimkan jepit rambut kayu melati yang diukir sendiri oleh ayahmu dari pohon belakang rumah, semoga kamu menyukainya. Jangan pernah merasa kesepian, Nak. Rumah ini selalu menunggumu pulang.

Air mata Yue’er mendadak menetes, membasahi tinta hitam di atas kertas tua itu. Dada terasa seperti dihantam oleh batu besar. Dia dengan tergesa-gesa meletakkan gulungan itu dan mengambil gulungan lain dari tahun yang berbeda, membukanya dengan napas yang mulai memburu.

Lihat selengkapnya