Ratu Tanpa Mahkota

Tethy Ezokanzo
Chapter #7

BAB 7: SAUDARA-SAUDARA YANG PASANG BADAN

Malam harinya, Aula Utama Kediaman Lin terasa jauh lebih hangat dan hidup dibanding malam-malam sepi selama tiga belas tahun terakhir. Sebuah meja bundar besar yang terbuat dari kayu ek tua di tengah ruangan dipenuhi oleh kepulan uap dari berbagai hidangan khas Jiangnan: ikan tim saus cuka yang lembut, sup pangsit rebung muda, daging separuh berlemak yang dimasak merah, serta semangkuk besar tumis sayur asin segar. Uap makanan yang gurih itu berbaur dengan tawa samar yang telah lama hilang dari rumah ini.

Di kepala meja, Tuan Lin duduk dengan jubah pejabat daerahnya yang berwarna abu-abu tua, penutup kepalanya sudah dilepaskan, menampilkan rambut yang mulai memutih di bagian pelipis. Di sisi kirinya, Nyonya Lin tidak berhenti menambahkan potongan daging terbaik dan pangsit terlembut ke atas mangkuk nasi Yue’er hingga menggunung. Sementara di sisi kanan, kedua saudara laki-laki Yue’er, Lin Feng dan Lin Mu, duduk dengan ekspresi yang sangat kontras. Lin Feng masih menyisakan gurat amarah yang pekat di keningnya, sedangkan Lin Mu menatap kakak perempuannya dengan binar mata penuh kekaguman dan rasa ingin tahu yang besar.

"Makan yang banyak, Yue’er. Lihat tubuhmu, begitu kurus hingga Ibu bisa menghitung tulang selangkangmu," gerutu Nyonya Lin dengan nada yang protektif. Matanya kembali berkaca-kaca setiap kali melihat cara makan Yue’er yang sangat rapi, pelan, dan tanpa suara, sebuah sisa didikan paksa istana yang mencerminkan kewaspadaan tingkat tinggi. "Di istana utara itu mereka pasti hanya memberimu makan aturan, protokol, dan kecurigaan, bukan makanan asli yang diolah dengan kasih sayang."

Yue’er tersenyum tipis, sebuah guratan tulus yang perlahan mulai terukir di wajah tirusnya. Dia menerima suapan kasih sayang itu dengan khidmat. "Terima kasih, Ibu. Makanan di rumah... adalah satu-satunya makanan yang membuat jiwaku merasa kenyang."

Setelah jamuan makan malam selesai dan para pelayan telah membereskan piring-piring kosong, suasana santai itu perlahan-lahan menguap, digantikan oleh keheningan yang khusyuk. Tuan Lin meletakkan cangkir teh krisantemum-nya dengan ketukan pelan namun tegas di atas meja kayu ek. Dia berdiri, memberikan isyarat kepada seluruh anggota keluarganya.

"Ikut Ayah ke aula belakang," ujar Tuan Lin dengan suara berat yang sarat akan wibawa seorang kepala keluarga.

Mereka berjalan menyusuri koridor terbuka yang diterangi oleh temaram lampion merah menuju Aula Leluhur Keluarga Lin. Di ruangan yang harum oleh asap hio dan kayu gaharu itu, berjejer papan nama kayu para leluhur Keluarga Lin dari generasi ke generasi. Di atas altar, sebuah lilin besar menyala, memantulkan bayangan mereka yang berkejaran di dinding.

Tuan Lin mengambil tiga batang hio, menyalakannya pada api lilin, lalu membungkuk hormat tiga kali di depan altar sebelum menancapkannya ke dalam tempat abu kuningan. Dia berbalik, menatap kedua putra laki-lakinya dan putri tunggalnya yang berdiri berjajar.

"Yue’er," panggil Tuan Lin, suaranya bergetar oleh emosi yang ditahannya sejak siang. "Ayah sudah mendengar tentang kotak cendana dan kekejaman para kasim dari ibumu. Amarah Ayah sebagai seorang lelaki dan seorang ayah tidak kalah besar dari apa yang dirasakan kakakmu. Namun, sebagai pejabat daerah rendahan, Ayah tahu betul bagaimana hukum kekaisaran bekerja. Kepergianmu dari altar pernikahan di ibu kota adalah tamparan keras bagi wajah Putra Mahkota Long Wei. Mereka telah menghina kita, tetapi jika kita bergerak tanpa perhitungan, mereka memiliki seribu alasan hukum untuk meratakan kediaman ini dengan tanah."

Mendengar ucapan ayahnya yang terdengar penuh kehati-hatian, Lin Feng, sang kakak tertua, tidak mampu lagi menahan diri. Dia melangkah maju ke depan altar leluhur, membalikkan badan menghadap ayah dan adiknya dengan mata yang menyala-nyala oleh amarah masa muda yang membara.

Brak!

Lin Feng menggebrak pembatas kayu di samping altar, membuat tempat lilin kecil bergetar. "Ayah! Sampai kapan kita harus selalu merunduk dan ketakutan pada bayang-bayang istana utara?! Mereka yang merampas masa kecil Yue'er! Mereka yang membohongi keluarga kita selama tiga belas tahun, membuat kita mengira Yue'er membenci kita, sementara putriku sendiri disiksa secara mental di dalam penjara emas itu! Dan sekarang, setelah faksi militer Jenderal Meng memberikan keuntungan lebih besar, mereka membuangnya seperti pakaian kotor!"

Lihat selengkapnya