Jiangnan tidak pernah benar-benar sepi dari kasak-kusuk. Di bawah ketenangan riak air kanalnya dan kedamaian kedai-kedai teh di sepanjang dermaga, gosip menyebar lebih cepat daripada aliran air pasang. Hanya dalam hitungan hari sejak kepulangannya, nama Lin Yue’er telah menjadi konsumsi utama di meja-meja judi, rumah sulam, hingga ruang keluarga para bangsawan lokal.
"Kamu sudah dengar? Putri tunggal Pejabat Daerah Lin yang dahulu digadang-gadang akan menjadi ibu bagi seluruh negeri, kini kembali ke Jiangnan," bisik seorang wanita paruh baya berkonde tinggi, sambil menggeser cangkir porselennya di salah satu sudut Paviliun Bunga Melati.
"Benarkah? Bukankah dia seharusnya mengenakan jubah kebesaran di altar ibu kota?" sahut temannya, seorang istri saudagar garam, dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu.
"Altar apa? Dia dibuang! Istana utara bahkan tidak sudi membiarkannya melewati gerbang samping. Putra Mahkota Long Wei memilih Lady Meng, putri Jenderal Agung, untuk menjadi permaisurinya. Gadis Keluarga Lin itu sekarang tidak lebih dari seonggok barang rongsokan yang menanggung malu di ujung usia mudanya. Sungguh aib bagi wilayah selatan."
Cemoohan demi cemoohan itu sengaja ditiupkan, mengalir dari mulut ke mulut seperti angin beracun yang sengaja dirancang untuk meruntuhkan harga diri Keluarga Lin. Namun, di dalam paviliun belakang Kediaman Lin, sang subjek pembicaraan justru duduk dengan ketenangan yang nyaris tidak wajar. Yue’er sedang menghaluskan ujung kuasnya, matanya menatap tenang ke arah luar jendela tempat dedaunan bambu mulai berguguran. Dia tahu betul, ini barulah ombak kecil dari badai yang sesungguhnya.
Ketenangan itu akhirnya benar-benar terusik pada suatu siang yang terik.
Sebuah kereta kuda mewah dengan hiasan tirai sutra ungu dan dikawal oleh empat prajurit bersenjata lengkap berhenti tepat di depan gerbang Kediaman Lin. Kereta itu membawa lambang resmi yang sangat mencolok: Burung Phoenix Sayap Emas, segel pribadi milik Permaisuri Baru Kekaisaran, Meng Chuqiao.
Kehadiran kereta megah ini sontak mengundang perhatian warga distrik barat. Dalam waktu singkat, kerumunan masyarakat, pedagang pasar, hingga para mata-mata dari kamar dagang saingan berkumpul di pinggir jalan, berbisik-bisik menebak drama apa lagi yang akan menimpa keluarga pejabat rendahan tersebut.
Pintu gerbang Keluarga Lin terbuka. Tuan Lin dan Nyonya Lin keluar dengan wajah pucat, diikuti oleh Lin Feng yang sudah mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Namun, sebelum Lin Feng sempat melangkah maju, sesosok bayangan anggun berbaju katun hijau bersahaja melangkah mendahului mereka dengan dagu terangkat. Itu Yue’er.
Dari atas kereta kuda, turun seorang kasim paruh baya bernama Kasim Zhao. Dia adalah salah satu orang kepercayaan Meng Chuqiao di istana dalam. Kasim Zhao berjalan dengan langkah yang disengaja angkuh, memegang sebuah kotak kayu panjang berlapis kain kuning, sementara sepasang matanya menatap rendah ke arah halaman Kediaman Lin yang sederhana.
"Nona Lin Yue’er," suara Kasim Zhao melengking tinggi, sengaja dikeraskan agar seluruh kerumunan di luar gerbang bisa mendengar setiap patah katanya. "Hamba datang membawa titah titipan dan kemurahan hati dari Yang Mulia Permaisuri Meng Chuqiao."
Yue’er tidak berlutut. Dia hanya berdiri tegak, menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan ketenangan seorang mantan calon penguasa istana. "Katakan."